Oleh: Vivin Indriani
Member of Revowriter

Propaganda adalah sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan mempengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku propaganda. Langkah ini biasa dilakukan oleh jaring-jaring kekuasaan untuk mengalahkan lawan oposisi. Atau para politikus ambisius yang ingin menang dengan segala cara, tak peduli halal atau haram. Atau mereka yang merasa kepentingannya terganggu oleh sosok atau kelompok pembaharu di tengah masyarakat.

Namun ternyata, propaganda tidak hanya terjadi di masa kini. Di masa Rasulullah propaganda dijadikan sebagai alat melanggengkan hirarki kekuasaan kafir Quraisy di tengah-tengah masyarakat jazirah Arab. Propaganda memang identik dengan kekuasaan, konotasi yang buruk atau negatif dan cenderung merusak.

Kita bisa melihat apa saja propaganda pembesar-pembesar Quraisy untuk menenggelamkan dakwah Nabi sekaligus merusak karakter ketokohan Nabi sebagai keturunan terpandang di Jazirah Arab. Yang paling mencolok adalah langkah demi langkah mereka dengan aksi-aksi tertentu untuk memblokade perluasan Islam.

Dalam beberapa aksi memblokade perluasan ajaran Islam, rezim Quraisy melakukan berbagai lobi dan perundingan baik langsung maupun tak langsung. Pertama, mereka menjadikan Abu Thalib sebagai mediator untuk meredam dakwah Nabi. Hal ini mereka lakukan sebab Quraisy paham, kedudukan Abu Thalib di hadapan Nabi sebagai orang yang istimewa. Mereka pun menggunakan narasi bahwa Muhammad berbahaya bagi akidah sinkretisme yang telah mereka anut sejak lama. Mereka meminta Abu Thalib menjauhkan Nabi dari masyarakat Quraisy. Langkah pertama ini gagal, sebab Abu Thalib menolak tawaran ini.

Langkah kedua, Quraisy memberikan ancaman kepada Abu Thalib. Quraisy memberi alternatif kepada paman Nabi, apakah bersedia menghentikan dakwah Nabi atau Abu Thalib lebih suka melihat salah satu dari dua kelompok di Mekkah ini ada yang binasa. Hal ini sempat disampaikan kepada Nabi, hingga Nabi sempat mengira bahwa pamannya akan meninggalkannya dan menyerahkannya kepada Quraisy.

Sebuah jawaban yang sangat fenomenal dalam sejarah dakwah Nabi ini cukup menjadi penguat Abu Thalib untuk makin menguatkan tekad menjadi penjaga dakwah keponakannya. “Wahai Pamanku, demi Allah, kalaupun mereka menaruh matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku supaya aku meninggalkan dakwah ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya, sampai Allah memenangkan agamanya atau aku binasa karenanya.” Dengan ini Abu Thalib bersumpah, bahwa beliau tidak akan menyerahkan Nabi kepada siapapun selamanya.

Propaganda berikutnya adalah dengan menawarkan pengganti Nabi kepada Abu Thalib. Ammarah bin Walid, seorang pemuda paling kekar, kuat dan tampan di Quraisy ditawarkan kepada beliau untuk ditukar dengan Nabi. Abu Thalib meradang. “Seburuk-buruk beban yang kalian berikan kepadaku adalah ini, kalian memberi kepadaku anak kalian untuk aku beri makan, sedang aku memberikan anakku kepada kalian untuk kalian bunuh…”.

Propaganda tak berhenti sampai di situ. Dari propaganda psikis berlanjut propaganda fisik berupa penyiksaan dan aneka pemboikotan. Mulai dari menyiksa para sahabat dari kalangan budak dan orang-orang miskin, juga melarang terjadinya jual beli dan pernikahan dengan putra-putri keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib hingga mereka menyerahkan Nabi untuk dibunuh.

Karakter Propagandis

Mereka para pelaku atau para propagandis ini memberikan sebuah gambaran, bahwa ada beberapa tujuan yang ingin mereka raih di balik semua aksi propaganda yang dilakukannya. Misalnya dalam propaganda pemberian julukan (Name Calling). Di dalam metode ini propagandis memberikan penggunaan julukan untuk menjatuhkan seseorang, istilah, atau ideologi dengan memberinya arti negatif. Misalnya pada julukan radikal, kadal gurun, intoleran dan sebagainya.

Ada juga teknik Glittering Generality. Ini adalah penyampaian pesan yang memiliki implikasi bahwa sebuah pernyataan atau produk tertentu adalah sesuatu yang diinginkan oleh banyak orang atau mempunyai dukungan luas. Misalnya dalam ungkapan ‘Gerakan Rakyat Menolak Intoleransi’. Di sini ada ketidakjelasan informasi rakyat yang mana, berapa persen yang menolak dan sebagainya.

Lalu teknik berikutnya adalah teknik transfer. Ini adalah suatu teknik propaganda di mana orang, produk, atau organisasi diasosiasikan dengan sesuatu yang mempunyai kredibilitas baik/buruk. Misalnya pada penggunaan sebutan ‘Kelompok Intoleransi’, ‘Kelompok Garis Keras’, atau ‘Organisasi Radikal’ dan sebagainya. Ada arahan dalam propaganda ini untuk menjauhi dan mengucilkan siapapun yang berada dalam organisasi yang disebut ‘radikal’ atau ‘garis keras’ tersebut.

Beberapa teknik lain juga bersifat sama. Intinya adalah merubah pandangan masyarakat agar berubah sesuai dengan yang diharapkan oleh sang propagandis. Dalam hal ini, sebagai muslim kita diharuskan untuk mulai selektif memilih dan memilah informasi yang sampai di hadapan kita. Baik melalui media sosial maupun media cetak.

Setiap informasi yang kita peroleh hendaknya tidak begitu saja kita telan mentah-mentah. Setiap informasi yang hadir, harus kita seleksi apakah itu termasuk dalam berita yang menggambarkan fakta konkret dan apa adanya. Atau tampilan berita itu sesungguhnya telah dipoles sedemikian rupa sebagai alat propaganda kepada masyarakat.

Indikasi ke arah mana muara berita tersebut, atau ada apa di baliknya harus senantiasa menjadi kewaspadaan kita dalam menerima berita. Sehingga kita tidak mudah menjadi pihak yang mudah dimainkan oleh isu-isu atau propaganda tertentu untuk meraih tujuan sang pemberi berita, atau dalam hal ini sang pemesan berita.

Semoga kita selamat di era serba keterbukaan informasi ini, sehingga setiap informasi menjadi jauh lebih mudah kita saring dan mampu menentukan arah langkah kita dengan benar. Bukankah Islam pun mengajarkan demikian seperti dalam hal periwayatan hadits dan penyampaian maqolah para ulama. Wallahu ‘alam.