Oleh : Umi Rizkyi (Komunitas Setajam Pena)

[15:18, 5/1/2020] rina Muslimah AE: Alhamdulillah sudah hari ke 7 puasa kita lalui. Sangat berbeda dengan ramadhan tahun-tahun yang lalu. Dulu penyambutan bulan ramadhan sangat nampak sekali, penuh suka cita. Bahkan ada yang sudah menyambutnya dengan mempersiapkan diri berlatih puasa sebelum ramadhan tiba. Membeli dan menyiapkan berbagai macam kebutuhan untuk menyambut bulan ramadhan.

Kini semuanya tinggal kenangan, ramadhan tahun ini sungguh berbeda. Di dalam kondisi pandemi virus corona yang semakin hari semakin liar penyebarannya. Bahkan korban yang meninggal dunia akibat virus corona ini setiap hari berjatuhan, baik orang biasa(umum) ataupun dari kalangan pengusaha, penguasa bahkan tak sedikit para medis yang tak luput akibat serangan virus corona ini.

Orang-orang banyak yang melewati ramadhan dengan hal-hal yang mubah bahkan sia-sia. Misalnya, nonton tv, rebahan hingga berlama-lama, browsing browsing-browsing, chating, ber medsos dan lain-lain.

Semoga kita terhindar dan terpelihara dari perilaku yang sia-sia atau bahkan maksiat. Agar puasa kita tidak hanya mendapatkan dahaga dan lapar saja, dan banyaknya solat malam hanyalah begadang semata, sesuai Sabda Rasulullah Saw yang artinya ” Betapa banyak orang berpuasa hanya mendapatkan dahaga dan lapar saja, dan banyaknya solat malam sesungguhnya hanya begadang semata. HR Ahmad.
Semua aktifitas dilakukan di rumah. Anak-anak belajar di rumah, bapak bekerja di rumah, ibu produktif siap siaga di dapurnnya. Semua ini karena adanya wabah virus corona, bagaimana pandangan Islam mengisi ramadhan tahun ini dalam kondisi seperti ini, tetap menjadikan ramadhan tahun ini menjadi ramadhan yang produktif?

Maka dari itu, hendaknya kita harus menjadikan ramadhan tahun ini tetap produktif, meski di tengah pandemi wabah virus corona. Adapun hal yang bisa kita lakukan misalnya, pertama hendaknya kita tetap memelihara amalan-amalan rutin, contoh solat, zakat( baik zakat fitrah/zakat mal setelah mencapai nisobnya) dzikir, sodaqoh dan lain-lain.

Ke dua, Berdaqwah, menyampaikan amar makruf nahi mungkar. Dengan adanya pandemi ini, jangan membuat kita down, bahkan berhenti untuk Berdaqwah. Justru dengan kondisi seperti ini, kita semakin terpacu dan semangat untuk meningkatkan aktifitas daqwah kita. Kalau dulu kita bisa ketemu, berdiskusi dan ngobrol secara langsung, sekarang kita bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui sms, wa, telpon, bersosial media dan lain-lain karena kita harus tetap dirumah. Kita bisa share video ceramah, berita Islam, dan ilmu-ilmu Islam lainnya.

Ke tiga, meningkatkan amalan-amalan sunah, solat sunah (tahajud, tarawih, witir, bakda dan qobla solat wajib, dhuha dan lain-lain).

Dengan demikian demikian, maka bisa diminimalisir perilaku yang mubah atau bahkan sia-sia. Dan menghindari diri dari perilaku dan perbuatan mubah yang mendominasi amalan-amalan kita. Semoga dengan adanya kondisi ramadhan tahun ini yang penuh ujian dan perjuangan, kita masih tetap bisa meraih pahala terbaik di sisi Allah SWT, mendapatkan berkah dari bulan ramadhan tahun ini. Aamiin
[15:18, 5/1/2020] rina Muslimah AE: Akibat Dominasi Kapitalisme, Negeri Jauh dari Mandiri
Oleh : Umi Rizkyi (Komunitas Setajam Pena)

Di lansir dari tempo.co (19/04) Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Arya Sinulingga menduga ada praktik mafia alat kesehatan di tanah air. Dugaan ini muncul lantaran tingginya impor Indonesia untuk produk-produk tersebut, salah satunya ventilator. “Adanya mafia ini dikarenakan impor alat-alat kesehatan Indonesia masih tinggi yang mencapai prosentasi 90%.” kata Erick Thohir

Institusi Teknologi Bandung, dan Universitas Indonesia, hingga Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam satu bulan ini bisa merancang dan mengembangkan ventilator lokal. Dengan begitu maka “kenapa meski impor? pak Erick berpikir Berarti ada trader dan dia juga berpikir bahwa pasti ada yang memaksa ingin trading terus. Ini terbukti bahwa berbagai lembaga dan instansi mampu untuk bikin ventilator.” Ujar Arya dalam sebuah diskusi during.

Dia juga mengatakan bahwa Kementerian BUMN belum mengidentifikasi lebih jauh siapa yang bermain dalam masalah ini. Akan tetapi ada indikasi bahwa Indonesia lebih suka membeli dari pada membuat sendiri. “Mungkin untungnya lebih besar, ke situ saja. Bukan identifikasi jadi kenapa harus lama betul, tidak buat di sini.”

Jangan ujung-ujungnya duit terus, dagang terus, akhirnya kita terjebak short term policy (impor alat kesehatan) yang pasti didominasi oleh mafia trader trader itu. Kita harus lawan dan pak Jokowi punya keberpihakan di sini kata Erick dalam akun instagramnya Kamis (16/04)

Hal senada juga dikatakannya “Saya mohon maaf kalau menyinggung beberapa pihak, yang besar ini selalu terjebak praktik-praktik kotor, sehingga alat kesehatan impor, bahan baku impor.” kata Erick melalui live streaming di akun instagramnya Kamis (16/04)

Dengan berbagai fakta yang di sampaikan oleh Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini membuktikan bahwa sebenarnya bangsa Indonesia ini mendapat tekanan global dengan memaksa impor alat kesehatan dan obat. Hal ini membuat para korporasi/trader trader global menekan pemerintah negeri ini dalam kebijakan ekonomi. Dalam bentuk impor alat kesehatan dan obat. Walaupun sebenarnya bangsa Indonesia mampu membuat alat kesehatan sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di atas.

Oleh karena itu, maka sesungguhnya negeri ini membutuhkan pemerintahan yang mandiri.Di mana negeri ini mampu menyediakan segala yang dibutuhkan oleh negara saat ini. Seperti halnya, alat kesehatan dan obat dalam menghadapi wabah corona yang setiap hari semakin mengganas. Mampu menyediakan dengan membuat sendiri, tidak tergantung dengan negara lain (impor).

Hal ini bisa dilakukan jika bangsa ini bisa mengelola sumber daya alam sendiri, dikelola oleh negara. Tidak menyerahkan kepada swasta bahkan asing. Selain itu bangsa ini juga harus mampu untuk berlepas diri dari riba. Hutang yang tiap tahun selalu menggunung, bagaikan bola salju.

Tanpa dipungkiri lagi bahwa saat ini, dunia membutuhkan kepemimpinan yang adil dan steril dari kerakusan kaum kapitalis. Dengan maraknya trader trader yang dengan rakusnya mengambil peluang ini untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Kepemimpinan yang adil dan bersih dari kerakusan kaum kapitalis ini akan bisa terwujud hanya dengan sistem Islam, aturan Islam yang diterapkan dalam kehidupan di bawah naungan Khilafah. Hal ini menunjukkan bahwa dunia membutuhkan Khilafah. Allahuaklam bisowab.