Oleh: Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London)

Dua hari yang lalu ada SMS masuk dari seorang teman,
“Sis, anak gadisku mendapat kesempatan sekolah keperawatan dan sekarang dia masuk hari pertama. Tapi dia harus memakai srcub (seragam yang biasa dipakai oleh para nakes di ruang operasi). Lah terus gimana dong? Kan dia memakai jilbab (jubah)?”

Akhirnya aku jelaskan dengan menyiasati untuk memakai jubah hitam kemudian memakai atasannya saja. Dan dia perlu menjelaskan kepada tutornya tentang alasan kenapa dia tak bersedia memakai celana dan atasan seperti pada umumnya. Alasan agama. Karena memang memakai jilbab adalah kewajiban agama maka pihak rumah sakit tak boleh memaksa peserta didiknya. Jika memaksa bisa bisa masuk koran karena dilaporkan melanggar ‘equal opportunities policy’ yang harus di pegang erat oleh employer manapun. Setelah ngobrol panjang lebar, sang ibu mengerti. Anak temanku ini ternyata menunggu di luar bangsal dan tak bisa masuk ke dalam. Sambil meminta keputusan ibunya apa yang harus dia lakukan dia tetap tak mau melepas jilbabnya. ماشاء الله

Esok harinya aku mendapat SMS, “Sis, the hospital have ordered my daughter custom fit scrubs, long tunic! I am so pleased” (sis, pihak rumah sakit akan memesan scrub khusus untuk anakku, baju panjang. Aku bahagia sekali)

‎الله اكبر Jujur aku membaca sambil berkaca kaca. Tenggorokanku tercekat saat aku kirim voice note. Aku terharu, tersentuh, terkejut dan sangat bahagia untuknya. Betapa Allah سبحانه و تعالى menunjukkan Maha Rahman-Nya. Berkah Ramadan dan keteguhan memegang Islam justru dibayar Allah سبحانه و تعالى dengan kemudahan dan dukungan orang yang tak pernah kita pikirkan. Tugas kita hanya satu: Taat! Sisanya, biarkan Allah سبحانه و تعالى yang menanganinya.

Kadang sebagai manusia kita lebih banyak bergantung kepada kalkulasi benak kita. Kalau tak begini, nanti bisa gagal. Kalau saya begitu, jadinya nanti demikian. Yang muncul justru ketakutan dan kekhawatiran untuk terus melangkah di jalan Iman. Padahal Allah سبحانه و تعالى menjanjikan bahwa siapa yang bergantung hanya kepadaNya, maka Dia akan membuka kemudahan dari pintu yang tak pernah mereka duga! Allah berfirman:

‎{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا }
‎{ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ } “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)”

Siapa sangka pihak rumah sakit mau mengakomodasi dan menyiapkan seragam tersendiri hanya untuk anak gadis temanku tadi? Inggris bukanlah negeri muslim. Mereka bisa saja meminta si gadis mengubah pendapatnya. Bisa saja mengancam mendepaknya dari program (meski aku yakin, Inggris jarang-jarang bertindak demikian). Bisa juga mereka bersikeras menolak menerima keputusannya. Tapi nyatanya, justru Allah سبحانه و تعالى memudahkan jalan ketaatan yang telah dia pilih.

Inilah janji Allah سبحانه و تعالى untuk orang-orang yang hanya bergantung kepadaNya. Janji untuk orang yang bertawakal. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan bahwa Tawakal adalah aktivitas hati yakni perbuatan yang dikerjakan hati dan bukan diucapkan dengan lisan dan bukan juga dilakukan anggota badan. Karena tawakkal adalah aktivitas hati maka tak bisa dilihat kasat mata. Sama halnya keyakinan kita akan surga neraka, malaikat, hari penghisaban, rasul terdahulu dan semua khobar yang harus diyakini. Seberapa kuat keyakinan kita tergantung sejauh mana kita mengetahuinya, melatihnya, menguatkannya dari hari ke hari.

Banyak yang bilang bahwa tawakal hanya bisa dilakukan saat sudah berusaha. Sebenarnya tidaklah demikian adanya. Tawakal harus ada sepanjang masa. Tak hanya setelah berusaha. Sama halnya keyakinan kita kepada surga neraka. Tak boleh hilang barang sedetik pun. Karena itu adalah bagian dari keimanan.

Salah satu cara menguatkan adalah memutar kembali kejadian-kejadian yang tak pernah kita sangka kita mampu menyelesaikannya namun Allah سبحانه و تعالى menunjukkan KeMaha Besaran-Nya melalui keajaiban yang tak terduga.
.
Tugas kita berusaha sekuat tenaga. Usaha ini harus selalu masuk dalam koridor syar’i. Tak pernah ada tawakal ketika melanggar hukum syara’.
Saat berusaha, hati kita bersandar hanya kepadaNya.
.
Tawakkal. Inilah yang Nabiyullah Ibrahim عليه السلام lakukan saat beliau akan dilempar ke dalam api unggun karena keberanian beliau memegang Din Allah. Beliau harus melawan arus. Melawan ayahnya yang penyembah berhala. Siapapun yang berada pada posisi ini akan merasa sendiri, terkungkung, berbeda, tak kuasa, ingin kompromi, atau godaan-godaan lain yang membuat kita tergelincir dari ketaatan. Namun Nabi Ibrahim عليه السلام tetap teguh memegang kebenaran dan bergantung hanya kepada Allah سبحانه و تعالى semata!
.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa kalimat yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim itu seperti halnya kalimat yang diucapkan Nabi Muhammad SAW ketika beliau mendengar suatu informasi, seperti disebutkan dalam Firman Allah SWT:

‎ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدْ جَمَعُوا۟ لَكُمْ فَٱخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَٰنًا وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ

‎فَٱنقَلَبُوا۟ بِنِعْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوٓءٌ وَٱتَّبَعُوا۟ رِضْوَٰنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

‘Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan Sesungguhnya, manusia (Kaum Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu. Karena itu, takutlah kepada mereka.’ Perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.’ Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Ali Imran: 173-174)

Semoga Allah سبحانه و تعالى menjadikan kita orang-orang yang bergantung hanya kepadaNya. Yuk berbagi kisah tawakal kita dan bagaimana Allah سبحانه و تعالى menunjukkan kebesaranNya!
.
London, 29 April 2020