Bag. 4

Oleh: Ida Rohida

Hingga akhirnya aku tersadar, seseorang menggoyah-goyahkan tubuhku, “Iman! ayo bangun kamu, dan cepat habiskan makananmu, kita mulai beraksi lagi, ada target yang telah Bang Remon tunjuk untuk kita kerjakan,” tangan kekar Bang Joni terasa menggerak-gerakan tubuhku, sembari melemparkan bungkusan makanan untukku.
Dengan malas, cepat kuhabiskan makanan di piring, kuikuti arah langkah Bang Joni, dia adalah teman beraksiku selama ini.

Setelah menempuh jarak dua jam perjalanan, akhirnya mobil kami berhenti di suatu tempat, kami bertiga dalam mobil, Bang Joni, aku, dan Bang Rio, kita saling berbagi tugas dalam setiap pekerjaan.
“Nah! Itu target kita, ” Bang Joni menunjuk ke satu arah, kuarahkan pandangan tepat ke arah Bang Joni menujuk, terlihat anak kecil yang sedang duduk di pinggir jalan, memakai baju sekolah kanak-kanak, mungkin anak TK yang sedang menunggu jemputan.
Setelah mengamati keadaan, dirasa aman, akhirnya Bang Joni pun memberi isyarat untuk mulai beraksi. Mobil kami pun mulai mendekati anak tersebut, aku dan Bang Rio langsung turun, dan sekali tangkap langsung membekap anak tersebut, kami di kagetkan oleh teriakan melengking dari arah belakang mobil, terlihat sekilas sosok seorang wanita berjilbab meronta kearah kami, Bang Joni langsung menyuruh kami untuk cepat masuk kedalam mobil dan segera bergegas pergi dari tempat tersebut.

Hening … setelah kami berhasil menaiki mobil, tak ada satu suarapun terdengar, hanya tangis tertahan yang terlihat dari raut muka anak yang kami culik, mulutnya kami lakban, tubuhnya menggigil ketakutan saat pisau menempel di lehernya. Sedangkan aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, masih terbayang di mata, terlihat betapa paniknya seorang ibu ketika melihat anaknya direnggut secara paksa darinya, terlihat sekilas wajah teduh itu seketika berubah penuh tangis disaat kami menculik anaknya, tak terbayang begitu terguncangnya jiwa seorang Ibu dari anak yang telah kami culik ini.
“Sudah! aku tak mau lagi masuk dalam kubangan dosa, aku tak mau lagi terjebak untuk kesekian kalinya, walau ku tau begitu besar resikonya, namun aku lebih baik mati saat ini juga, daripada harus menghabiskan waktuku di dunia, dan pada akhirnya mati tenggelam dalam kubangan dosa, menjadi manusia paling hina sampai nyawa terlepas dari raga. Niatku kini sudah bulat, aku akan menyelamatkan anak ini, tak peduli apapun resikonya, karna anak ini tak berdosa, aku tak mau semakin jauh tersesat melangkah dalam kegelapan,” ucapku dalam hati.

Tanpa ragu, kubuka pintu mobil yang sedang melaju kencang, tangan ini memeluk anak itu, kubawa anak tersebut meloncat dari mobil yang sedang melaju kencang, terasa perih kulit ini ketika bergesekan dengan aspal jalanan, tubuh kami berguling-guling menerobos rerimbunan semak belukar. Kugendong anak itu erat, memaksa kaki ini berlari sekuat mungkin, tak peduli apa yang dipijak, yang terpenting jangan sampai kami tertangkap.

“Woi! Iman sialan, jangan lari lu, dasar penghianat,” terdengar sebuah teriakan disela pelarianku.

Lalu tiba-tiba … duarrr … tubuhku seketika ambruk saat peluru bersarang di kaki, dengan sekuat tenaga menyeret tubuh, berusaha mencari tempat untuk bersembunyi. Terdengar semakin dekat langkah Bang Joni dan Bang Rio menuju kearah kami. Di tengah kepanikan otak ini tak bisa lagi untuk berpikir jernih, dengan mengandalkan harapan, akhirnya aku memilih untuk menjatuhkan diri kedalam jurang jika keadaan semakin terdesak, berharap semoga ada keajaiban Allah untuk kami berdua, semoga Allah masih peduli pada hambanya yang begitu kotor sepertiku.

     “Hahaha …,” Terdengar suara tertawa Bang Joni dan Bang Rio yang berhasil menemukan persembunyian kami.

       “Mau kemana lagi lu? Percuma lu gak akan bisa kabur dari kita, kaki lu udah pincang, cuihhh … dasar penghianat, tunggu hukuman yang akan lo terima dari Bang Remon,” gertak Bang Joni dengan wajah geramnya.

     “Udah nyerah aja! lu gak akan selamat dari kita,” ucap Bang Rio, sembari meludah ke arah kami.

 

Bersambung