Oleh: Julia

Ayah,
Bagiku laksana pelita jiwa yang mengukir raga
Manik hitammu memandang jauh kedepan memberikan banyak petuah bak sang petunjuk arah
Gurat lelah di keningmu adalah gambaran sang pemilik cinta di sepanjang sejarah

Ayah,
Dibahumu kusandarkan bebukitan asa juga tempatku untuk pulang berbagi keluh kesah
kadang kala isak tangis sering terulang
jika tak sengaja seuntai kalimat terngiang
Kurindukan usapan teduh dari jemari kekar yang menentramkan aku, gadis kecilmu

Ayah..
Dalam lorong yang riuh sering kali aku terenyuh
mengingat suara derit mengayuh
pergi menjauh

Ayah,
Ingin ku berlari
menerjang tiap rinai menebus khilafku padamu
memperbaiki tiap detik
dan terdekap dalam diri sebelum engkau pergi

Ayah,
Ingin rasanya ku menjerit, menangis
melihatmu memikul beban dengan tragis
menghantam bebatuan menghempas rasa sakit

Kini dimensi waktu dan jarak memisahkan kita
walau begitu tak akan ada yang berubah
sejauh apapun aku pergi
kau lah tempatku untuk kembali

Ayah..
Kini aku percaya
pergiku untuk merenggut gelar sarjana tak akan sia-sia
walau kutahu lelah serta deraian keringatmu tak akan bisa kubalas
bahkan dengan tumpahan darah

Hanyalah do’a dan mahkota surga yang ku pintakan pada-Nya untukmu, Ayah