Oleh: Ida Rohida

Brakkk … Buggg! Dengan sekali tendangan, seketika tubuhku ambruk menimpa barang pedagang yang sedang di jajakan, sekilas terlihat kepanikan di sekeliling, kini semua mata tertuju ke arah keributan, Kupaksakan tubuh kembali bangkit, meski dada begitu sesak terasa.

     “Heh, Lo! mau kabur kemana lagi hah? sampai ke ujung duniapun, gue pasti bakal bisa nemuin lo, camkan itu, ” sebuah teriakan menggelegar terdengar, kian menambah pacu detak jantung.

     “Ia, Bang. Ampun!” hanya kata itu yang sanggup keluar dari mulutku yang kini mulai mengeluarkan darah segar.

     “Angkat, dia!” perintah Bang Remon yang menyuruh anak buahnya untuk menggotong tubuhku yang terkapar.

Meski di tengah kesadaran yang mulai memudar, namun aku masih dapat mengenali suara itu dengan baik, pemilik suara menggelegar itu adalah Bang Remon, orang yang telah berhasil membuat tubuhku ambruk seperti saat ini. dialah bosku, lebih tepatnya majikanku, dan sialnya aku adalah kacungnya yang tak bisa menolak jika sudah diberi perintah, walau hal itu bertolak belakang dengan nuraniku sendiri. Kemudian di sinilah aku! terjebak dalam lembah yang kian gelap, membuatku kesulitan untuk bisa melepaskan diri dari sebuah kehancuran. Semua ini memang salahku, hanya karna diriku yang tak bisa mengobati rasa sakit hati. Semakin lama, rasa sakit itulah yang telah merubahku menjadi pendendam, dendam masa lalu yang membawa ku menjadi seorang manusia tak berhati, yang ada dalam benak, hanya ingin membalas semua dendamku, tak peduli dengan cara apapun, yang terpenting sakit hatiku terbalaskan.

     Namun celakanya, tanpa ku sadari, seiring berlalunya waktu, dendam itupun kian bertambah besar, sehingga menutupi mata hati ini, membuat hatiku semakin membatu dan hilang rasa, mungkin nafsu dunia telah sepenuhnya bersarang dalam diri ini. Jangan pernah tanyakan siapa itu Allah? karna kini hatiku sudah tak percaya lagi dengan adanya Tuhan. Semua yang kini kumiliki, seluruhnya adalah hasil dari jerih payahku sendiri. ‘Di manakah Allah? di saat aku sedang di landa kelaparan, di manakah Allah? di saat mereka menghina dan mezolimiku, di manakah Allah? di saat orang-orang itu menyiksa Ayahku tanpa belas kasihan. Maafkan, anakmu ini Ayah! aku tak bisa mewujudkan harapanmu yang menginginkanku untuk selalu taat kepada Allah, menjadi anak soleh sesuai harapan Ayah. Ayah, mengapa Ayah begitu sangat mengagungkan Tuhan Ayah? padahal hidup kita selalu kekurangan. Aku tak mengerti dengan semua pemahamanmu, Ayah, jangan lagi mengharapkan doa dariku, percuma saja, karna doa itu hanya akan menguap dan tak berarti apa-apa, jika doa itu keluar dari manusia kotor sepertiku. Lantas! harus kemana aku berdoa? sedangkan hati ini sudah tak percaya lagi dengan adanya Allah … dan satu hal yang harus Ayah ketahui, sejak lama, anakmu ini telah jauh meninggalkan perintah Allah.

     Setelah Ayah wafat meninggalkan kami berdua, kami sangat menderita, kehilanganmu sudah cukup memukul keras jiwaku, sayangnya, hanya beberapa tahun berlalu setelah kepergianmu, Allah juga mengambil Ibu dari sisiku. Apa itu yang dinamakan keadilan Allah?  Ayah! Menghancurkan kebahagiaan hati seorang anak kecil yang bahkan belum mengerti bagaimana megurus dirinya sendiri, sehingga menjadi seorang yatim piatu yang hampir sekarat oleh lapar. Masih pantaskah disebut sebuah keadilan? Aku hanya memiliki kalian berdua di dunia ini, tapi mengapa Allah dengan teganya mengambil kalian dariku? tolong jelaskan di mana letaknya keadilan itu untukku? yaaa … Allah! mengapa engkau begitu jahat terhadapku? dosa apa yang telah diri ini perbuat? sehingga engkau memperlakukanku dengan setidak adil ini?

     Namun cerita itu kini hanya menjadi bagian dari masa lalu, masa lalu yang sangat menyakitkan, seandainya aku bisa menghapusnya, kan kuhapus semuanya dari memoriku. Karan kini hidupku telah berubah, uang bukan hal yang sulit lagi untukku, sekali tunjuk semua akan menjadi kenyatan. Hingga suatu hari, Allah menyadarkanku dari semua kekeliruan.

 

Bersambung