woman-holding-boy-2894151 (2)Penulis: Emma Sarah

10 tahun yang lalu, ketika langit masih berwarna merah saga, aku menerima email dari sebuah universitas Islam yang ada di kota Semarang. Yaa email yang sudah lama aku tunggu – tunggu, berisi kabar bahwa aku dinyatakan secara resmi diterima sebagai dosen, menyisihkan 95 orang yang mengikuti tes penyaringan dosen kala itu. Sungguh, kabar yang membuat aku begitu bahagia dan bersyukur. Bagaimana tidak bahagia dan bersyukur, disaat kondisi suami masih berstatus mahasiswa tingkat akhir dan hanya nyambi bekerja sebagai guru ngaji dengan bisyaroh yang sangat kecil, dan Allah sudah karuniakan buah hati berusia 13 bulan, belum lagi harus membayar biaya kost bulanan, kemudian Allah menghadiahkan rezeki pekerjaan yang menurut sebagian orang sangat bergengsi.
“Abi, Alhamdulillah Ummi diterima sebagai dosen,“ ucapku bahagia sambil memperlihatkan email kepadanya.
“Masyaa Allah, Alhamdulillah ya, Mi. Allah dan pihak universitas berarti percaya dengan kemampan Ummi,“ ujarmu saat itu sambil tersenyum. “Tapi kalo boleh Abi kasih saran, sebenarnya universitas itu bukan tempat terbaik untuk Ummi mengajarkan ilmu“
“Kenapa, Bi. Adakah yang salah dengan tempat itu ?“ tanyaku serius.
“Bukan tempatnya yang salah, Mi. Tapi ada visi dan misi Ummi yang bertolak belakang dengan universitas itu, khususnya dalam Islamic worldview dan oriented akhirat“ jawabnya tak kalah serius.
“Visi dan misi yang bertolak belakang dengan Ummi? yang mana, Bi? bukankah dulu ketika Ummi ikut test calon dosen, Abi mengizinkan? lalu sekarang Abi bilang tempat itu tidak cocok untuk Ummi?“ cecarku dengan nada tinggi.
“Maafkan Abi ya, Mi. Ada banyak hal yang Abi pertimbangakan, mulai dari visi misi, pergaulan dan tentunya lingkup budaya akademiknya.“ Jawabnya coba menjelaskan dengan sabar sambil memegang tanganku.
“Jangan egois Bi! pekerjaan ini sudah lama Ummi nanti – nantikan, sekarang setelah Allah beri kesempatan kepada Ummi, Abi tidak setuju, Abi bilang itu bukan tempat terbaik untuk Ummi!“
“Abi hanya memberikan saran, Mi. In syaa Allah sudah dipertimbangkan dengan matang tentang baik buruknya, maslahah dan mudharatnya untuk keluarga kita, khususnya untuk Ummi. Abi merasa Ummi akan lebih cocok mengajar di kelas anak – anak TK atau SD mungkin“.

     Sungguh, saran dari suami telah meredupkan semangatku, kecewa, kesal, marah membuatku mendiamkan suami selama 3 hari, sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihiwassalam tidak memperbolehkan seorang muslim mendiamkan suadaranya lebih dari tiga hari. Suami yang aku harapkan mampu menjadi penyemangat hidup, justru mengecewakanku. Sungguh, pekerjaan sebagai dosen yang aku idam – idamkan, dan sebagai salah satu jembatan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di luar negeri, pupuslah sudah. Hingga membuatku berpikir negatif, mungkin suami iri denganku, mungkin suami takut tersaingi, bahkan kekecawaan ini berlarut hingga berbulan – bulan. Naudzubillahi mindhalik.

     Hingga setahun kemudian Allah memberikan rezeki pekerjaan lagi, ya aku diterima sebagai guru di sekolah taman kanak – kanak Islam, sebuah tempat yang pada akhirnya membuatku mengenal sunnah dengan baik, tempat yang membolehkan para gurunya membawa anak balitanya dibawa ke sekolah, agar mereka tetap bisa memantau anaknya tanpa rasa was –was dan tidak kehilangan pahala mendidik anak. Tempat yang membuatku hijrah dalam memaknai kehidupan di dunia ini dan hijrah secara pakaian tentunya, tempat yang tidak mencampur baurkan pergaulan dengan yang bukan mahramnya. Ya, pekerjaan inilah yang pada akhirnya menuntutku mempunyai stok kesabaran ekstra, pekerjaan berat karena aku dituntut mampu merancang pembelajaran untuk dasar kemampuan seorang anak di dalam kehidupan awal mereka, pekerjaan yang menuntut harus multitasking, mengajarkan pondasi dasar keimanan pada mereka, bukan semata – mata mengajari menyanyi, menggambar, mewarnai, menulis, tapi lebih dari itu.  Semua ilmu tentang aspek perkembangan anak dari mulai kognitif, fisik motorik, sosial emosional, bahasa, seni, moral, nilai agama harus aku kuasai, menjadi teladan dan panutan dalam segi moral dan adab bagi mereka, dunia pekerjaan yang tentunya berbanding terbalik dengan dunia mahasiswa.

