Bag. 3

Oleh: Ida Rohida

“Woooyyy! Iman bangun lu, gue disuruh buat jemput elu menghadap Bang Remon, sekarang! ” sebuah sepakan kaki telah berhasi membuyarkan lamunan. Dengan sedikit memaksakan diri, walau dengan sedikit bergetar, akhirnya kaki ini ldapat berdiri dan mengikuti langkah si Baron, yang diutus oleh Bang Remon untuk menjemputku.

Kami memasuki sebuah ruangan, terlihat pria tua, berdiri membelakangi pintu, berdiri di topang oleh tongkatnya yang khas, dengan rambut putihnya yang mulai memenuhi kepala, meski kini ia telah menua, namun karismanya tak pernah luntur tergerus jaman, masih tetap nampak terlihat gagah dengan pakaian rapih berdasi, kian mempertegas karismatiknya, membuat segan setiap kali yang memandang.

“Imaaan! Iman … kenapa kemarin lu pengen ninggalin kita semua? pakai acara kabur segala lagi, coba jelasin apa alasan elu pengen keluar dari kerjaan ini? padahal bisnis ini begitu menguntungkan. Dengan bisnis ini lu gak perlu lagi mikir sulitnya cari makan, semua keinginan tingal tunjuk, dan itu semua karna uang yang lu dapet dari bisnis ini, dan dengan bisnis ini pula, dompet lu jadi tebel, sekarang gak ada lagi orang yang bernai remehin lu,” ucap Bang Remon dengan suara beratnya, mata elangnya menatap tajam ke arahku.

“Maafkan! aku Bang, aku gak kuat lagi menjalani ini semua, nurani ini selalu bergejolak setiap kali melakukan pekerjaan ini. Hanya satu inginku, hanya ingin bertobat dan menjadi manusia yang lebih baik, aku ingin bertobaaa … ,”

Plaaakkk! Ucapanku terhenti. Terasa pipi ini begitu panas, sebuah tamparan keras seketika bersarang tepat di pipi. Aku hanya dapat meringis menahan perih, sekilas terlihat wajah merah padam Bang Remon, dengan sepasang bola mata melotot, tangannya menggebrak meja dengan kerasnya.
“Heh! elu denger ya, satu hal yang harus lu inget, gua angkat lu dari kubangan got bau. Saat lu susah, gak ada seorangpun yang peduli sama lu, mereka cuma bisa ngehina lu, lu tau kenapa? itu semua karna lu miskin. Lalu hati gua terusik, akhirnya gua ngasihani elu, gua ambil lu dari sampah kotor, gua ajarin gimana dapetin duit yang cepet dan gampang, biar apa? biar lu gak diremehin lagi sama orang-orang yang dulu mandang lu dengan sebelah mata. Dan dengan sekejap gue rubah lu jadi orang berduit, dan dalam sekejap pula terbukti semua yang pernah mandang lu sebelah mata, kini berbalik menjilati kaki lu, itu semua karna apa? karna duit! Iman … karna duittt. Duit bisa merubah segalanya, lu mau apa tinggal tunjuk, asal dompet lu tebel,” cerocos Bang Remon dengan nada yang semakin meninggi.
Kepala ini hanya bisa menu

nduk menatap lantai, memang tak bisa di pungkiri, semua yang diucapkan Bang Remon memang benar adanya, uanglah yang merubah kehidupanku menjadi seperti sekarang ini, tak ada lagi cacian terdengar setelah hiduku berubah. Namun hati tak tak pernah bisa berbohong … perutku memang kini selalu penuh, tak pernah lagi menahan lapar seperti dulu. Namun kini jiwaku kosong, hanya ada hampa yang memenuhi setiap sudut hati, tak ada lagi ketenangan hadir di jiwa. Satu hal yang baru kusadari setelah lama tersesat dalam kubangan dosa … sebanyak apapun harta yang di miliki, nyatanya tak bisa menutupi rasa bersalahku karna dosa, dosa yang selama ini terus menghantui ketenangan batin ini, dosa-dosa dari hasil perbuatanku selama ini. Ku kira jika memiliki banyak harta, dapat menjamin ketenangan dan kebahagiaan hidup, nyatanya harta yang didapat dari cara yang tidak baik, takan berbuah baik pula, sangat mustahil jika mengharapkan harta haram itu mendatangkan ketenangan.
Hari-haripun berlalu, luka di tubuhku mulai membaik, setelah melewati pengadilan Bang Remon atas kenekatanku mengungkapkan isi hati yang tak ingin lagi menjadi anak buahnya. Kuraba setiap luka di tubuh, hasil pelampiasan amarah Bang Remon atas kekecewaannya terhadapku, tubuh ini di jadikan samsak tinju olehnya, hingga akhirnya … gelap, aku tak tau lagi apa yang terjadi.
Hingga akhirnya aku tersadar, seseorang menggoyah-goyahkan tubuhku, “Iman! ayo bangun kamu, dan cepat habiskan makananmu, kita mulai beraksi lagi,

 

Bersambung