Bag. 5

Oleh: Ida Rohida

 

Terlihat Bimo mulai terlelap, mungkin dia lelah setelah melewati semua ini. Jujur akupun sebenarnya merasakan hal yang sama, tubuh ini terasa lelah sekali, ingin rasanya membaringkan tubuh walau sejenak, namun sayangnya keadaan tak mengijinkan. Terlelap di tengah jurang adalah hal yang sangat besar resikonya, sedikit saja melakukan kesalahan, akan fatal akibatnya pada keselamatan kami berdua. Di bawah sini, yang bisa kulakukan hanya dapat menatap langit malam di hiasi bulan, “masya allah! begitu indah ciptaan-Mu ya Allah, hamba hanya setitik debu jika dibandingkan dengan semua keistimewaan ciptaan-Mu, tak ada yang bisa hamba sombongkan, karna semua adalah milik engkau ya Allah, bakan nyawa yang ada dalam tubuh hambapun, sesungguhnya adalah milikmu, yang dapat di cabut kapanpun engkau menghendaki. Engkaulah yang memegang qodho dan qodharku, ampuni hamba yang selama ini selalu menjauhi-Mu, berani meninggalkan semua perintahmu, dan melanggar semua laranganmu, astagfirullah halazim … ampuni hamba-Mu yang hina ini ya Allah! tiada tempat terbaik bagi hamba untuk kembali, selain kembali padamu yang maha luas pengampunannya, hanya dengan-Mulah ketenangan yang dulu hilang, kini hadir kembali di hati,” ratapku, dengan penuh penyesalan, tak terasa air mata pun menetes, bersamaan dengan jatuhnya air hujan yang mulai membasahi tubuh kami, kuselimuti tubuh kecil Bimo dengan jaket yang sedari tadi melekat di tubuh … tak apalah tubuhku kebasahan, yang terpenting anak ini jangan sampai kedinginan.
“Hallooo! siapapun yang ada di bawah, tolong pegang tambang ini, pegang dengan erat, kami akan menariknya dari atas sini,” tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan malam, membuat aku terkejut di tengah rasa kantuk yang kian melanda.
“Bimo! ayo bangun, kita selamat … ada seseorang di atas sana yang akan menolong kita, sekarang peluk erat tubuh Om, kita jangan pernah terpisah, apapun yang terjadi tetap pegang erat tubuh Om, mengerti?” kulihat Bimo hanya menganggukan kepalanya, tanda mengerti atas semua nasihat yang kukatakan.

     Tangan meraih tali yang diulurkan, kulilitkan pada tubuhku sekencang mungkin, dengan mengucap nama Allah, kukerahkan seluruh tenaga yang masih tersisa. Perlahan tubuh kami mulai terangkat ke atas permukaan, terdengar suara sorak sorai penduduk silih berganti saling menyemangati, terlihat sekilas beberapa kilatan cahaya senter menyilaukan mata, sedangkan aku hanya bisa tergolek lemas ketika tubuh kami berhasil di selamatkan dari dalam jurang.
“gimana keadaan orang asing itu? apa pria itu sudah sadar?” terdengar sebuah percakapan dari luar, mungkin itu suara orang-orang yang semalam telah menyelamatkan kami dari jurang.
Sinar mentari menerobos celah jendela, silaunya membuatku terbangun dari tidur,

     “cepat bangun! Bim, akhirnya kita selamat, Bim … Bimooo!” seketika bibir memanggil-manggil nama anak kecil itu, tangan mengucek mata, berharap ini hanya sebuah mimpi. Aku terperanjat karena tak menemukan sosok anak kecil itu di sampingku, tubuh berusaha untuk bangun, dan mencoba untuk menapakan kaki, namun hasilnya nihil, tubuh ini terasa sangat lemas, tak ada tenaga, bahkan sekedar hanya untuk berdiri, tubuhku limbung dan terjatuh menghantam meja.

Brakkk … brukkk … semua barang di meja berjatuhan, seketika, terdengar suara langkah kaki menuju kearahku, pintu kamarpun terbuka, terlihat seorang wanita muda, bersama seorang pria paruh baya, berjalan menghampiri, dan membangunkan tubuhku yang lunglai di lantai.
“Kamu tak apa-apa? Nak,” seru Pak Warto, sembari menyandarkan tubuhku kembali ke atas kasur. Aku mengetahui namanya setelah beliau memperkenalkan namanya, dan di sampingnya adalah anak perempuannya, bernama Andini.
Mulut tak bisa berkata sedikitpun, hanya mata mengedarkan pandangan ke setiap sudut, berharap menemukan sosok yang dicari.
“Nak! kamu mencari apa? terlihat seperti orang kebingunan,” mungkin kegelisahanku terbaca oleh Pak Warto, sehingga bertanya seperti itu. “Aku mencari Bimo, anak kecil yang semalam bersamaku, apa Bapak melihatnya?” ucapku dengan nada panik.
“Oh … anak itu! tenanglah Nak, anak itu baik-baik saja, dia kini sedang bermain bersama anak-anak kampung sini,” terang Pak Warto.

Hati kini merasa lega saat mendengar penuturan yang Pak Warto ucapkan, jangan sampai aku kehilangan anak itu, karna aku akan sangat merasa bersalah jika tak bisa mempertemukan kembali anak itu dengan orang tuanya kembali. Dan setelah mempertemukan mereka, maka aku akan sepenuhnya menancapkan untuk selalu beristikomah dalam pertaubatanku, walau kutau istikomah dalam kebaikan itu tak semudah seperti saat diucapkan, namun kuyakin Allah maha pengampun, Allah tempat terbaik untuk kembali. Kini dalam setiap doa, hati ini selalu memohon ampun atas kebodohanku yang telah tertipu oleh gemerlapnya dunia, berharap pertaubatanku bisa menjadi penawar semua dosa-dosaku selama ini, amin ….

