Oleh: Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London)

Pepatah Inggris bilang, “By failing to prepare, you are preparing to fail”. Jika gagal merencanakan maka anda merencanakan untuk gagal. Sudah banyak postinganku yang isinya tentang pentingnya berencana, apa saja yang dibutuhkan dan lain sebagainya. Kenapa? Karena ternyata sodara-sodara, aku adalah pengidap penyakit kronis prokrastinasi alias menunda nunda aka last minute dot com. Berencana secara efektif dan efisen bukanlah kelebihanku. Justru yang sering kali terjadi adalah melakukan sesuatu berdasar pada mood saja. Modal semangat dan modal niat yang menggebu. Akhirnya aku memaksakan diri membaca dan mendengar tentang pentingnya berencana, bagaimana cara menyusun sebuah rencana, bagaimana memiliki Efektifitas dalam perencanaan dan hal yang bikin mumet lainnya. Dengan ‘approachku’ yang sering tak berencana, wajar kalau akhirnya aku merasa seperti membawa beban segedhe gunung. Karena rencana identik dengan menghitung kekuatan kita dan beban yang bisa kita tangggung. Ditambah budaya Jawa yang kesulitan untuk bilang ‘tidak’ atas pemintaan orang, wajar jika kadang aku merasa terkungkung dengan banyak beban dan pekerjaan yang justru membuatku benar-benar tak punya semangat mengerjakan apa-apa.

Dari pengalaman pribadi akhirnya aku memunculkan teori (nggak perlu di cari research papernya deh!) bahwa jenis manusia itu ada dua.

1. Tipe pertama.

Adalah orang yang cenderung ‘plan ahead’ alias merencanakan sesuatu jauh jauh hari. Mereka memberi perhatian kepada hal-hal kecil. Menyiapkan segala sesuatunya, Rencana pun harus sedetail mungkin. Menurut jenis orang seperti ini, merencanakan sesuatu (entah itu dengan menuliskannya di kertas atau sekedar Notes Hp) akan mengurangi rasa khawatir, anxious dan nervous. They’d like to know what to expect. Dalam benak mereka biasanya sudah ada plan A dan plan B bahkan plan C. Mereka akan memainkan berbagai skenario sehingga perencanaan mereka menjadi sangat matang. Mereka akan menghitung langkah dengan teliti. Tak hanya untuk rencana hidup, karir, pendidikan dan pernikahan, bahkan rencana masak harian, belanja, urusan rumah, anak termasuk jadwal bersih-bersih. Semua tertata rapi, ada jadwalnya dan ada time frame-nya. Mereka jarang banget mengerjakan sesuatu berdasarkan mood. Mungkin pernah tapi itu bukan ‘default mode’ mereka. Kekurangan tipe ini menurutku, mereka sering merasa tak nyaman jika ada ‘kejutan’ entah itu kejutan hidup (cobaan/ musibah/ berita gembira) atau kejutan berupa keadaan yang melenceng dari perencanaan mereka. Susah move on gitu loh. Cenderung keras kepala dan susah adaptasi karena bagi mereka rencana harus berjalan sesuai hitungan mereka. Cenderung menyalahkan diri sendiri. Bisa jadi menghukum diri dengan mengata-ngatai diri sendiri bahwa dia bukan orang yang mampu, dan sejenisnya. Walhasil, ini bisa berefek pada rasa PeDe mereka. Lingkaran setan pun dimulai, karena semakin dia merasa gagal semakin dia tak mau keluar dari zona aman-nya. Ujungnya semakin menyesali diri, merasa terkungkung dalam ketidakmampuan.

2. Tipe kedua

Adalah jenis orang yang lebih fokus ke ‘bigger picture’. Mereka menginginkan hal yang besar namun tak suka dengan perencanaan detail. Rencana justru membebani. Mereka mungkin akan membuat rencana, hanya saja tidak akan sedetail tipe pertama. Mereka justru lebih suka dan merasa excited dengan adventure along the way. Tipe ini suka trial and error. Mereka tak takut tantangan. Perencanaan tidak penting. Yang penting enjoy dengan yang dilakukan. Mereka mengerjakan banyak hal berdasar pada mood. Kalaulah di dasari pemikiran maka gelombang naik turunnya sangat terasa dan kelihatan. Nggak ‘ajeg’. Mereka suka mencoba hal baru karena itu yang membuat mereka merasa berbunga bunga. Sayangnya tipe ini akan sering mengalami kegagalan karena persiapan yang tak matang. Hal-hal kecil yang bisa dihindari bisa menjadi penyebab sebuah kegagalan. Namun biasanya mereka akan ‘bounce back’ alias keluar dari rasa bersalah. Bagi mereka, kesalahan adalah hal yang wajar dan normal. Maklumlah, tak ada perencanaan yang matang jadi energi mereka tak banyak terpakai sebelum melakukan sebuah perbuatan. Ketika gagal, mereka pun tidak berlarut larut memaki diri dan sedih dengan hasilnya.

Terus yang benar yang mana?Yang benar adalah yang dicontohkan baginda Rasulullah ﷺ. Beliau merencakan sesuatu dengan matang tapi di iringi Tawakkal. Coba tengok sirah perjalanan beliau meninggalkan makkah menuju Madinah. Kisah itu sarat sekali dengan contoh praktis perencanaan matang seorang manusia yang juga seorang Rasul. Beliau tidak akan menyalahkan diri sendiri jika gagal karena hasil di tangan Yang Maha Rahman. Beliau pun mengingatkan Sayyidina Abu Bakr As siddiq untuk meyakini Allah سبحانه و تعالى akan melindungi. Beliau berencana details tapi tak takut akan kejutan. Beliau bersedia keluar dari zona nyaman demi tujuan mulia menegakkan Diin-Nya. Beliau tak melakukan sesuatu berdasar pada mood saja, namun beliau selalu menyertakan akhlak dan menghadirkan Allah سبحانه و تعالى dalam setiap langkah.

So, tipe manakah anda? Dan bagaimana dengan Ramadan dan perencanaannya?

Tulisan berikutnya InsyaAllah tentang perencanaanku Ramadan tahun ini.
.
London, 27 April 2020