Penulis: Aulia Rahmah
(Kelompok Penulis Ideologis)

Di tengah wabah Covid 19 hari ini, banyak rumah sakit (RS) yang membutuhkan APD (Alat Pelindung Diri) bagi tenaga kesehatan. Bahkan tidak sedikit Rumah sakit yang kekurangan APD, seperti yang diberitakan oleh http://www.liputan6.com (20/3), RS Unair kekurangan alat pelindung diri untuk tangani pasien Covid 19.

Fakta ini tentu bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh Menteri keuangan, Sri Mulyani bahwa Indonesia punya peluang untuk menyuplai alat pelindung diri dan hand sanitizer bagi negara lain yang tengah dilanda pandemi Covid 19. Alasannya Indonesia punya pabrik dan infrastruktur untuk memproduksi barang yang kini dibutuhkan dunia itu, dilansir oleh m.jpnn.com (27/3).

Dengan melihat dua fakta di atas maka tentu kita akan bertanya “Indonesia mampu memproduksi APD, mengapa APD mengalami kelangkaan dan harganya sangat mahal? Mungkinkah kelangkaan APD karena barang tersebut diekspor, padahal APD sangatlah dibutuhkan dan menjadi sesuatu yang sangat penting bagi pelayanan RS yang merawat pasien Covid 19?

Negara memproduksi barang dan mengekspornya adalah kegiatan yang lumrah dilakukan. Ini menunjukkan karakter negara yang sehat. Tetapi kegiatan ekspor barang akan menjadi masalah jika negara mengabaikan kebutuhan dalam negeri. Sehingga barang yang dibutuhkan masyarakat tersebut menjadi langka dan tentu harganya akan melonjak naik menjadi mahal. Seperti APD bagi tenaga kesehatan ini.

Jika negara tidak dapat menghentikan kegiatan ekspor APD di tengah kelangkaan barang tersebut, dan menjamin tersedianya barang-barang lainnya yang dibutuhkan di tengah wabah melanda, maka hal ini mengonfirmasi lemahnya Sistem Kapitalisme Liberalisme yang saat ini diemban negara ini. Tanggung jawab memelihara kelangsungan hidup rakyat terkalahkan oleh kepentingan meraup keuntungan materi yang lebih besar.

Inilah karakter pemerintah yang kurang serius dalam menangani darurat wabah Covid 19 yang telah memakan korban nyawa yang sudah begitu banyak. Pemerintah masih saja enggan menggunakan wewenangnya untuk mengabdi dan menunjukkan pengorbanan yang tulus demi rakyatnya. Model pemerintahan yang semacam ini akan terus berulang selama Umat Islam masih saja tertipu dengan sistem kehidupan asing yang telah merebak ditengah-tengah kehidupan seperti Demokrasi, Sekularisme, dll. Umat Islam harus berusaha dengan semangat yang tinggi untuk menyudahinya, dan menghadirkan wacana peradaban Islam yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Saw. Sistem kenegaraan yang mampu mencetak pemimpin sholih yang mudah menggerakkan pikiran dan wewenangnya demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang dipimpinnya.

Dikisahkan dalam buku – buku sejarah, Kholifah Umar bin Kaththab pernah memanggul sendiri sekarung gandum untuk diberikan kepada seorang janda yang anaknya menangis di malam hari. Beliau juga pernah berhenti makan daging ketika Madinah dilanda paceklik. Atas landasan ukhuwah Islamiyah pula bencana mudah teratasi. Dengan tersiarnya wabah paceklik di Madinah, serentak gubernur di Syam dan wilayah yang lain mengirimkan bahan makanan untuk membantu mengatasinya.

Sungguh seperti langit dan bumi jarak antara pemimpin saat ini. Di tengah wabah pun prioritas kerja penguasa bukannya ringan berkorban untuk rakyatnya, yang terjadi justru sebaliknya, pemerintah dari level pusat hingga daerah mempertaruhkan nyawa rakyatnya demi mengokohkan karakter bisnisnya. Entah sampai hitungan berapa korban Covid 19 akan terhenti. Kini kita dihadapkan dengan harga-harga APD, gula, telor yang beranjak naik harganya. Sungguh sistem asing bukanlah sistem yang manusiawi. Karakter pengusaha yang menempel pada penguasa saat ini bukanlah karakteristik pemimpin idaman. Sangatlah urgen menghadirkan sistem teladan dari Nabi kita untuk mengatasi wabah Corrona. Wallahu a’lam.