Oleh : Yudia Falentina

Apa kabar mak, udah masak kolak buat takjil hari ini? Harga gula mahal ya mak? Mana anak-anak minta dimasakin kolak tiap hari. Bikin mak tambah pusing tujuh keliling.

Hanya kaum emak yang bisa merasakan efek dari melambungnya harga gula. Harga di pengecer saat ini 20.000 rupiah, harga yang paling tinggi dalam kasus pergulaan Indonesia. Tingginya harga dikarenakan pasokan yang langka di pasaran. Kelangkaan akibat para spekulan yang sengaja menimbun, kemudian menaikkan harga sekenanya. Juga petani tebu yang biasanya panen pada bulan Maret, kini mundur ke akhir bulan Juni.

Bukan hanya harga gula, harga beras, minyak goreng, bawang merah dan bawang putih sungguh luar biasa. Padahal dalam bulan ramadhan kebutuhan tersebut harus selalu ada dalam menyiapkan menu berbuka.

Untuk menyikapi kelangkaan gula di pasaran, pemerintah akan membuka keran impor. Artinya mendatangkan gula dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri kita. Padahal nih ya, bumi Indonesia itu terkenal subur, tapi kok kita masih bergantung pada impor setiap kebutuhan dalam negeri menipis?
Tidakkah pemimpin kita belajar dari kasus-kasus yang telah lalu? Seharusnya pemerintah punya cara dan trik untuk menyikapi kelangkaan harga gula yang terjadi tiap tahunnya. Bukan malah melakukan impor, yang nantinya akan merugikan para petani gula Indonesia.

Rule Model Ketahanan Pangan Suatu Bangsa

Kisah Nabi Yusuf mengajarkan pada kita, bagaimana mengatasi kelangkaan pangan yang melanda Negeri Mesir. Kebetulan Nabi Yusuf dikaruniai Allah pengetahuan membaca arti mimpi sang raja, sehingga musim paceklik bisa diantisipasi. Negeri Mesir saat itu menjadi lumbung pangan, mampu menghidupi rakyatnya dan negeri tetangga saat musim paceklik tiba.

Strategi Nabi Yusuf ini juga diterapkan para pemimpin Islam berabad lamanya, dan terbukti ampuh dalam memenuhi pasokan pangan dalam negeri. Sekarang, zaman telah berubah, tak dibutuhkan lagi ahli menakwilkan mimpi untuk menciptakan ketahanan pangan suatu negeri. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ketahanan pangan suatu negeri bisa dipenuhi.

Adapun prinsip ketahanan pangan yang diterapkan Nabi Yusuf dan para pemimpin Islam masih relevan untuk diterapkan saat ini yaitu :

Pertama : Optimalisasi hasil pertanian
Berupa mengoptimalkan lahan yang ada untuk usaha pertanian berkelanjutan demi menghasilkan bahan pangan. Disinilah pentingnya peranan aplikasi ilmu dan teknologi, hingga mendukung hasil pertanian.

Kedua : Adaptasi gaya hidup masyarakat
Masyarakat diarahkan untuk tidak berlebihan dalam mengkonsumsi bahan pangan. Sesuai dengan anjuran nabi untuk ” makan tatkala lapar dan berhenti sebelum kenyang”.

Ketiga : Manajemen logistik
Meliputi semua proses yang menyertai ketersediaan pangan musti dikuasai oleh negara. Seperti : pupuk, irigasi, insektisida dibawah kendali pemerintah. Pemerintah membuat pasokan ketika hasil melimpah, dan pengaturan distribusi yang ketat saat persedian menipis.

Keempat : prediksi iklim
Ini bisa dilakukan oleh para ahli dibidang iklim yang telah banyak di Indonesia. Berguna untuk memprediksi perubahan iklim, cuaca ekstrim, musim hujan dan panas dan sebagainya.

Kelima : Mitigasi bencana kerawanan pangan
Berupa antisipasi terhadap kondisi terjadinya rawan pangan yang disebabkan faktor alam. Juga disertai dengan kesediaan warga negara untuk berbagi pada saat rawan pangan melanda.

