Bag. 5

Oleh: Ida Rohida

     “Tidak! daripada harus menyerah dan kembali terjerumus dalam kubangan dosa sampai mati, lebih baik saat ini aku mati saja, semoga Allah masih menerima pertaubatan dari hambanya yang kotor dan hina ini, selamat tinggal dosaaa … ,” tanpa membuang waktu, kaki meloncat ke arah jurang, bersama anak yang sedari tadi kudekap erat di dada.

Tubuh kami terjatuh ke dalam jurang yang berada di samping kami. Entah apa yang terjadi pada kami, semuanya terasa gelap, hanya tubuh terasa membentur kayu dan batu, aku tak peduli dengan apa yang sedang terjadi, yang terpenting tubuh ini dapat menjadi pelindung anak yang ada dalam pelukan.
“Imaaaannn! kenapa lu nekat loncat? ” terdengar teriakan Bang Joni, berbarengan dengan tubuh kami yang jatuh ke dalam jurang. Syukurlah kami jatuh tepat diatas batu tebing yang bisa menopang tubuh, sehingga aku bisa bergelantungan dan mencoba naik keatas kembali, kukerahkan seluruh tenaga agar dapat selamat, dari bawah aku masih bisa mendengar derap langkah mereka berdua, suara itu terdengar semakin jauh dan semakin pelan, sehingga kini tak terdengar lagi suara orang berjalan.

“Ya Allah! hamba memang manusia yang begitu kotor dan penuh dengan dosa, namun anak ini begitu suci dan tak berdosa, tolong selamatkan kami ya Allah, beri hamba kesempatan untuk menebus segala dosa masa lalu hamba, hanya kepada engkaulah hamba meminta pertolongan,” dengan napas terengah-engah, aku memohon keajaiban memihak kepada kami.

     Kulihat senja kini berganti malam, suara serangga malam pun mulai terdengar bersautan. Kutatap wajah kecil dipelukan, terpancar rasa trauma mendalam di sorot matanya, tubuhnya menggigil ketakutan. Ini semua salahku, aku yang menyeretnya ke dalam kekacauan ini, maka aku pula yang harus bisa mengeluarkannya kembali, akan kupastikan anak ini selamat hingga ke pelukan orang tuanya kembali, apapun yang terjadi, semua akan aku hadapi.
“Om! Bimo haus,” sebuah suara membuyarkan lamunan, ternyata suara itu berasal dari anak yang ada di pangkuanku.
“Sabar! ya, Om lagi cari cara agar kita bisa selamat dari tempat ini, setelah kita selamat, Bimo boleh minum sepuasnya,” bujukku membesarkan hati. Namun kenyataannya akupun sudah hampir berputus asa, tubuh ini terasa begitu lemas, dan kaki yang tertembak, menambah sulit untuk bergerak, kini hanya pertolongan Allah lah yang bisa kami harapkan.

     Dalam gelapnya malam, terlihat setitik cahaya berkilauan, semakin dekat, semakin menyilaukan, seperti cahaya dari lampu kendaraan.
“Ya Allah! semoga itu bukan anak buah iBang Remon yang sedang mencari keberadaan kami,” harapku dalam hati, ketika terdengar suara motor yang sedang berjalan. Jantungku berdetak lebih cepat ketika melihat kilatan-kilatan cahaya senter menyinari tubuh kami. “Ya Allah! Yang maha penolong, hamba memohon atas pertolonganmu, dan hamba serahkan segalanya padamu, jika takdir hamba harus berhenti di sini, hamba iklas, hamba yakin selalu ada hikmah di setiap kejadian. Namun hamba mohon selamatkanlah anak ini, anak ini tak berdosa … hanya engkau yang dapat menolong kami, dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan,” doaku dalam hati terdalam. Kilatan cahaya itu semakin mendekat ke arah kami, dan kamipun semakin terpojok, tak munkin untuk bisa bersembunyi lagi, dengan mata terpejam, telingaku menangkap sebuah suara, suara yang tak kukenali. “Hallooo … apa ada orang di bawah?” terdengar suara perempuan melengking dari arah jalan yang terletak berada tepat di pinggir jurang.
“Tolooong! kami terjebak di bawah sini, kini kami bertumpu di bebatuan jurang,” teriaku, meski tenggorokan terasa serak karna kehausan.
Lalu, suasana hening kembali … kutajamkan pendengaran, berharap suara itu muncul kembali, “apakah tadi aku hanya bermimpi, telah mendengar suara perempuan? tapiii … suara itu begitu terasa nyata, ah … sudahlah, mungkin aku hanya berhalusinasi,” lagi-lagi aku berbicara sendiri.

     Terlihat Bimo mulai terlelap, mungkin dia lelah setelah melewati semua ini. Jujur akupun sebenarnya merasakan hal yang sama, tubuh ini terasa lelah sekali, ingin rasanya membaringkan tubuh walau sejenak

Bersambung