Oleh: Vivin Indriani
(Member of Revowriter)

Peradaban datang silih berganti. Sejarah telah mengajar umat manusia arti perputaran zaman dan pergiliran roda kekuasaan di setiap masa. Belum pernah terbukti, mereka yang cukup berkuasa di suatu masa, lalu kekal abadi tahta adidayanya. Begitupun dunia Islam hari ini. Dulu mungkin Islam pernah berjaya. Lalu roda dunia membalik kekuasaan itu hingga terlepas dari tangan Islam. Kini umat dalam posisi lemah. Meski tak bisa dipungkiri bahwa bisa saja kelemahan ini tak akan berlangsung selamanya. Sekali lagi, semua berputar.

Islam hari ini mungkin terlihat lemah. Namun dalam tinjauan geopolitik, sesungguhnya dunia Islam memiliki semua faktor untuk bersiap menjadi kekuatan global baru yang diperhitungkan. Meski secara konsep geopolitik sekuler, keberadaannya masih tersekat ikatan negara bangsa(nation state), namun tidak ada yang meragukan betapa mengerikannya potensi keseluruhan negeri-negeri Islam di mata penguasa adidaya global. Terutama di tengah arus kompetensi manuver kekuatan dan pandemi wabah yang menguras tenaga hari ini.

Faktor-faktor yang memperkuat bandul kekuatan masih berpihak pada negeri-negeri kaum muslimin. Diantaranya adalah faktor letak geografis yang strategis, jumlah keseluruhan penduduk yang sangat besar dan juga kekayaan SDA dan energi yang seolah tiada habisnya. Inilah yang juga pernah menjadi faktor kuatnya negara kapitalis global untuk bertahan menjadi penguasa dunia tanpa pesaing beberapa puluh tahun terakhir. SDA, letak geografis yang strategis dan besarnya jumlah penduduk.

Kawasan dunia Islam sesungguhnya dibagi dalam lima(5) tipologi kawasan. Pertama, etnis Arab atau kawasan Timur Tengah. Terdiri dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Yordania, Yaman, Syiria, Lebanon dan Irak. Lalu yang kedua etnis Persia atau kawasan Iran hingga Semenanjung India. Terdiri dari negara-negara Irano-Persia seperti Iran, Afghanistan dan Pakistan. Yang ketiga adalah etnis Turki atau kawasan Eurasia. Terdiri dari negara-negara Eurasia, Eropa dan Asia seperti Turki Modern, negara-negara Balkan, etnik Turki di Asia Tengah dan Asia Timur.

Yang keempat adalah etnis Negro atau kawasan Afrika. Terdiri dari negara-negara
Afrika Hitam seperti Afrika Timur, Afrika Barat, Afrika Selatan, Afrika Utara, Aljazair, Maroko, Sudan dan Libya. Yang kelima etnis Melayu atau kawasan Asia Tenggara. Terdiri dari negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, Muangthai, Filipina, Kamboja dan Singapura.

Beraneka ragam suku, etnis, warna kulit, bangsa dan juga bahasa ini mewarnai kehidupan bernegara sepanjang masa kesatuan di bawah kekuasaan peradaban Islam. Meski saat ini terpisah oleh sekat bangsa dan teritorial, namun mereka tersatukan oleh kiblat yang satu, quran yang satu, Nabi yang satu dan Tuhan yang satu. Dalam buku Fall of Capitalism & Rise of Islam, Mohammad Malkawi menuliskan, “Terlepas dari perbedaan kawasan dan etnis, dunia Islam adalah sebuah entitas yang homogen”.

Potensi-Potensi Kaum Muslimin

Diantara luasnya keberagaman itu, tersembunyi kekuatan besar dunia Islam. Kekuatan ini merupakan energi besar yang hari ini setara dengan kekuatan singa tidur. Siap dibangunkan sewaktu-waktu hingga masa kebangkitannya tiba. Diantara potensi-potensi yang dimiliki oleh negeri-negeri Islam hari ini adalah, kekuatan jumlah penduduk dan demografi.