     Pekerjaan yang dianggap sepele oleh sebgian orang, pekerjaan yang katanya tidak membutuhkan kecerdasan intelektual tinggi bagi gurunya dan secara gaji juga sangat kecil. Tapi justru inilah pekerjaan mulia untukku, sebagai jawaban atas do’a – do’a yang dilangitkan oleh suamiku, khususnya di sepertiga malam akhir. Jujur aku tidak pernah meminta pekerjaan ini kepada Allah. Di tempat kerja ini pulalah, aku banyak mendapatkan ilmu yang sebenarnya, ilmu yang berorientasi akhirat, dikelilingi teman-teman yang shalihah, selalu mengajak untuk menghafal Al Qur’an, teman–teman yang giat mengajak untuk berderma kepada fakir miskin dan yang pasti aku begitu mudah memakai pakaian syar’i bahkan bercadar. Sungguh, tidak bisa dibayangkan, ketika dulu aku tidak mau menuruti saran suami, mungkin aku menjadi orang yang jauh dari mengenal sunnah, mungkin aku menjadi orang yang tidak berorientasi akhirat dalam menjalani kehiduapan ini, mungkin aku tidak bisa dengan mudah menghafal Alquran, dan banyak kemungkinan negatif lainnya yang akan aku dapatkan.

     Satu hal yang patut aku syukuri juga adalah, Allah menjagaku dari ikhtilath dengan yang bukan mahramnya, dan aku dengan mudah bisa menggunakan cadar, karena ternyata ada peraturan larangan bercadar bagi dosen perempuan dan para mahasiswi yang kuliah di universitas tersebut. Sungguh, suami adalah seorang qowamm atau pemimpin bagi istri dan keluarganya. Bahkan dalam Q.S. An Nisaayat 34, Allah berfirman :
ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ ۚ وَٱلَّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهْجُرُوهُنَّ فِى ٱلْمَضَاجِعِ وَٱضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا۟ عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Artinya:“Kaum laki – laki adalah pemimpin bagi wanita oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka ( laki – laki ) atas sebahagian yang lain ( wanita ), dan karena mereka ( laki – laki ) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara ( mereka ). Wanita – wanita yang kamu khawtirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari – cari jalan untuk menyusahkannya, Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar

     Sebagai seorang istri kewajiban kita adalah taat terhadap suami, selama suami tidak memerintah kepada kemungkaran, sampaikan udzurmu bila kamu tidak mampu, jika kamu wahai para istri bersabar dan mentaati perintah suami, yakinlah Allah akan membalasnya dengan Surga. Sebagaimana Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam bersabda :
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, melaksanakan puasa Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk Surga dari pintu mana saja ia kehendaki“ ( HR Ibnu Hibban ).

     Bahkan karena sangat mulianya seorang suami, seorang istri yang hendak melaksanakan puasa sunnah pun harus izin terlebih dahulu kepada suaminya”
Ketika seorang istri taat dan patuh kepada suaminya serta selalu mencari ridha suaminya, akan menjadi sebab bagi seorang istri mendapatkan kebaikan di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, pembangkangan seorang istri terhadap suaminya, akan berakibat mendapatkan laknat Allah dan siksa neraka. Wahai suamiku, sungguh Allah hadirkan rasa nikmat dan keberkahan saat aku mengajari murid – muridku di TK , semua itu karena aku mentaatimu dalam kebaikan dan tentu atas ridhamu. Pintaku pada Allah, jangan cabut rasa nikmat ini dan hilangkan rasa lelah ketika aku mengajari murid – muridku di TK, karena murid yang aku ajar laksana butiran – butiran tasbih yang kelak akan membawaku ke Jannah-Nya. Terima kasih suamiku, kamulah penyelamat dunia dan akhiratku dan penyelamat bagi keluargamu, sebagaimana dalam QS At Tahrim ayat 6 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Hai orang – orang yang beriman, peliharalah dirimu dan kelaurgamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat – malaikat yang kasar , keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengajarkan apa yang diperintahkan.“

*
Note:
1. Bisyaroh adalah gaji atau upah sebagai balasan kepada orang yang telah bekerja atau mengajarkan ilmu
2. Islamic Worldview adalah pandangan hidup seorang muslim, yang digunakan untuk menafsirkan berbagai konsep esensial dalam kehidupan dan menjadi petunjuk, untuk memilih sikap yang tepat terhadap berbagai fenomena kehidupan.
3. Ikhtilath adalah percampur bauran bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya.
4. Qawwam adalah pemimpin. Seorang laki-laki menjadi Qawwam di rumahnya, karena Allah lebihkan mereka dari perempuan dan karena mereka menafkahkan harta mereka, untuk para perempuan yang menjadi tanggung jawab mereka.