Oleh: Maman Elhakiem

Memang bagai pertandingan bola yang sulit untuk segera dimenangkan. Corona, bukan seperti tim Deportivo La Coruna yang sering dipandang sebelah mata di kasta sepakbola Spanyol. Ini adalah wabah yang telah mampu menghentikan berbagai aktifitas di ruang publik. Bukan hanya aktifitas olahraga, keagamaan, seni hiburan, pendidikan, juga ekonomi yang menyangkut mata pencaharian jutaan penduduk di muka bumi.

Coronavirus atau covid-19 telah dijadikan musuh bersama, maka serempak manusia menabuh genderang perang untuk melawannya. Tapi, masalahnya lawan yang dihadapi bukanlah seperti pemain bola yang terlihat jelas bermain di atas lapangan hijau. Serbuan virus yang bermula dari Wuhan ini, menyebar tak terlihat mata telanjang, super mikroskopik dan bermutasi lewat berbagai media. Sungguh manusia harus ekstra waspada karena ia bisa berada di sekitarnya tanpa diduga.

Pola serangan virus sulit diprediksi,bukan seperti pola permainan tiki taka , gerendel gaya Italia atau total football negeri kincir angin, Belanda. Penyerangan corona, selain melalui percikan(droplet), sentuhan, bisa juga melalui udara di sekitarnya, maka jaga jarak untuk tidak kontak fisik dan berkerumun itu sangat penting, termasuk memakai masker jika terpaksa harus ke luar rumah.

Sungguh pandemi ini telah mengubah kebiasaan rutinitas manusia yang tidak tergambarkan sebelumnya. Para penguasa negara yang hampir seluruhnya menerapkan sistem aturan kapitalisme ini menjadi panik luar biasa, stress dan banyak yang sakit jiwa, dibuat mati bunuh diri. Membaca data perkembangan dampak corona, malah semakin imunitas tubuh kita semakin menurun. Belum lagi abainya penguasa dalam mengurusi kebutuhan masyarakat yang dipaksa untuk di rumah saja, dalam jangka waktu yang lama akan menjadi titik jenuh, bisa menyebabkan keresahan sosial.

Di beberapa negara, telah terjadi peningkatan angka kekerasan di rumah tangga akibat kejenuhan tinggal di rumah saja. Aktifitas dunia yang sempit dibatasi dinding rumah, tidak ubahnya penjara bagi mereka yang terbiasa bergerak aktif di luasnya alam. Tentu, bagi orang yang beriman kepada Allah SWT menjadi sebuah ujian kesabaran yang luar biasa.Ketika Rasulullah saw. memerintahkan untuk melakukan “lock down”, sebenarnya isyarat tanggungjawab negara yang telah siap dengan segala kecukupan kebutuhan rakyatnya agar terhindar dari bahaya wabah dan dampaknya

Hal inilah yang gagal dipahami oleh negara-negara sekuler, termasuk di negeri ini yang terlambat mengantisipasi bahaya corona yang mematikan ini. Bukannya segera menutup akses negara bagi orang asing, malah melonggarkan kran wisatawan dan tenaga kerja asing. Sementara kebutuhan pangan rakyatpun terancam karena terhentinya aktifitas ekonomi negara yang bergantung kepada sektor non riil yang tentu tidak diberkahi Allah SWT, karena mengandung unsur judi dan riba.

Pertandingan sulit melawan corona ini hampir tiga bulan, tapi pertahanan rakyat bukannya dikuatkan, malah pemerintah kecolongan, kalau tidak mau dikatakan kesalahan fatal dengan meloloskan TKA asal Cina masuk ke Konawe, Sulawesi Tenggara. Rakyat yang selama ini hanya bisa bertahan dengan penghasilan pas-pasan, berjualan di pinggir jalan depan rumah, saat menjelang berbuka puasa. Harusnya kita mampu melawan corona, asal jangan sekedar pasif di rumah, tetapi harus aktif melawan dzalimnya sistem kekuasaan ala kapitalisme, karena berlarutnya wabah ini akibat aturan yang batil tersebut.

Wallahu’alam bish Shawwab.***