Oleh: Yanti Maryanti

Mudik merupakan tradisi terutama umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.Tapi kali ini bukan mungkin lagi, akan sangat berbeda dengan tahun lalu.

Dan perbedaan ini, sudah nampak sejak wabah Corona melanda sekitar bulan maret, semua merubah seluruh aspek kehidupan.
Mulai tingkat pendidikan, instansi dan pusat perbelanjaan.

Jika selama ini diatur perundang-undangan mengatur pola hidup manusia, dengan tujuan memutus siklus pandemi C 19, apalagi menghadapi mudik, akankah kita memaksakan diri atau kita taat dengan peraturan, bagaimanapun itu semua akan kembali ke diri kita.

Pemberlakuan lockdown, sosial distancing dan pemberlakuan PSBB. PSBB, kata Emil, mampu mengurangi pergerakan manusia. Sementara larangan mudik dapat menekan kasus impor dari zona merah yang merupakan episentrum Covid-19. Sedangkan tes masif bertujuan untuk memetakan persebaran Covid-19.

“Keberhasilan melawan Covid-19 dalam situasi sekarang ada 3 strategi, yaitu PSBB yang ketat, melarang mudik agar tidak ada kasus impor, lalu tes masif. Di situlah kita bisa menurunkan persebaran Covid-19,” ujar mantan wali kota Bandung itu. Sumber CNN Nasional.

Lantas kita akan memaksakan diri pulang kampung, dan nyatanya diuber-uber petugas bagai kucing-kucingan ingin mulus pulang sampai tujuan.

Dan ada cerita yang sangat menggelitik, dulu orang datang dari kota diburu-buru kini sebaliknya mereka yang datang di kota itu ditinggalkan atau bubaran, pasalnya takut bawa oleh-oleh C-19.

Ada yang tak kalah menarik, para pemudik motor, berangsur coba coba pulang meski ditengah pandemi C 19, dengan membuat tulisan yang lucu menggunakan kertas karton, contohnya, Bu saya pulang tak bawa mantu, dia rewel kutinggalkan di rest area.

Belum lagi pernyataan Jokowi tak boleh mudik, hanya boleh pulang kampung. Bagaimana yah?
Kalau pulang kampung dibolehkan sedangkan mudik enggak boleh, nanti berubah (alasannya) pulang kampung, saya pulang kampung bukan mudik,”

Agar lockdown berjalan, pulang kampung ditempuh bagaimana jika cara ini, rumahnya diangkut saja

“Selamat menunaikan ibadah puasa.”