     “Sudahlah! sekarang kamu istirahat dulu, jangan memaksakan diri jika masih lemas, dan makanlah makanan ini, maaf hanya hidangan sederhana yang bisa kami sediakan,” terlihat wajah ramah Pak Warto saat memberikan wadah berisi makanan.

Tanganku menerimanya dan mulai menyuapkan makanan tersebut, terpancar sinar kebahagiaan dari gurat wajah mereka ketika melihat aku sangat menikmati makanan tersebut. Tak terasa sepiring nasi telah tandas kuhabiskan, Pak Warto dan anaknyapun pamit undur diri setelah aku selesai bersantap.
Kulihat jam dinding sudah menunjukan pukul delapan pagi. Bosan juga rasanya jika harus berlama-lama berbaring, kucoba melangkahkan kaki ke teras depan, terasa perih di kaki saat berjalan. Beruntung kaki ini hanya tergores, andaikan peluru itu menembus tepat di kaki, maka tamatlah riwayatku. Allhamdulillah, ternyata Allah masih memberi kesempatan untukku bertaubat, sehingga menyelamatkan kami dari kejaran anak buah Bang Remon.

Kusandarkan tubuh lemahku di kursi, mencoba menikmati udara segar di pagi hari, suara burung saling bersahutan, kicauwannya begitu menentramkan jiwa, padi hijau terhampar luas, tersusun rapih petak demi petak, membuat sejuk setiap yang memandang, anak-anak terlihat bahagia dengan tawa riangnya berlarian di ladang dan sawah yang luas, langit biru menambah sejuknya udara pagi.
Beberapa menit menghabiskan waktu terduduk di kursi depan rumah, memandangi segala ciptaan Allah yang maha indah, akhirnya kuputuskan mencoba untuk melangkahkan kaki di jalan setapak yang terlihat membelah persawahan, netraku memandangi setiap sudut keindahan alam, allahuakbar … subhanallah … laillahaillaullah … allahuakbar! hanya kalam-kalam Illahi yang kini mampu keluar dari mulut di saat hati begitu terpukau dengan semua keindahan ini.

Tak terasa sudah cukup jauh kaki ini menuntunku menyusuri jalan, terlihat ada seseorang yang melambai-lambaikan tangan ke arahku, ternya dia adalah Pak Warto bersama istri, tanpa membuang waktu akupun langsung membelokan kaki dan menghampiri mereka.
“Ayo! Nak, duduk bersama kami, kita makan bersama, maaf hanya makanan sederhana,” ajak Pak Warto, di iringi senyum ramahnya, akupun segera duduk bersama mereka dan menikmati makanan yang dihidangkan.

Aku tertegun saat suapan pertama kutelan, mengapa makanan ini rasanya begitu nikmaaat sekali? padahal hanya makanan sangat sederhana, dan di tambah tempat yang kurang layak menurutku, mungkin karna ada banyak lumpur di sekeliling, namun hal itu malah menambah rasa nikmatnya. Teringat kembali pada masa lalu, hidupku selalu di kelilingi wanita-wanita cantik dan sexsi, uang begitu tebal memenuhi dompet, dan setiap keinginan seketika terkabul dalam sekali tunjuk, makanpun selalu dengan hidangan yang waaah dan istimewa, tempatnyapun selalu di restoran mewah, namun sayangnya tak pernah aku merasakan nikmat senikmat yang kurasakan saat ini.
“Maaf! kalau boleh tau siapa namamu? dan kenapa ada di jurang itu?” sebuah pertanyaan membuyarkan lamunanku, kualihkan pandangan ke arah Pak Warto, tak kuasa bibir ini bergerak, yang terasa hanya buliran hangat berjatuhan membasahi pipi, terlihat Pak Warto dan istrinya saling berpandangan ketika melihat sikapku yang kini tertunduk lesu.

Beberapa menit aku terdiam. Terlihat Bimo mulai terlelap, mungkin dia lelah setelah melewati semua ini. Jujur akupun sebenarnya merasakan hal yang sama, tubuh ini terasa lelah sekali, ingin rasanya membaringkan tubuh walau sejenak, namun sayangnya keadaan tak mengijinkan. Terlelap di tengah jurang adalah hal yang sangat besar resikonya, sedikit saja melakukan kesalahan, akan fatal akibatnya pada keselamatan kami berdua. Di bawah sini, yang bisa kulakukan hanya dapat menatap langit malam di hiasi bulan, “masya allah! begitu indah ciptaanmu ya Allah, hamba hanya setitik debu jika dibandingkan dengan semua keistimewaan ciptaanmu, tak ada yang bisa hamba sombongkan, karna semua adalah milik engkau ya Allah, bakan nyawa yang ada dalam tubuh hamba pun, sesungguhnya adalah milikmu, yang dapat di cabut kapanpun engkau menghendaki. Engkaulah yang memegang qodho dan qodharku, ampuni hamba yang selama ini selalu menjauhimu, berani meninggalkan semua perintahmu, dan melanggar semua laranganmu, astagfirullah hal azimmm … ampuni hambamu yang hina ini ya Allah! tiada tempat terbaik bagi hamba untuk kembali, selain kembali padamu yang maha luas pengampunannya, hanya dengan-Mulah ketenangan yang dulu hilang, kini hadir kembali di hati,” ratapku, dengan penuh penyesalan, tak terasa air matapun menetes, bersamaan dengan jatuhnya air hujan yang mulai membasahi tubuh kami, kuselimuti tubuh kecil Bimo dengan jaket yang sedari tadi melekat di tubuh … tak apalah tubuhku kebasahan, yang terpenting anak ini jangan sampai kedinginan.

bersambung