Oleh: Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London)

Lima hari yang lalu, emak berusaha nyenengin anak. Kucoba bikin snack untuk buka puasa. Berhubung emak sejak menikah sudah bergabung dalam sebuah organisasi ternama yang disebut KTMA, maka kisah ini tak akan bikin heran. Apa tuh KTMA? Wis ga perlu di cari di Google ataupun tanya tetangga. Komunitas ini hanya aku yang tahu. Keanggotanya baru aku seorang. KTMA adalah Komunitas Tukang Masak Amatiran. Yealah! Bangga amat jadi amatiran? Nggak bangga sih, tapi ini bagian dari cara emak menerima kenyataan. Entah kenapa, meski masak hampir tiap hari selama 16 tahun, nyatanya kok ya nggak pinter-pinter. Mungkin karena bukan passion. Aku lebih suka diminta design undangan kajian dan otak-atik menu komputer daripada bikin menu dapur. Apa daya, ada anak dan suami yang harus diladeni. Mereka harus tumbuh dan berkembang. Mereka butuh nutrisi, nantinya mereka pun bakal menjadi isteri yang mau nggak mau juga harus tahu urusan dapur. Jadi ngasih contoh sedikit lah buat mereka. Kesimpulan sementara dari pendiri KTMA ini adalah: sepertinya ada keseragaman karakter dari orang-orang yang telaten obrak abrik dapur. Mereka adalah tipe perencana, telaten, dan sabar. Mencoba resep baru, baking, sekaligus bikin kue-kue memang butuh kesabaran. Salut bagi semua kaum ibu yang hobi masak di luar sana! Lebih salut lagi untuk Kaum ibu yang jelas jelas terpaksa tapi tetap harus memasak dan berpura-pura menyukainya!

Setelah berfikir panjang akhirnya pilihan snack yang akan dibuat jatuh ke bakpao! Alasannya? Karena gampang dan udah melalui uji coba dapur Riyadh (alias usulan kembaranku). Seumur hidup aku cuma bisa makan bakpao! Mikir gimana membuatnya aja nggak pernah! Entah apaaa yang merasukiku?

Dengan live-guidance alias di tuntun lewat FaceTime dari Riyadh, aku mulai siapkan bahan, tambahkan ini dan itu, jadilah sebuah adonan. Diamkan 15 menit dan mulai siapkan Kukusan.

Sayangnya saudara! Kukusanku adalah tipe DIY (Do It Yourself) alias kreasi dadakan. Mulailah aku masukkan 3 bakpao mentah ke dalam Kukusan. Kutunggu 15 menit … aku buka dan voila! Jadilah bakpao matang tapi ketiganya berdesak-desakan. Bakpaonya mengembang tapi karena tak cukup tempat, akhirnya bentuknya sangat memilukan! Batch kedua, masih tetap dengan teknis yang sama. Karena emak masih ‘ngeyel’ dengan metode sebelumnya dan nggak cerdas sama sekali mencari penyebabnya. Setelah konsultasi dengan senior (Umm Adam) akhirnya ketahuan kalau seharusnya ukuran bakpao itu diperkecil (2 resep aku jadikan 8 padahal harusnya menjadi 16 biji). Alternatif lain adalah menaruh 1 bakpao saja di dalam Kukusan karena diameter Kukusan yang sangat mungil!

Moral of the story!

Kisah di atas tidak di tulis untuk menguak aib pribadi (bahwa Yumna keterlaluan karena nggak bisa bikin bakpao) tapi ada sebuah pelajaran yang aku ambil dan menjadi renungan untuk pembaca budiman. Apa itu?

  1. Dalam kehidupan, manusia akan selalu berbuat dan beramal. Nah untuk tahu bagaimana manusia tadi harus melakukan sebuah hal, dia membutuhkan acuan. Sama halnya resep bakpao dan live-guidance yang kembaranku berikan. Andai aku ngawur saja mencampur bahan tanpa ukuran yang jelas maka tak akan pernah ada bakpao. Acuan bagi manusia harus datang dari ahlinya. Tidak lain adalah pencipta manusia tadi. Allah سبحانه و تعالى! Jika manusia tidak mengikuti kadar ukuran Yang Maha Kuasa, maka jangan salahkan Rabb kita jika justru kehancuran dan kerusakan yang merajalela.
  2. Dalam mengikuti petunjuk pun, kita harus mengambil keseluruhan. Nggak kemudian ikut satu aturan tapi meninggalkan aturan lainnya. Memilih Islam hanya untuk urusan ibadah tapi menolak Islam untuk mengurus permasalahan sosial dan negara sama artinya mengundang masalah. Seperti kasusku, aku sudah benar dalam membuat adonan tapi aku nggak mengikuti anjuran jumlah potongan. Yang seharusnya porsi 16 aku cuma jadikan 8! Walhasil yang ada bakpaonya berukuran kepala manusia. Aku pun tak ikut aturan ukuran panci Kukusan. Wajar jika akhirnya bentuk bakpaonya nggak karuan.
  3. Jika belajar agama jangan yang disukai saja. Pelajari semuanya karena satu sama lain saling terikat, saling mendukung dan keseluruhannya akan menghasilkan aturan yang sempurna. Saat saya belajar bikin bakpao, yang saya fikirkan hanya bagaimana membuat adonanannya, namun berapa ukuran loyangnya, suhunya, apa yang harus di lakukan jika tak sesuai rencana. Aku tak menyiapkan sama sekali. Akhirnya tak berhasil seusai harapan.
  4. Sebagai manusia, berbuat kesalahan sudah menjadi fitrah kita. Yang terpenting menyadari kesalahan, meminta maaf dan tak pernah putus asa akan ampunan Allah سبحانه و تعالى. Mungkin kali ini bakpao-ku kegedhe-an, kisut dan tak beraturan bentuknya. Paling nggak aku tahu dimana letak kesalahannya. Harapanku, kedepannya kesalahan yang sama tak akan terulang. Yang penting terus mencoba.
  5. Bersyukurlah senantiasa meski hal yang kita dapatkan tak sebesar dan seindah harapan. Tak ada Bakpao cantik tak apa, yang penting masih bisa dimakan dan halal. Itu saja!
  6. Layaknya kukusan bakpao, masing- masing manusia juga punya takaran. Siapa yang imannya kuat akan mendapat ujian berat. Siapa yang dekat sama Allah سبحانه و تعالى maka Dia akan mengujinya. Karenanya, jangan pernah melihat ujian sebagai hukuman. Justru ujian kehidupan adalah kehormatan yang Allah سبحانه و تعالى berikan kepada manusia yang beriman. Bukankah demikian Rasulullah ﷺ mengajarkannya?

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

‎يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

‎« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”

HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185)

Ternyata, ada banyak berkah yang kudapat dari bakpao yang tak sempurna. Termasuk inspirasi menuliskannya!

London, 30 April 2020