Penulis: Sarah Ummu Ad-Dawaa’ (Ibu Pembelajar)

white-petaled-flowers-2120087
doc. Pexels

 

Ad-Dawaa’u Syafiq Qolbu…. Dialah putri semata wayangku yang mulai beranjak baligh, obat penawar hati kami, Ummi Abinya.

Rabu pagi dua pekan yang lalu, pukul 8 pagi saat putriku tak mau mandi, sedangkan dia sudah harus standby pukul setengah delapan pagi untuk melaporkan hafalan Alquran kepada ustazahnya. Apalagi, pukul delapan pagi aku juga harus menyiapkan daring materi pembelajaran untuk murid-muridku. Namun, ada saat di mana kami sebagai orangtua mulai kehabisan kesabaran mengurus putri semata wayang kami. Mungkin, karena dia putri semata wayang, maka kemanjaan dan rasa egonya sangat tinggi. Nah, di saat momen pandemi seperti ini, justru kami harus mempunyai stok samudera kesabaran yang lebih luas dan dalam. Hari di mana kami terbiasa melakukan aktivitas rutin, bangun sepertiga malam akhir, jam 6 pagi harus sudah sampai sekolah. Tapi karena musibah pandemi ini, jadwal menjadi sedikit crowdid.

Pukul 6 pagi.

“Mbak, mandi dulu, gantian sama Ummi,” perintahku pada putri semata wayangku.

“Nanti, Mi. Ummi aja dulu,” jawabnya dengan tangan masih asyik memainkan kura-kura.

“Ya, sekarang Ummi mandi dulu, ya? Nanti gantian sama Mbak Dawaa’.”

“Siap, Mi!” jawabnya dengan gaya seperti militer.

15 menit kemudian….

“Ummi sudah selesai mandi, Nak. Sekarang gantian anak shalihah mandi,” perintahku sekali lagi.

“Iya, Mi. Nanti,” jawabnya dengan terus asyik memegang kura-kura

“Jangan nanti, Mbak. Sekarang mandi, shalat Dhuha kemudian sarapan. Siap-siap laporan tahfidz dengan Ustadzah, ya?”

“Beres, Mi,” sembari tangan mengacungkan jempol.

Pukul 7 pagi, semua pekerjaan domestik seperti nyuci, ngepel, masak, dan menyiapkan sarapan sudah selesai. Ku lihat masih ada waktu 45 menit lagi untuk memulai kelas daring. Segera kuambil laptop dan buku catatan, ah, rasanya begitu semangat, karena dengan daring rindu pada murid-muridku terobati.

“Abi, kalau mau sarapan duluan aja ya, Ummi nanti sarapannya habis daring saja,” kataku pada suami.

“Iya, Mi. Dawaa’ sudah mandi belum?,” tanya suami.

“Sudah, Bi. Ada di kamar tuh, sekalian suruh sarapan bareng Abi,”

Tok…, tok…, tok…, suami mengetuk pintu kamar putri kami.

“Mbak Dawaa’, ayo sarapan dulu sebelum setoran tahfidz,” ujar suami.

“Iya, Bi,” jawab putri kami dari dalam kamar dengan pintu tertutup.

Pukul setengah delapan….

“Mbak Dawaa’, segera keluar. Ustadzah sudah online segera laporan,”

“Iya, Mi. Sebentar lagi,”

“Ayo, ini sudah setengah delapan. Segera laporan,” ujarku mulai tidak fokus.

“Iya, Mi. Cerewet banget, sebentar lagi ya sebentar lagi! tidak sabaran banget nih Ummi,” jawabnya dari dalam kamar.

Karena aku sudah tidak sabar, segera ku menuju kamar putriku, lalu ku buka pintunya.

“Ya Allah, jadi dari tadi Mbak Dawaa’ belum mandi. Ini kenapa juga kura-kura taruh di kasur!,” ujarku mulai kesal.

“Aku lagi malas mandi, Ummi!” jawabnya enteng.

“Loh, setengah delapan Mbak Dawaa’ setoran hapalan, Ustadzah sudah nunggu. Sekarang sudah jam setengah delapan lebih,”

“Aku malas mandi, Mi! Aku tidak mau mandi pokoknya!” nada suaranya mulai meninggi.

