Oleh: Maman El Hakiem

Bahagianya orang berpuasa itu ada dua, saat berbuka dan kelak saat berjumpa dengan Allah SWT. Semua manusia itu setelah berakhirnya kehidupan dunia ini pasti akan menemui Allah SWT. Namun, bagi mereka yang telah beribadah puasa dengan penuh penghisaban, teramat rindu dengan janji-Nya, bahwa puasa itu untuk-Ku dan AKU sendiri yang akan membalasnya.

Istimewanya pahala puasa Ramadan itu tentu berbanding lurus dengan tingkat kesulitan dalam menjalaninya. Jika puasanya asal-asalan, sekedar mengugurkan kewajiban, maka tipis harapan mendapatkan pahala yang dirahasiakan oleh Allah SWT tersebut. Semakin putus harapan lagi jika tahu puasa kita termasuk yang hanya menahan rasa lapar dan haus saja, karena Allah SWT tidak butuh puasa yang seperti itu.

Di sini pentingnya kita selalu bermuhasabah agar tidak berhenti berharap. Selalu optimis ada pahala yang bisa dituai dalam kehidupan yang abadi kelak di akhirat. Salah satu cara membangkitkan optimisme itu, tidak lain dengan mengisi hari-hari puasa ini dengan aktifitas dakwah, atau jika bercermin kepada puasanya para sahabat nabi dengan melakukan jihad fii sabilillah. Para sahabat menemukan momen Ramadan sebagai puncak perjuangan dalam meraih kemuliaan Islam di medan pertempuran.

Inilah Ramadan, selain sebagai bulan untuk berinteraksi dengan Al Qur’an, juga sebagai bulan dakwah atau jihad. Bulan untuk menjadikan Al Qur’an sebagai inspirasi kehidupan, bukan hanya sekedar dibaca, tetapi juga dijadikan kajian dan diamalkan. Begitupun seruan dakwah tentu harus lebih massif lagi karena pahalanya berlipat ganda. Saat pintu jihad masih tertutup karena ketiadaan daulah yang menerapkan syariah secara kaffah,maka hanya pintu ijtihad yang masih terbuka lebar. Masalahnya, tentu syarat ijtihad yang harus mampu dikuasai.

Syaikh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitab Syaksyiah Islamiyyah Juz 1, dijelaskan syarat ijtihad diantaranya adalah penguasaan bahasa Arab dan pemahaman tsaqafah Islam secara baik dan mendalam. Sedangkan tangga untuk mencapai hal itu harus dengan keseriusan dalam mencari ilmu dan aplikasi tindakan yang tidak boleh melanggar ketentuan syariat. Maka, inilah saatnya kita serius atau bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, jika ingin meraih kemenangan selepas Ramadan. Jadikan bulan ini sebagai kesungguhan dalam mendakwahkan syariah secara kaffah.

Wallahu’alam bish Shawwab.***