Oleh: Muzakkani Binti Quddus (Mahasiswa)

 

Marhaban Ya Ramadhan. Selamat datang Ramadhan. Tak terasa, Ramadhan kembali menyapa kita. Kali ini kita memasuki bulan suci Ramadhan 1441 H.
Ramadhan adalah bulan istimewa. Bulan yang di dalamnya diwajibkan puasa, yang bisa mengantarkan orang yang berpuasa meraih derajat taqwa.

Ramadhan adalah bulan yang bertabur dengan pahala berlipat ganda. Bulan pengampunan atas dosa-dosa. Bulan yang didalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.

Yang paling menakjubkan, Ramadhan adalah bulan yang didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Itulah Lailatul Qadr. Bulan yang di dalamnya Allah turunkan Al-Quran. Pedoman hidup manusia, yang menjadikan sumber kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.

Sebab itulah Ramadhan menjadi bulan suci mulia, Allah memilihnya menjadi bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, kalam Allah yang di dalamnya terdapat perintah dan larangan bagi seluruh hambanya.

Apapun yang terikat dengan Al-Quran pasti akan mulia, bukan hanya bulan suci Ramadhan, seorang individu dikatakan mulia ketika seluruh perbuatannya terikat dengan perintah dan larangan yang ada di dalam Al-Quran, keluarga mulia ketika sebuah keluarga menjaga diri dengan Al-Quan, Masyarakat mulia ketika di dalam Masyarakat tersebut berpedoman kepada Al-Quran, termasuk seorang pemimpin ia mulia jika seluruh perbuatannya terikat dengan perintah dan larangan di dalam Al-Quran, namun bukan hanya menjalani Al-Quran sebagai individunya saja tapi dia benar-benar mulia ketika Al-Quran menjadi pedomannya dalam menjalankan Negara, ketika Al-Quran menjadi pedomannya mengurus urusan rakyat, dengan begitu terwujud kehidupan mulia bukan hanya pada tataran individu saja tapi hingga ke tataran Negara.

Namun saat ini seluruh pemimpin di dunia belum ada yang menyadari hal itu, para pemimpin saat ini memimpin bukan dengan aturan yang ada di dalam Al-Quran, itulah kenapa saat ini kita jauh dari kata kehidupan mulia, malah kehidupan menjadi hina karena tak berhukum pada Al-Quran, kerusakan terjadi di mana-mana karena ulah mereka yang tak menerapkan hukum syara sesuai perintah Allah dalam Al-Quran, dan yang paling utama yang harus kita ingat bahwa Allah murka jika Al-Quran tidak menjadi pedoman hidup dan tidak diterapkan untuk mengatur Negara.

Firman Allah SWT;
فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ
Putuskan hukum di Antara mereka berdasarkan apa (wahyu) yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu menuruti hawa nafsu mereka untuk meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu (TQS al-Maidah [5]:48).

Bahkan bulan suci Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran ini, tak dimuliakan dengan penerapan seluruh aturan yang ada di dalam Al-Quran, sejak runtuhnya Khilafah 24 Maret 1924 M dimana Al-Quran tak lagi diterapkan menyeluruh, hanya bisa dijalankan dalam tataran individu saja. Sejak saat itulah Ramadhan dijalankan tanpa penerapan Al-Quran, padahal Allah turunkan Al-Quran bukan cuma-cuma, dalam banyak firman Allah di dalam Al-Quran, Allah turunkan Al-Quran untuk diterapkan seluruh perintah dan larangan yang ada di dalamnya.

Ramadhan mulia bukan hanya di dalamnya ada momen tarawih, bukan hanya sekedar di dalamnya umat Islam memenuhi masjid-masjid dengan sholat berjamaah, bukan hanya sekedar didalamnya umat Islam jadi sangat rajin membaca AL-Quran, akan tetapi Ramadhan mulia jika Al-Quran diterapkan dalam seluruh tataran yaitu individu, masyarakat dan Negara.

Oleh Sebab itu marilah kita kembali menjadikan Ramadhan mulia dengan benar menurut apa yang Allah perintahkan. Muliakan Ramadhan dengan menerapkan perintah dan larangan Allah (Al-Quran) secara menyeluruh. WalLâh alam bi ash-shawâb.