Bag. 6

Oleh: Ida Rohida

Beberapa menit aku terdiam, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan segalanya tentang jati diriku yang sebenarnya, walau jujur, hati ini ragu untuk bercerita, bisa saja setelah aku menceritakan semuanya, mereka akan ketakutan, atau bahkan mengusirku, namun akan kumulai pertaubatan ini dari kata jujur, karna jujurlah manusia akan selamat, aku tak ingin lagi tergolong orang-orang munafik yang selalu mengandalkan kebohongan dalam hidup, selalu menggunakan topeng, agar selalu terlihat namapak indah di pandang, pujian selalu membuatku senang.

Mungkin dulu aku seorang munafik pendusta, namun itu masa lalu … tapi untuk saat ini dan seterusnya, aku tak ingin kembali menjadi munafik si pembohong besar, “ya Allah kuserahkan segalanya padamu, engkaulah yang maha membolak-balikan hati seseorang, tanamkanlah prasangka baik di hati mereka untuk hamba, sehingga mereka dapat menerima masa lalu hamba, amin,” doaku dalam hati.

“Bismillahirohmanirohim …. namaku Iman, lebih tepatnya Iman Kepada Allah … aku terlahir dari keluarga yang bisa di sebut sangat sederhana, ibu dan ayah bekerja sebagai petani di tanah milik Juragan Katma, orang kaya di kampung. Meski orang tuaku bekerja, namun ekonomi kami sedikit kekurangan, jangankan untuk membeli pakaian mahal, upah kerja Ayah dan Ibu hanya cukup untuk membeli beras dan lauk seadanya, tapi itu tak membuat keharmonisan keluarga kami terganggu, Ayah dan Ibu selalu terlihat rukun. Tahun demi tahunpun berlalu, tak terasa Iman kecil kini telah berumur delapan tahun, hati ini terasa senang sekali karna hari ini Ibu akan mengantarkanku untuk bersekolah, harum aroma khas bau toko begitu melekat di seragam baruku, masih terkenang sampai saat kini, aroma itu begitu tercium di hidung ketika pertama kali mengenakannya di tubuh, mungkin seragam inilah pakaian yang pertama kalinya orang tuaku belikan untukku, maklum dari sejak kecil, tak pernah sekalipun aku merasakan memakai baju baru seperti teman-teman sebayaku, hanya pakaian pemberian dari orang lain yang melekat di tubuh kecilku , meski bekas, namun masih layak untuk di pakai, aku bersyukur masih banyak orang yang masih peduli pada sesama. Dan dengan seragam inilah aku merasa sangat bangga sekali, seragam pertama dari hasil jerih payah Ibu dan Ayah, bentuk kasih sayangnya untukku. Masih terngiang di telinga … ” Nak! Kamu harus jadi orang yang jujur, bertanggung jawab, peduli kepada sesama, dan yang paling penting dalam hidup, jangan pernah menjauhi Allah, apalagi sampai melanggar larangan dan menolak perintahnya, bolehlah jika kita bodoh dalam ilmu dunia, namun tidak untuk ilmu agama, hidupmu takan tertata rapi jika aturan agama tak kamu terapkan dalam hidupmu, karna yang ada hanya napsu belaka yang menguasai jiwa, dan hanya manusia paling rugilah, jika hidupnya hanya mengandalkan napsu belaka, takan pernah kamu temui ketenangan jiwa di hidupnya.

Iman Kepada Allah … Ayah dan Ibumu ini sengaja menyematkan nama itu untukmu, agar kapanpun dan di manapun kamu berada, namamu akan selalu mengingatkanmu kepada Allah … ingatlah Nak, Bapa pasti bangga jika kamu unggul dalam ilmu dunia, namun Bapa akan jauh lebih kecewa jika ilmu duniamu luas namun ilmu agamamu terbatas, karna yang kami harapkan darimu hanyalah doamu, doa dari anak soleh untuk ke dua orang tuanya, doakan kami selalu, meski kelak kami telah tiada … dulu kata-kata itu hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tak ada yang membekas di hati, namun setelah beranjak dewasa, semua kata itu berhamburan kembali dalam ingatan, begitu meresap dan tertanam dalam rasa, sehingga memiliki tempat tersendiri di hati, kata-kata itu pula yang kini membawaku sampai ke tempat ini, karna kata-kata itulah yang telah menyadarkanku bahwa selama ini aku telah disesatkan oleh nafsuku sendiri. Oh! maaf, kok malah ngelantur, aku malah menceritakan masa kecilku,” ucapku kepada Pak Warto dan Istrinya … sekali lagi air mataku berlinang, sekaligus tersipu haru, saat teringat masa kecilku yang penuh kasih dan kebahagiaan. Sesosok anak kecil yang suci tanpa dosa, begitu lugu dengan senyum merekah di bibirnya

