Oleh: Yanti Maryanti

Aktifitas tahun ini, sangatlah jauh berbeda, perubahan itu sangat muncul ke permukaan, saya sebut ini adalah wajah baru, kenapa?
Semua tatanan kehidupan berubah termasuk kegiatan peribadatan di bulan Ramadhan.

Pasalnya dengan pandemi Corona ini, membatasi ruang lingkup kita, sebagai contoh budaya Munggahan orang Sunda sehari, dua hari menjelang puasa, sudah tiada karena sesuai instruksi tidak berada di kerumunan banyak orang, mempercepat penyebaran siklus Corona.

Ternyata tidak hanya sebatas itu, sahur puasa pertama pun, menyesakkan rasa ini, semoga tak mengurangi khidmahnya puasa, sahur tahun ini harus merasakan kesendirian, tak bisa kumpul dengan suami, ketika makan seolah kenyang dengan rinai derainya air mata, serasa kerinduan tak berujung. Kunanti dirimu, hingga petang menjelang, mentari pergi kau tak kunjung jua datang.

Pandemi Corona memisahkan kami, pasalnya suamiku tak bisa pulang sedang mencari nafkah di musim Corona, dia tak bisa mondar mandir bebas pulang kerumah karena kupahami dengan serba dihantui rasa takut yang begitu santer tentang berita pandemi Corona akhir – akhir ini.

Ternyata sahur itu tak butuh serba lauk- pauk yang super enak tetap tanpa kehadirannya serasa tak ada menu istimewa, selain sepiring kerinduan yang ketika itu bisa dinikmati bersama.

Kehadiran buah hati yang meramaikan suasana tidak ada karena kami belum dikaruniai anak, seseorang harusnya dekatpun pergi benar – benar menyesakkan dada. Rasanya pandemi Corona membuat hidup ini lebih dramatis dan berlinang air mata.

Tapi saya harus syukuri pula masih ada yang peduli padaku, ada yang mau menemani, meski sepi dalam keramaian, saya jauh lebih beruntung, diluar sana termasuk suamiku hatinya meronta untuk bisa berkumpul dengan keluarga.

Ada kisah yang jauh lebih miris, hati seorang ibu benar terluka, dia sampai minta surat keterangan asal bisa ke Jakarta jemput anak perempuannya setelah menyelesaikan tugas perkuliahannya, tetapi usahanya tak berhasil tak bisa diizinkan ke luar kota. Keduanya meronta seorang ibu dengan anak putrinya sampai lebaran tak dapat pulang.

Usaha yang kita lakukan, diuji dengan kesabarannya semoga membuahkan hasil, saya berharap pandemi Corona segera berlalu, ada banyak kerinduan yang tertunda di bulan ramadhan ini. Rasanya meski harus makan sama garam nikmat rasanya asalkan bisa berkumpul.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Arti: Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 153

Semoga kami bisa berbesar hati dan mengambil hikmah dari kejadian ini.

“Selamat menunaikan ibadah puasa.”