Oleh: Maman El Hakiem

Jika wabah pandemi corona ini usai, apa yang terjadi ya? Dunia akan mengenang hari-hari yang dipenuhi nama covid-19. Antara tumpahan air mata duka untuk kepergian ribuan nyawa manusia yang telah meninggal dunia. Sesak pilu nasib jutaan orang yang kehilangan pekerjaan. Cerita haru manusia yang sehari-harinya tinggal di rumah saja, ada kehangatan keluarga tetapi juga kejenuhan karena tidak bisa menikmati luasnya alam semesta secara bebas.

Corona telah mengubah kebiasaan manusia dari rutinitas kesehariannya, dari tradisi kerumunan ritualitas agama seperti mudik, mengekang untuk tidak lagi memakmurkan masjid,berpindah menghadirkan rumah agar tidak seperti kuburan. Ramadan di rumah saja, artinya menghidupkan rumah dengan berbagai amal shalih yang pada hari biasa dilakukan di masjid.

Rasulullah saw. karena rumahnya berdampingan dengan masjid, maka aktifitas ritualitas ibadahnya tidak jauh berbeda. Inilah harusnya menjadi hikmah, agar rumah kita tidak jauh dari masjid, artinya perbanyak menjadikan ruang untuk beribadah. Sebaik-baiknya rumah di muka bumi adalah masjid, siapa yang membangun masjid maka Allah SWT buatkan baginya rumah di surga. Masjid artinya tempat bersujud, jadi yang dimaksud tentu bukan masjid yang digunakan untuk umum saja,seperti masjid jami yang biasa kita kenal di negeri ini.

Rumah yang di dalamnya ada tempat untuk shalat atau kajian ilmu, itulah rumah yang terlihat cahayanya oleh penduduk di langit sebagaimana cahaya bintang. Karena itu dengan adanya wabah ini, masih ada celah meraih keberkahan dengan menghidupkan rumah dengan berbagai aktifitas ibadah bersama keluarga. Meraih hikmah ilmu dan silah ukhuwah dengan mengikuti berbagai kajian online melalui kecanggihan teknologi jarak jauh.

Tentang perkara sains dan teknologi, kita diperbolehkan menggunakannya karena itu perkara urusan dunia yang “antum lebih tahu”. Hal ini sebagaimna konteks hadis Rasulullah saw. tentang penyerbukan pohon kurma agar berbuah lebat.Namun demikian, “antum lebih tahu” tidak bisa dijadikan dalil bagi produk pemikiran-pemikiran tertentu yang bertentangan dengan syariat Islam.

Dalil “antum lebih tahu” tidak bisa dijadikan pembenaran bagi produk pemikiran seperti demokrasi,marxisme, leninisme dan lainnya, karena semua itu bukan produk sains dan teknologi, melainkan pemikiran manusia dari asas berpikir atau akidah yang salah. Dimana letak salahnya? Ada pada cara pandang kehidupan yang minus dari keberadaan Allah SWT atau menjadikannya sekedar Tuhan yang pasif dari pengaturan kehidupan. Sebuah pemikiran dengan asas akidah yang salah,akan menjadikan kumpulan pemahaman yang haram untuk diadopsi apalagi disebarkan oleh kaum muslimin.

Wallahu’alam bish Shawwab.***