Ada sekitar 1,9 miliar muslim di dunia dengan komposisi 12,70% yang terbanyak tinggal di Indonesia, 11,10% di Pakistan dan presentasi paling sedikit sebesar 1.09% tinggal di negara Sudan. Selebihnya tersebar di seluruh penjuru dunia. Populasi penduduk beragama Islam sebagian besar terbagi antara 1,5 miliar Muslim Sunni dan 240-340 juta Muslim Syiah dengan sebagian lainnya termasuk dalam denominasi yang lebih kecil.

Pada bulan Februari 2018 silam, Pew Research Center (PRC), sebuah lembaga studi terkemuka yang berpusat di Amerika Serikat (AS), telah mengumumkan hasil penelitian terbaru yang berjudul Kaum Muslim adalah Kelompok Agama dengan pertumbuhan paling pesat di dunia.
PRC menyoal demografi umat agama-agama besar di seluruh dunia. Potensi demografi ini sesungguhnya makin menambah daya kekuatan kaum muslimin. Bagaimana tidak, jika presentasi kelahiran bayi muslim terus meningkat sepanjang tahun, bisa dipastikan dua puluh hingga tiga puluh tahun ke depan dunia akan dipenuhi dengan populasi penduduk muslim dalam jumlah besar.

Potensi berikutnya adalah jumlah dan kapasitas kekuatan militer negeri-negeri muslim. Dengan jumlah penduduk terbesar kedua dunia, tentu saja militer negeri-negeri muslim termasuk yang sangat diperhitungkan dari sisi jumlah dan kekuatan. Lalu disusul potensi ekonomi dan industri, potensi geostrategis dan yang paling penting adalah kekuatan kesamaan akidah dan mabda’ Islam.

Maping The Global Future

Sebuah laporan yang diterbitkan oleh National Intellegence Council(NIC) pada tahun 2004 menjadi bahan perbincangan yang cukup banyak dibahas hari-hari ini. Prediksi peta tatanan dunia global di tahun 2020 ini menjadi sebuah teka teki terutama di saat dunia berhadapan dengan pandemi global.

Berbagai spekulasi berkembang tentang seperti apakah tata dunia paska pandemi COVID-19 ini berlalu. Mantan menteri luar negeri Amerika Henry Kissinger dalam sebuah artikel di Wall Street Journal mengatakan bahwa pandemi Corona akan mengubah sistem global selamanya. Seperti apakah perubahan sistem global ini?

Jika mengikuti prediksi NIC maka ada 4 kekuatan besar yang diperkirakan akan memimpin masa depan dunia di tahun 2020. Davod World, yakni digambarkan bahwa pada tahun 2020 Cina dan India akan menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia. Lalu Pax America : yaitu bahwa pada tahun 2020 dunia masih dipimpin oleh Amerika Serikat dengan Pax Americana-nya. Kemudian yang ketiga Cycle of Fear (munculnya lingkaran ketakutan). Didalam skenario ini respon agresif pada ancaman teroris mengarah pada pelanggaran atas aturan dan sistem keamanan yang berlaku. Akibatnya akan lahir dunia Orwellian ketika pada masa depan manusia menjadi budak bagi satu dari tiga Negara otoriter. Dan keempat prediksi tegaknya A New Chaliphate : yaitu berdirinya kembali khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global.

Semua prediksi ini memberi kita gambaran bahwa roda perputaran kepemimpinan global sesungguhnya masih akan berputar. Siapa yang paling siap dan paling siaga, dilengkapi dengan faktor pendukung seperti potensi dan segala aspek yang memungkinkan, maka dialah yang akan memimpin tatanan dunia berikutnya. Wallahu ‘alam.

(Catatan Kelas Politik Institut Muslimah Negarawan, Analisis NIC 2020 dan Potensi Kebangkitan Islam)