Bag. 2

Singkat cerita, kami menyekap seorang wanita berumur dua puluh tahunan, dan pada malam itu, aku bertugas untuk mengawasi tawanan sebelum akhinya kami mengexsekusinya. Ada rasa ketakutan muncul di hati, di saat wanita tersebut berucap, “biarlah di dunia aku mati, dan kalian bersenang-senang dengan menzalimiku, namun kalian jangan pernah lupa, keadilan di akhirat kelak pasti akan kalian hadapi, tak ada yang abadi di dunia ini, ingatlah … di akhirat kelak, aku akan menagih semua kezaliman kalian terhadapku ketika di dunia,” ucap wanita tersebut dengan wajah yang begitu tenang, padahal dia tau, bahwa nyawanya kini sudah di ujung tanduk.

Seakan disambar petir di siang bolong, jiwaku terguncang, hati ini begitu ketakutan, pikiran kini mulai tak tentu arah, membayangkan hidupku kelak di akhirat. Dari saat itu, hidupku tak pernah lagi tenang, terbayang semua dosa yang pernah dilakukan, Kini, meski pun hidupku dikelilingi harta, namun nyatanya tak dapat menjamin ketenangan jiwa. Hati ini tak dapat dibohongi, ingin rasanya aku kembali kepada ke kehidupanku yang dulu, hanya menjadi manusia sederhana yang taat pada Tuhannya. Haruskah aku berubah dan meninggalkan semua kemewahan ini? bagaimana jadinya hidupku? jika tanpa adanya harta? akankah aku kembali ke kehidupanku yang dulu? menjadi seorang Iman yang miskin dan selalu dikucilkan karna kemiskinannya. Kini aku berada di tengah kebimbangan, memilih jalan mana yang akan membawaku dalam keselamatan yang abadi.

Aku tersadar dan terbangun meringkuk di sebuah ruangan, entah berapa lama aku tak sadarkan diri? pandangan menyapu sekeliling, terasa sangat pengap disini, terlihat sedikit cahaya menerobos masuk dari celah kaca kecil di atap pelapon, hanya ada kardus-kardus bekas di sekeliling. Dan aku tau persis dimana kini aku berada. Tepat di gudang pengap ini, aku bersama teman-teman sering menggunakan ruangan ini untuk sebuah penyekapan dan mengexsekusi semua korban, tempat ini salah satu saksi bisu atas semua kezaliman yang kami lakukan, dan kini giliranku yang harus merasakan sendiri bagaimana pengapnya saat disekap paksa, seperti yang dulu sering kulakukan terhadap semua nyawa tak berdosa, yang kuhabisi tanpa ada belas kasihan. Entah masih pantaskah kami disebut manusia?

Dengan terhuyung-huyung, tubuh ini menghampiri pintu gudang, tak ada seorang pun di luar sana, yang ada hanya beberapa botol yang tergeletak dan kuntung rokok yang berserakan di lantai. Terlintas dalam hati untuk mencoba melarikan diri, namun sialnya dengan tubuhku yang lemah, tak mungkin untuk bisa melawan mereka semua.

Kusandarkan punggung di balik pintu gudang, perut keroncongan ini semakin membuat tubuh bertambah lemas, aroma bau anyir begitu menyeruak di penciuman, begitu memualkan. Kubaringkan tubuh diatas kardus, terbayang kembali masa kecil dulu, kini kenangan masa kecil itu satu persatu kian berhamburan dalam lamunan, terbayang betapa nikmatnya dibelai tangan lembut, sampai tertidur pulas di pangkuan Ibu.

Masih terbayang bagaimana expresi Ayah di saat melihat untuk pertama kalinya kaki ini bisa berjalan, sorak sorai dan tepuk tangan Ayah, selalu terngiang di saat belajar sepeda, meskipun bukann sepeda baru, namun ini mainan pertamaku yang dibelikan Ayah, dan aku sangat bahagia, dan bekas luka di lutut ini adalah sebuah tanda perjuanganku ketika belajar sepeda, saat tubuh mungil ini terjatuh dan terluka, tangan kekar Ayah selalu ada untuk membantu, kata-kata semangat dan dukungan selalu keluar dari mulutnya, berusaha memupuk semangat untukku, agar bisa bangkit kembali dan pantang menyerah.

“Ibu, Ayah, di syurga, pasti kalian sangat kecewa melihat anak yang selalu kalian banggakan ini, karna anakmu kini telah berubah menjadi manusia tanpa hati seperti saat ini, maafkan aku Ayah! Ibu!” aku meratap dalam hati, tak terasa bulir hangat membasahi pipi.

“Woooyyy! Iman bangun Lu, gue disuruh buat jemput elu menghadap Bang Remon, sekarang! ”

Sebuah sepakan kaki telah berhasi membuyarkan lamunan. Dengan sedikit memaksakan diri, walau dengan sedikit bergetar,

Bersambung