Oleh : Sri Wahyu Indawati, M.Pd
(Inspirator Smart Parents)

Siapa yang nggak tahu lagu Aisyah Istri Rasulullah. Berbagai versi lagunya asyik juga untuk didengar. Apalagi ada yang pakai gitar akustik. Hmmm, membangkitkan jiwa musik yang sudah lama terkubur. Eaaakkk, dulu jaman putih abu abu dan almamater, gini gini pernah jadi gitaris. Dulu ya mak, dulu gaes.

Lagu ini viral banget dan kehadirannya sangat tepat disaat Indonesia dilanda pandemik corona. Suami istri pada di rumah kaaannn. Biar ngendorin urat leher yaaa dan nambahin endorfin. Pas dengar, kebayang pengen peluk suami kan mak.

Mak, sebagai pejuang rumahan yang berharap bisa rebahan, kita itu perlu teladan kaaaannn. Biar nggak stres mikirin kerjaan kantor yang diangkut ke rumah, tugas sekolah anak yang harus kelar, dan biar nggak bosan keluar masuk pintu mana pun ketemu soulmate tiap hari. Apalagi mikirin isi dompet yang terus menipis.

Rileks dikitlah. Bahagia itu hak kita mak. Walau suami pulang nggak bawa apa-apa. Kecewa dikit itu biasa mak, lebih baik dikecewain suami daripada dikecewain rezim. Bilangnya listrik gratis dan diskon 50%, ujung-ujungnya… (jawab masing-masing).

Membaca kisah romantis rumah tangga Rasulullah SAW bersama ibunda Aisyah ra. aja udah baper, apalagi dirangkai dalam bait-bait syair yang dikemas apik dengan lantunan melodi. Makin romantis bingits sama soulmate halal. Eaa, sekali lagi, yang jomblo gigit jari.

Buat para jofisa (jomblo fii sabiliLlah), yang naluri berumah tangganya sudah membuncah atau sudah proses ta’aruf-an ya gaeeessss. Daripada pacaran nggak jelas, physical distancing lho ya, deket-deket positif, entah positif hamidung atau corona. AlhamduliLlah, Allah SWT selalu punya cara untuk menurunkan pertolongannya bagi dakwah. Ada kebaikan dibalik corona. Ntar masa karantina selesai, langsung daftar ya, daftar nikaaahhh. Biar petugas KUA pada sibuk ngurusin nikah kalian. Kasian kan kalau sibuk ngurus perceraian seperti di China.

Buat emak-emak. Berkali-kali dengarin lagu itu, nggak bosan-bosan ya mak. Lumayan untuk obat hati menyuburkan benih-benih cinta yang hampir layu. Biar deg deg-an terus rasa madu pengantin baru.

Dan, setelah corona berakhir, populasi pertumbuhan penduduk Indonesia pun bisa-bisa meningkat. Kenapa tidak? Lagunya bikin emak-emak bawaannya pengen romantisan teruuuss sama suami. Ayo mak, segera cek timbangan. Cek juga, berat badannya nambah karena apa. Fahim?

Patut diapresiasi, nggak semua musik itu haram. Ini bentuk dakwah. Apalagi ketahanan keluarga kian rapuh di tengah arus liberalisasi keluarga yang digulirkan oleh ideologi kapitalisme. Supaya kalau ada masalah nggak dikit dikit gugat dan cerai. Dakwah itu perlu dipoles dengan art, sok inggris, maksudnya seni gitu.

Banyak teladan yang bisa kita ambil dari Rasul SAW dan para shahabat/shahabiyah. Mulai dari institusi terkecil yang bernama keluarga, dengan segala romantisme rumah tangga Rasul SAW. Hingga institusi terbesar yaitu negara, dengan segala penerapan syari’at Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah. Rasulullah SAW punya semua itu. Beliau SAW merupakan teladan terbaik sepanjang zaman. Nah, tinggal kita memoles dakwah dengan art dan passion masing-masing sesuai tuntunan syari’at Islam. Wallahu’alam[]

Sumber : https://www.facebook.com/504176050005149/posts/904466496642767/