Sesosok anak kecil yang suci tanpa dosa, begitu lugu dengan senyum merekah di bibirnya, itulah aku di masa lalu, dan kini sosok anak kecil yang suci itu telah hilang, berganti manusi kotor penuh dosa, yang kini mengiba mengharap sebuah ampunan robbnya … ingin rasanya kembali ke masa lalu, dimana Iman yang masih suci tanpa dosa, senyun indah selalu terlukis di wajahnya.
“Tak apa Nak Iman, jika ingin bercerita, sekedar melepas sedikit beban pikiran,” tutur Pak Warto, di iringi senyum ramah menyembul dari bibirnya.
Sebentar ku terdiam, mengingat kembali masa lalu yang telah terlewati. “Maaf, Bu! Pak! Sebelumnya, jika kejujuran yang akan aku utarakan tidak berkenan di hati kalian, tolong jangan pernah benci aku, namun jika kalian merasa risih dengan keberadaanku, kalian berhak mengusirku, tapi jangan pernah melupakan aku, tolong doakan, semoga aku dapat terus beristikomah menebus semua dosaku dengan taubatan nasuha, tolong doakan, semoga Allah memudahkan jalan pertaubatan ku, bantulah aku dengan doa kalian,” pintaku kepada Pak Warto dan Istrinya, kulihat mereka hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti dengan semua maksudku.
“Hidupku begitu terasa bahagia. Memiliki orang tua yang penuh kasih sayang seperti mereka adalah harta paling berharga untukku, aku sangat menyayangi mereka … sampai pada akhirnya hidupku berubah kelabu seketika, tanpa mengetahui sebabnya, Ayah di tangkap dan di bawa oleh orang-orang suruhan Juragan Katma, kaki kecil ku berlari ketika melihat Ibu meronta, meminta agar Ayah dilepaskan, namun orang-orang itu tidak menghiraukan rengekan Ibu, mendorong tubuh Ibu hingga tersungkur, lalu mereka menyeret kasar tubuh Ayah yang kian terlihat pasrah, Ibu hanya bisa menangis sesegukan, namun tak ada satupun pertolongan datang, penduduk hanya memandangi kami dengan tatapan iba.

Maklum saja … takan ada yang berani melanggar atau menolak perintah Juragan Katma, karna hampir semua penduduk di sini terlilit hutang berbunga kepada Juragan Katma, sehingga mereka bagai burung dalam sangkar, tak bisa berbuat apa-apa. Aku segera berlari dengan seragam yang masih menempel di tubuh, aku baru saja pulang dari sekolah saat Ayah di seret paksa oleh orang-orang itu, tak banyak waktu yang kumiliki, aku segera bergegas, berusaha mengikuti kemana mereka akan membawa Ayah. Tubuh kecilku mengendap-endap di balik rerumputan ilalang, ternyata Juragan Katma telah menunggu di tempat tersebut, terlihat Juragan Katma sedang asik duduk di atas kursi goyangnya, lalu ia berdiri, dan tangannya mulai mencambuk tubuh Ayah yang kian ringkih tak berdaya, suara tawa jahat terdengar dari mulut Juragan Katma, di susul tawa anak buahnya, wajah Juragan Katma terlihat sangat puas melihat tubuh ayah yang mulai terlihat berlumuran darah segar, sedangkan aku hanya bisa menangis tertahan di balik rerumputan, tak ada yang bisa di lakukan oleh anak sekecilku, terasa seperti ada kilatan dalam netraku, di saat melihat langsung sebuah tonjokan bersarang tepat di dada Ayah. Mereka kembali tertawa, tak ada sedikitpun rasa iba untuk ayah, yang ada hanya guratan kebengisan terlihat di wajah-wajah mereka.

Lalu Juragan Katma pergi bersama anak buahnya dengan di iringi suara tawa dan umpatan kasar dari mulut kotor mereka, Juragan Katma pergi bersama anak buahnya setelah memastikan Ayah tergeletak di tanah dan tak sadarkan diri, tubuh Ayah di tinggalkan begitu saja, seakan bangkai hewan yang tak ada harganya. Aku yang sedari tadi berlindung di balik ilalang, mulai berjalan menghampiri tubuh Ayah, kutajamkan mata dan telinga, waspada jika seandainya orang-orang itu kembali, namun suara mobil mereka kian pelan dan menghilang, sebuah kesempatan baik untuk bisa menyelamatkan Ayah … seketika tertegun, mencari cara bagaimana caranya agar aku bisa menolong Ayah? bayangkan saja, seorang anak kecil berumur sepuluh tahun, memaksakan diri untuk membawa tubuh Ayahnya yang tak sadarkan diri, itu sangat mustahil untuk di lakukan oleh anak sekecil itu, namun dengan beralasan kasih dan sayang, sebuah keajaiban itu pun datang menolong. Meski dengan bersusah payah,

Beberapa menit aku terdiam, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan segalanya tentang jati diriku yang sebenarnya, walau jujur, hati ini ragu untuk bercerita, bisa saja setelah aku menceritakan semuanya, mereka akan ketakutan, atau bahkan mengusirku, namun akan kumulai pertaubatan ini dari kata jujur, karna jujurlah manusia akan selamat, aku tak ingin lagi tergolong orang-orang munafik yang selalu mengandalkan kebohongan dalam hidup, selalu menggunakan topeng, agar selalu terlihat namapak indah di pandang, pujian selalu membuatku senang.
Mungkin dulu aku seorang munafik pendusta, namun itu masa lalu … tapi untuk saat ini dan seterusnya, aku tak ingin kembali menjadi munafik si pembohong besar, “ya Allah kuserahkan segalanya padamu, engkaulah yang maha membolak-balikan hati seseorang, tanamkanlah prasangka baik di hati mereka untuk hamba, sehingga mereka dapat menerima masa lalu hamba, amin,” doaku dalam hati.

bersambung