Oleh: Founder Rumah Sehat As Syifah

Usus besar adalah bagian dari sistem pencernaan yang sering menjadi sumber masalah. Usus besar layaknya tong sampah yang menampung sisa-sisa makanan untuk dihancurkan.

Caranya, dengan proses pembusukan, kemudian dipadatkan untuk selanjutnya dibuang keluar berupa kotoran.

Saat ini pola makan keluarga Indonesia cenderung kurang baik.
Alhasil, ini menimbulkan gangguan keseimbangan flora di dalam usus yang akhirnya melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Pada usus terdapat bakteri jahat (patogen) dan bakteri baik.
Contoh bakteri jahat misalnya, clostridium botulinumdan ecoli, sedangkan contoh bakteri baik, yaitu lactobacillus acidophilus dan lactobacillus casei yang melindungi usus halus dari serangan bakteri jahat, serta bifidobacterium yang melindungi usus besar dari serangan bakteri jahat dan berfungsi membantu gerak peristalik usus yang mengatur frekuensi buang air besar (BAB) secara teratur.

“Jika bakteri jahat jumlahnya jauh lebih tinggi dibandingkan bakteri baik, maka bisa timbul berbagai gangguan mulai yang ringan sampai gejala infeksi yang berat,”

Gangguan bisa terjadi apabila jumlah bakteri jahat lebih banyak daripada bakteri baik. Antara lain, perut kembung, seriawan, sembelit, diare, sakit di ulu hati, hingga infeksi jamur candida, yang lama- kelamaan bisa terjadi radang usus kronik.

Karena itu, untuk memperoleh pertahanan lengkap selain upaya pembersihan toksin dalam pembuluh darah bisa dilakukan dengan melakukan *Al Fashdu dan Bekam* juga diperlukan terapi cuci usus (colon therapy) atau biasa disebut Detok usus, Gurah Usus atau Colon Cleansing.

Colon cleansing juga bisa digunakan untuk menyembuhkan penderita yang mengalami gangguan pencernaan dan mereka ingin langsing.

Kesehatan tubuh berawal dari usus besar (colon) yang sehat. Pola makan dan pola hidup yang tidak sehat akan menyisakan kerak yang menempel di dinding usus besar. Jika kerak dalam usus tidak dibersihkan, maka akan terjadi pembusukan.

Dampak dari pembusukan itu bukan hanya menimbulkan infeksi seperti diare, juga bisa menimbulkan silent toxin (racun/toksin yang tersembunyi atau tidak nampak) yang diproduksi oleh bakteri jahat. Terjadi banyak keluhan bila seseorang mengalami silent toxin, misalnya saja mudah lelah, masuk angin. Dan itu bisa juga disebabkan karena fungsi livernya terganggu.

Kerak yang menempel di usus besar tidak bisa hilang hanya dengan minum obat pencahar atau pembersihan melalui oral. Dengan demikian, penggunaan terapi cuci usus bisa digunakan untuk membersihkan kerak di dalam usus besar sehingga semua kotoran, kerak yang menempel pada usus tersebut rontok dan keluar bersamaan dengan BAB.

SELAMAT MENCOBA.