Oleh : Sri Haryati (Komunitas Setajam Pena)

Pandemi covid 19 masih terus berlangsung. Berapa lama lagi ini akan berhenti belum ada yang tahu. Yang jelas pandemi ini tidak hanya berdampak pada krisis kesehatan tapi juga akan menyebabkan terjadinya kelaparan global. Meski sudah diprediksi COVID-19 akan menyebar ke negara-negara berkembang, tetapi pola penyebarannya sulit diukur.

Satu hal yang pasti adalah sistem kesehatan yang masih kurang mumpuni disejumlah negara berkembang, tidak akan mampu mengatasi para korban wabah Covid 19, dari bencana ekonomi, yang terjadi selama pandemi, yang akan menyebabkan tekanan besar terhadap sumber daya pangan.

Seperti dilansir TEMPO.CO (23/04/2020), Lembaga dunia World Food Program mengatakan masyarakat dunia menghadapi ancaman kelaparan besar-besaran dalam beberapa bulan lagi akibat resesi ekonomi yang dipicu pandemi COVID-19 atau virus Corona.

Saat ini ada 135 juta orang menghadapi ancaman kelaparan. Proyeksi dari WFP menunjukkan jumlahnya bisa meningkat dua kali lipat menjadi 270 juta orang. Jumlah ini masih bisa bertambah karena ada sekitar 821 juta orang yang kurang makan. Sehingga, total warga dunia yang bisa mengalami bencana kelaparan melebihi 1 miliar orang.

Bencana pangan ini bisa terjadi di sekitar 55 negara jika melihat pada skenario terburuk. Eksekutif Direktur WFP, David Beasley, mengatakan ada sepuluh negara yang telah mengalami kelaparan dan menimpa sekitar satu juta warga
“Saat menangani pandemi COVID-19, kita juga berada di tepi jurang pandemi kelaparan,” kata Beasley kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB seperti dilansir CNN pada Rabu, 22 April 2020.

Beasley menyebut terjadinya konflik, resesi ekonomi, dan penurunan jumlah bantuan serta jatuhnya harga minyak merupakan faktor yang memicu terjadinya kelangkaan pangan. Dia mendesak PBB untuk mengambil langkah cepat untuk menghindari terjadinya bencana kelaparan besar-besaran ini.
“Ada bahaya nyata bahwa lebih banyak orang meninggal akibat dampak buruk ekonomi akibat wabah COVID-19 dari pada akibat terinfeksi virus itu sendiri.”

Sistem kapitalisme yang dianut banyak negara terlihat kewalahan dalam menangani wabah, juga gagalnya memberi rasa aman, dan tak sanggupnya memberi jaminan pangan menunjukkan kegagalan serius sistem ini. Lalu apakah setelah semua ini, manusia masih membutuhkan bukti lagi untuk meyakini bahwa kapitalisme, sebagai sebuah sistem yang mengatur hubungan manusia, adalah sistem yang rusak dan gagal. Sungguh, sistem kapitalisme ini tidak membawa manusia kecuali pada penderitaan dan kesengsaraan.

Sistem kapitalisme juga berusaha memalingkan masyarakat dari agamanya, dengan menyebarkan kebebasan berpikir dan bertingkah laku, serta memerangi sikap konsisten dengan agama, dan menganggapnya sebagai jenis ekstremisme.

Islam menawarkan solusi utuk mengatasi masalah pangan, misalnya Mitigasi bencana kerawanan pangan, yaitu antisipasi terhadap kemungkinan kondisi rawan pangan yang disebabkan oleh perubahan drastis kondisi alam dan lingkungan. Mitigasi ini berikut tuntunan saling berbagi di masyarakat dalam kondisi sulit.

Dan dengan penerapan syariat Islam akan menyelamatkan manusia dan dunia dari berbagai malapetaka, serta membawa solusi yang akan menyejahterakan. Sistem hari ini telah gagal menyejahterakan manusia, baik pada saat tanpa wabah, terlebih lagi ketika terjadi wabah.

Terkait tata kelola pangan, Islam dengan seluruh paradigma dan konsepnya adalah sistem yang memiliki ketahanan dan kedaulatan pangan yang kuat baik di masa normal maupun menghadapi krisis.

Apalagi di Indonesia di mana negeri ini telah dianugerahi Allah SWT berbagai potensi sumber daya pertanian baik lahan subur, biodiversitas sumber pangan, iklim yang mendukung, hingga SDM petani dan para ahli. Semua potensi ini jika dikelola dengan Islam akan mampu membangun ketahanan dan kedaulatan pangan sehingga membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Untuk mampu mengatasi ancaman krisis pangan pada saat wabah atau pascawabah, maka sejumlah kebijakan strategis yang dilaksanakan di antaranya dengan menjaga kecukupan stok pangan. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan produksi pangan dengan cara memaksimalkan pemanfaatan lahan pertanian oleh masyarakat yang tidak terkena wabah. Untuk ini, negara akan men-support dengan berbagai subsidi yang dibutuhkan berupa modal, saprotan, atau teknologi pendukung.

Untuk pemenuhan jangka pendek, bisa membeli produksi pertanian yang diusahakan petani atau swasta sebagai cadangan negara untuk kebutuhan masyarakat selama wabah. Sebagaimana yang dicontohkan Khalifah Umar bin Khaththab ketika menghadapi krisis. Beliau membangun pos-pos penyedia pangan di berbagai tempat, bahkan mengantarkan sendiri makanan ke setiap rumah.

Apalagi ketika masyarakat di-lockdown, kebijakan ini akan menekan jumlah mobilitas rakyat sedang kebutuhan mereka tetap terpenuhi oleh jaminan negara.
Benarlah firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.” (TQS Al Anfaal: 24).

Solusi dari Allah SWT adalah obat mujarab untuk semua masalah kemanusiaan. Bagaimana tidak, solusi itu dikeluarkan oleh Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui kondisi manusia, karakternya, dan apa yang baik untuknya. Allah SWT berfirman:
“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (TQS. Al-Mulk [67] :14).
Wallohu’alam bishawwab.