“Mandi sekarang juga!” aku mulai emosi.

“Aku tidak mau mandi, pokoknya aku tidak mau!” jawabnya dengan tersedu.

“Mbak Dawaa’ mandi sekarang, cepat!,” Abinya kali ini turun tangan.

“Tidak mauuuu, aku tidak mau mandi!” kali ini dengan nada tinggi dan menangis.

“Mandi! atau kura-kuranya Abi lepas di sungai,” perintah Abinya lagi.

Kemudian pada akhirnya putriku mandi. Kami lelah pagi itu. Setelah putriku keluar dari kamar mandi, kulihat ada genangan di pelupuk matanya, bibirnya bergetar. Matanya menatapku sendu, sorot matanya terlihat ingin mengadu.

“Makanya, kalau Ummi nyuruh mandi ya segera mandi, Mbak?” ujarku dengan sedikit masih ada rasa kesal.

Air mata putriku pun, kembali jatuh membasahi pipinya yang halus. Putriku lalu masuk kamar, lantas berucap dengan suara bergetar, “Aku tuh kesepian, aku hanya berteman dengan kura-kura, aku pengen punya adik ya Allah.”

Deg! Ternyata putriku kesepian, sehingga dia membawa kura-kura ke kamarnya sebagai teman bermain, sekaligus sebagai bentuk ekspresi atas keinginan yang lama terpendam. Mungkin selama ini putriku ingin mengatakan, “Abi Ummi aku kesepian, aku ingin punya adik.”

Namun, karena mungkin selama 11 tahun ini dia tidak punya adik, membuat kami tak menyadari hal itu dan lebih menonjolkan emosi. Seketika aku memasuki kamarnya, lantas ku peluk putri semata wayangku, lantas ku elus rambutnya. Dia menagis dalam pelukanku dan akupun menangis sambil menciumi keningnya. Kuusap lembut rambutnya.

“Mbak Dawaa’ kesepian? Mbak Dawaa’ ingin punya adik?”

“Iya, Mi,” jawabnya lemah dengan terisak.

“Kita langitkan doa bersama ya, Shalihah. Agar Allah segerakan Mbak Dawaa’ punya adik, biar Mbak Dawaa’ tidak kesepian,” ujarku lembut dengan mengelus rambutnya.

“Iya, Ummi. Ummi juga jangan sedih ya kalau aku minta Adek padahal katanya dokter usia Ummi sudah rawan. Nama Ummi kan Sarah, seperti ibunda Sarah istrinya Nabi Ibrahim punya anak kan usianya sudah tua ya, Mi,” ujarnya dengan menatap lembut wajahku.

“Iya, shalihah. Kenapa selama ini tidak pernah bilang sama Ummi Abi kalau Mbak Dawaa’ kesepian?”

“Aku tidak berani bilang, aku kasihan Ummi, nanti Ummi pikiran malah jadi sakit. Aku tidak mau Ummi sakit,” jawabnya sambil memeluk erat pinggangku.

Ku rebahkan putriku dipangkuan, lalu dia menatap lembut mataku.

“Ummi tahu tidak, kata Rasulullah? seorang wanita bisa masuk dari pintu surga mana saja, aku hapal haditsnya loh, Mi.

إِذَا صَلَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.” (HR. Ibnu Hibban).

Ummi pantas memasuki surga melalui semua pintu. Aku sayang Ummi,”  katanya lagi dengan menatap dalam wajahku.

‘Yaa Allah, betapa tak perhatiannya diri ini pada putriku. Di usia yang beranjak baligh sebenarnya dia ingin punya seorang adik, tapi dia tidak berani mengatakan kepada kami,  karena takut akan menjadi beban pikiran kami.

Ya Allah, betapa tak bijaknya diri ini dalam memahami putriku, sedangkan dia begitu bijak memahami keadaan kami orangtuanya.

Ya Allah, dialah putri semata wayangku, seorang putri yang Allah anugerahkan ditengah-tengah keluarga kecil kami, seorang putri yang pertama kali memanggilku, Ummi.

Ya Allah, dialah putri semata wayangku, yang kelak akan meneruskan doa dan estafet perjuangan kami, ketika kami sudah tiada. Rabbli Habli Minasshalihin. Aamiin Yaa Rabbana.

Semarang, 6 April 2020