Dua minggu sudah terlampaui, setelah pengumuman pemerintah untuk meliburkan sebagian aktivitas rakyat untuk memutus mata rantai wabah Corona. Awalnya aku gembira ria, membayangkan bisa kumpul bareng dengan segenap anggota keluarga yang selama ini jauh terpisah. Si Otong yang sedang mondok di pesantren pun dipulangkan, ayem benar hati emak ini rasanya. Bisa ketemu dan memastikan anak dalam kondisi sehat wal afiat

Suami yang biasa kerja 12 jam kadang masih ditambah lembur kini jam kerjanya dipangkas menjadi 8 jam saja. Uhuy, berarti sore hari sudah pulang ada sisa waktu untuk emak bisa bermanja-manja.

Memang jika ditimbang-timbang segala sesuatu pasti ada untung ruginya, belum juga sebulan acara kumpul-kumpul pun ternyata terasa siksanya. Memang sih bukan siksa neraka, naudzubillah deh ya. Aku sebagai emak mulai sakit pinggang jadi tambah kerjaan, mulai dari cucian baju yang padat merayap numpuk bagai antrian hari lebaran di jalan tol. Tumpukan piring kotor tiap menit menjulang tinggi.

Setiap 4 jam sekali si Otong dan adik-adiknya yang berjumlah 7 orang selalu berteriak “Mak, lapar! Mana lauknya?” Padahal sebelum adzan subuh emak juga sudah gedubrakan didapur buat persiapan perut pagi hari. Siang juga belum lewat tapi si boncil sudah antri berbaris teriak-teriak, “Mak, minta uang jajan!”

Dua minggu berjalan, rasanya emak pening dan demam. Bukan karena tertular Corona tapi terimbas efeknya juga. Dompet emak habis ludes tinggal selembar, mana token listrik juga gak tahu diri ikut bernyanyi minta diisi dan hebohnya lagi, kantor bapaknya ditutup sementara tidak beroprasi jadi gajinya juga separuh yang dikasihkan.

Ya Alloh, emak benar-benar pusing nih. Menunggu keajaiban pemerintah kasih subsidi. Buka kulkas isinya cuma es batu dan air putih padahal ekspetasi ada es doger atau es teler segar yang dijumpai. Nelan ludah saja manakala orek telur tauge tersisa remah-remah di meja makan. Pingin nangis tapi apa yang harus ditangisi, mau ketawa juga apa yang lucu? Perut lapar perasaan hampa. Biasa emak kalau habis uang belanja ditengah bulan mata bisa juling sebelah. Sudahlah dari pada kepala cenat cenut mikirin periuk nasi buat besok pagi, semua anak kukumpulkan. Mulai dari si Otong, si Sotong, si Botong, si Joy, sampai si Santuy, si Sulay dan si Alay kusuruh duduk manis sambil bawa pensil dan buku gambar masing-masing.

Aku sebagai emak mau bikin lomba melukis dan tema gambarnya adalah melukis emak yang sedang tidur siang dan yang paling lama itulah pemenangnya. Jadi aku rebahan dikasur sambil merem dan anak-anak biar menggambar emaknya yang lagi bobok cantik ala Syahrini. Timer 3 jam dari mulai bel. Tingtong … “mulai!” Anak-anak segera beraksi dan aku mulai pose tidur beneran (ahay lumayan emak bisa terlelap tanpa ada yang gangguin berisik minta uang jajan, pan anak-anak sudah mulai asik gambar emaknya)

Ah, Corona. Kapan sih kamu berlalu pergi?

Mencoba menulis tentang Corona dari sudut pandang yang berbeda.