oleh: Aulia Rahmah
(Kelompok Penulis Peduli Umat)

Bak buah simalakama program asimilasi dan integrasi bagi napi yang digalakkan Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly. Berharap menyelamatkan warga Lapas dari covid 1, justru kini warga yang lain terancam harta dan jiwanya. Beberapa hari yang lalu Yasona telah mengeluarkan 30. 432 napi dengan alasan memutus penyebaran Covid 19 di Lapas dan menghemat anggaran, kini 2 orang residivis beraksi kembali di Surabaya.

M. Bachri (25) dan Yayan Dwi Kharismawan (23) ikut program asimilasi dan integrasi di Lapas Lamongan. Namun beberapa hari menghirup udara bebas keduanya ditangkap karena menjambret lagi. Kanit Reskrim Polsek Tegalsari Iptu I Made membenarkan kejadian ini dengan menuturkan “Mereka baru keluar 3 April lalu”, dilansir dari m.detik.com (12/4).

Sungguh menyesakkan hidup di tengah iklim yang Sekuler dan Kapitalis saat ini. Seseorang dengan mudahnya berbuat kriminal, tanpa ada beban dosa dan rasa takut pada hukuman. Mereka dengan beringasnya mengambil harta milik orang lain bahkan sering juga sampai mengambil organ tubuh dan menghabisi nyawa korban.

Tak ada kontrol individu tercermin dari setiap individu. Dengan menjadikan nilai moralitas dan akhlak yang baik sebagai warna dalam perilakunya yang dapat mencegah dari berbuat nista. Apalagi kewajiban- kewajiban agama seperti meneladani kehidupan Rasulullah Muhammad Saw dalam seluruh aspek kehidupannya.

Ditambah gejala sikap individualis yang merebak di masyarakat, menambah celah bagi tindak kejahatan tetap ada. Kepedulian kepada tetangga yang kekurangan, saling sapa dan mengenal orang-orang disekelilingnya hingga terwujud masyarakat yang solid yang dapat menegakkan amar makruf nahyi munkar, kini mulai langka.

Kita juga patut mengkritisi segala kebijakan negara ini. Mengeluarkan napi dari Lapas terbukti bukanlah solusi yang jitu. Belum tuntas ancaman nyawa dari virus Corona, negara justru memberi ancaman baru dengan tindakan kriminal para residivis. Tiga puluh ribu napi bukanlah jumlah yang sedikit, dengan dilengkapi teknologi canggih HP android, aksi mereka kini terkoordinasi dengan baik. Bisa jadi aksi mereka lebih sadis dari saat ini.

Sudah banyak tawaran solusi dari berbagai pakar, tak luput juga dari para ulama panutan umat. Pada Forum Ijtimak Ulama di Jakarta yang lalu, para ulama mengeluarkan resolusi untuk mengambil Syariat Islam Kaffah melalui institusi Khilafah sebagai alternatif solusi untuk mengeluarkan Indonesia dari keterpurukan dan berbagai ragam kedzaliman.

Sistem kapitalisme yang saat ini menjadi motor penggerak kehidupan bernegara menjadi pemicu melemahnya kontrol individu, masyarakat, dan negara. Konsep politik dan ekonomi Kapitalisme hanya melindungi dan menjamin terpeliharanya kehidupan segelintir orang saja, penguasa dan pengusaha. Sedangkan rakyat dibiarkan berjuang sendiri mempertahankan kehidupannya di tengah monopoli Sumber Daya Alam yang menjadi hak milik rakyat. Rakyat juga terus diperas dengan berbagai ragam pajak yang memberatkan, dikriminalisasi jika menolak kebijakan negara dan harus terus mendukung dikala pemilu.

Dalam kondisi yang melemah saat ini harusnya menjadi tantangan bagi aparatur negara untuk mencari solusi dengan menggandeng ulama untuk melakukan koordinasi. Ulama-ulama yang memperjuangkan Syariat Islam menginginkan kebaikan bagi kehidupan, laik didukung dan diapresiasi. Bukannya dikriminalisasi dengan menuding upaya para ulama ini sebagai tindakan makar bahkan tak sedikit ulama yang dituduh teroris sehingga dijatuhi hukuman mati dan penjara seumur hidup.

Patut kita renungkan Firman Allah didalam Alquran surat Al Baqarah ayat 257 ini ;
” Allah pelindung bagi orang-orang yang beriman, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya”
Dalam Tafsir Al Mukhtashar dijelaskan, Allah senantiasa melindungi orang-orang mukmin dengan pertolongan, taufik, dan penjagaanNya. Dia (Allah) mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan.
Menurut ayat diatas solusi yang kompeten untuk bangsa ini adalah Syariat Islam kaffah

dibawah institusi khilafah seperti yang dicontohkan oleh Rosulullah dan para sahabatnya. Sistem yang dilandasi sifat kasih sayang, kedermawanan, dan tanggung jawab. Khilafah menjamin kesejahteraan rakyat bukan hanya perkapita tetapi orang per orang. Khilafah juga akan menjamin tegaknya keadilan sehingga menutup berbagai tindak kriminalitas. Khilafah juga terbukti mampu keluar dari wabah paceklik di Madinah, dan wabah thoun di Syam. Andai Khilafah sudah tegak di tengah wabah Corona saat ini, tentu Khilafah mampu memutus penyebaran virus dan mudah mengeluarkan pengorbanan untuk memelihara kehidupan dengan memberikan bantuan walau kepada warga asing diluar negara. Wallohu A’lam