Sejarah membuktikan, Ilmuwan islam dulunya telah menulis buku tentang pertanian yang dilengkapi dengan prinsip ketahanan pangan. Telah tertulis dalam buku tersebut jenis tanah beserta tata cara pengolahannya. Jenis pupuk dan alat pertanian yang dipakai, juga ilmu seputar irigasi. Berikut juga ilmu pembibitan mulai dari pembibitan, penanaman, pemanenan dan pencangkokan buah. Lengkap sudah buku yang ditulis oleh ilmuwan muslim pada masanya.

Ketahanan Pangan, Negara harus Turun Tangan

Pada saat islam diterapkan dimasanya, pemimpinnya disebut khilafah sangat mendukung ketahanan pangan negerinya. Negara juga menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan ilmu pengatahuam. Aneka penelitian dibidang pertanian sangat disokong oleh negara.

Tak heran pula jika, terlahir ilmuan di bidang pertanian, seperti ada Abu Al Khoir, seorang ahli pertanian abad 12. Beliau menulis dan menjelaskan empat cara untuk memanen air hujan dan membuat perairan buatan. Juga Al Khair menegaskan perlunya penggunaan air hujan untuk membantu proses reproduksi pohon zaitun dengan cara stek. Beliau pun menguraikan teknik pembuatan gula dari tebu.

Ahmad Al Muwairi dalam bukunya Nihayah Al Arab fi Funun Al Adab, menjelaskan bahwa pada saat itu juga telah berkembang industri gula yang didukung oleh perkebunan tebu di Faris dan Al -Ahwaz, yang kemudian menyebar ke seluruh wilayah Laut Tengah. Ia juga menginformasikan penggunaan bajak berat yang digunakan sebelum penanaman tebu.
Begitu banyak para ilmuwan yang dihasilkan semasa islam dipimpin oleh khilafah yang mengayomi rakyatnya. Sehingga mampu mensejahterakan rakyatnya.

Tapi bagaimana ketahanan pangan saat ini?

Sayangnya melonjaknya harga gula saat ini amat berkaitan dengan ketahanan pangan suatu bangsa. Semua ini sebagai ulah penerapan sistem kapitalisme yang menjadikan negeri-negeri jajahan harus tunduk dan patuh pada kebijakan sang adidaya lewat pendagangan bebas antar negara.

Sumber daya alam dan manusia yang melimpah tak menjadikan rakyat Indonesia sejahtera. Semua ini sebagai akibat dari kebijakan negara yang hanya mengutamakan kepentingan pemilik modal, bukan mengutamakan kesejahteraan rakyatnya.

Bagaimana rakyatnya akan sejahtera jika ketahanan pangan negaranya tak terpenuhi. Dan ini merupakan strategi penjajahan yang dijalankan saat ini. Tak perlu peperangan fisik untuk menjajah suatu negeri. Cukup dengan melemahkan ketahanan pangan negaranya, maka negaranya akan mudah dikuasai. Dan itulah yang terjadi saat ini di indonesia.

Kebijakan impor yang terus-menerus dilakukan pemerintah Indonesia akan semakin merugikan para petani tebu, maka rakyat kecil juga yang akan sengsara. Inilah konsekuensi jika negara tak dijalankan sesuai dengan yang Allah perintahkan. Mestinya islam diterapkan ditengah dalam berbagai urusan dalam kehidupan, bukan hanya masalah ibadah ritual saja yang diterapkan.

Maka, jika sistem pengelolaan pertanian tidak dibenahi sesuai dengan anjuran islam maka masyarakat akan terus menjadi korban. Ramadhan kedepan juga akan semakin suram akibat harga gula yang kian menggila. Maka siap-siap saja Kolak Tak Lagi Berasa akibat harga gula yang makin menggila. Wallahu alam bisshowab.

Padang Aro, 2 Mei 2020