Oleh : Ummu Ridwan

Suatu pagi yang cerah sinar matahari dengan sinarnya yang terang menerangi seluruh alam.Secerah hati nurl yang pagi itu sedang belanja di pedagang sayuran tiap harinya. Bu Jannah yang tidak biasanya semanis ininsikap dan perlakuannya pada Nurul.

Nurul berkata :” bude tadi cabenya saya ambil ada pakde, saya mencari bude lewat timur rumah saya kejar kok belum pulang di rumah?”

“Oh ya saya tadi lewat belakang rumah, terima kasih ya sudah di bawa cabe saya” jawab Bu Jannah. Yang setiap hari Sabtu ikut titip jualkan cabe pada “abi.”

“Ayo ke rumah saya ada bibit sirsak yang manis biar di tanam Abi” ucap bude Jannah. Lantas mengambilkan buah sirsak yang masih utuh dibelah ujungnya untuk di simpan.Yang 2/3 nya diberikan Nurul. Kemudian di tambah ” oh ya kemarin kamu belum dikasih parselan sama rasidah” sambil berlalu mengambilkan parselan diberikan Nurul. Masih di cabutkannya pohon sirsak yang masih kecil sambil menyerahkan pada Nurul.

“Jazakillah bude” ucap Nurul sambil berlalu pulang membawa belanjaan dan parselan, buah sirsak dan bibitnya.

Sampai di rumah Nurul buka pintu hati-hati karena bawaannya banyak. Dibukanya pintu dengan menaruh semua bawaannya di meja makan. Kemudian Nurul ambil pisau untuk membelah sirsak dan memakannya. “Bismillahirrakhmanirrakhiim Nurul memulai mencicipi buah sirsaknya terasa manis, dilanjutkannya sampai habis.” Masih ada separuh untuk Abi yang masih di sawah.

Ya Allah sungguh manis buah sirsak yang dimakannya sampai membuat pingin ke kamar mandi.” Apa gara-gara makan buah sirsak yang tidak diblender itu menjadikan sembelit ya?” Gumam Nurul dalam hati.

“Bi itu ada sirsak dari bude Jannah silahkan dicicipi” ujar Nurul pada abi.

“Hem kok manis ya buah sirsak ini, biasanya sirsak itu rasanya masam tingkat akut” kata Abi.

“Iya itu pemberian bude Jannah kita juga dikasih bibitnya nanti tanam ya bi” ucap Nurul sambil berlalu memasak dan nyuci di belakang.

“Kok tidak biasanya ya BI bude baik pada pada Nurul, selama ini yang ada Nurul dianggapnya tidak ada?” Ucap Nurul pada abi.

“Ya mungkin karena bude sudah nitip jual cabe pada kita, ditambah tadi Nurul ambilkan cabenya” ucap Abi sambil memilihi cabe yang masih tercampur dengan yang cacar untuk disisihkan.

Kemudian setelah siap semua cabe dimasukkan dalam karung Abi mandi. Setelah mandi berpakaian rapi berangkat dengan sepeda motornya bawa cabe untuk dijualnya.

Nuril yang juga tadi cape ikut memanen cabe tidur sebentar menjelang duhur. Setelah Abi pulang dan membawa hasil jual cabenya berkata “satu kilonya lima belas ribu” kata Abi.

Nurul sambil mengucek matanya yang masih ngantuk baru tidur sebentar, “berapa kilo bi dapatnya?”

“Dua puluh empat kilogram punya kita, yang empat kilogram punya dude jannah sana kasihkan uang bude” ucab Abi pada Nurul.

Sambil berjalan menuju rumah bude menyerahkan uang seratus ribuan “ini bude uang cabe empat kilogram dikali lima belas ribu, sisanya buat bude” ucap Nurul sambil berlalu pulang yang masih mengantuk tidurnya tadi baru sebentar.

“Ini kembaliannya” kata bude Jannah.

“Biarlah untuk bude kembaliannya” kata Nurul yang buru-buru pulang ke rumahnya.

“Ikhlas ya” iya bude.

Setelah mengasihkan uang bude dengan lega Nurul kembali ke rumah berangkat tidur lagi.