Oleh: Yanti Maryanti

Suatu yang ditunggu di bulan puasa adalah moment menunggu beduk berbuka puasa, banyak cara orang mengisi waktu luangnya sehingga benar- benar bermanfaat,dan bisa berbuka penuh dengan barokah misalnya ada yang mengisi dengan pesantren kilat, ibu-ibu mengaji, membaca novel, aktifitas menulis dan ada juga kalau disunda dikenal dengan “bahasa ngabuburit.”

Menurut Kamus Bahasa Sunda yang diterbitkan oleh Lembaga Basa dan Sastra Sunda (LBSS), kata ‘ngabuburit’ berarti ngalantung ngadagoan burit, yang artinya bersantai-santai sambil menunggu waktu sore. Burit artinya sore hari, waktu ini biasanya antara jam 15.30-17.30 atau usai salat Ashar, sebelum matahari terbenam.
Sumber; IDN TIMES.

Untuk mengisi waktu, agar tidak jemu dan tidak berpikiran hal yang dapat membatalkan puasa. Maka kita isi waktu luang dengan beberapa permainan tradisional, dengan tidak mengurangi ke khusyukkan kita untuk menjalankan ibadah puasa.

Ada beberapa aktifitas unik yang dilakukan anak-anak zaman dulu, permainan yang cukup unik memiliki nilai sosial dan budaya, yaitu permainan tradisional seperti antara lain ; Permainan Monopoli, Ludo, Ular tangga, Congklak dan bekel. Permainan zaman dulu itu difokuskan dengan interaksi kelompok sehingga anak belajar sistem kelompok, bisa bersosialisasi dan bisa berbagi.

Coba bandingkan dengan permainan anak zaman sekarang, lebih modern, bermain gadget, Hp yang berbasis kuota, notabene orang tua pun harus selalu punya uang, bersifat individu, tertanam rasa egois dan merusak mata karena seharian fokus di Hp. Mulai dari usia balita 3 tahun, ABG, dewasa sampai tua pasti dia anteung artinya kuat seharian bermain Hp atau gadget.

Perubahan sosial ini berdampak akibat berkembangnya teknologi canggih. Coba kita lakukan bijak agar pemakaian teknologi tepat penggunaannya tanpa menghilangkan nilai positif yang semestinya kita tahu atau pahami. Permainan tradisional ini tidak meninggalkan jejak sejarah, dan tidak menghilangkan meninggalkan lingkungan sosial.

Jika permainan tradisional tidak diperkenalkan lambat laun akan hilang dan tidak mampu mempertahankan adat budaya, yang turun temurun peninggalan nenek moyang kita.

Disamping mengisi waktu luang dengan permainan tradisional, bukan berarti yang utama dalam melaksanakan ibadah lalai,
jangan sampai berkurang nilainya, berdzikir, bermuroja’ah dan mempelajari ilmu agama lainnya sambil menunggu berbuka puasa.

Di antara nikmat besar yang sering dilalaikan manusia adalah nikmat mendapatkan waktu luang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang.”

“Selamat menunaikan ibadah puasa.”

#“Writing Web Challenge Rumedia –
#Berkarya Meski Pandemi Corona“.
#Menjagahati#meredamemosi
#Tant3