Oleh: Maman El Hakiem

Imam as Suyuthi dalam kitab “Tarikh Khulafa” menukil riwayat Ibnu Saad dan al Hakim dari Hudzaifah, ia berkata: ” Ketika Umar bin Khattab masuk Islam, lslam laksana seorang lelaki yang datang. Ia makin lama, makin dekat. Ketika Umar dibunuh, Islam laksana seorang lelaki yang pergi, ia makin jauh dan makin jauh.”

Ibnu Saad meriwayatkan pula dari Shuhaib, ia berkata: “Pada saat Umar masuk Islam, ia menyatakan keislamannya secara terang-terangan dan mengajak manusia untuk berislam secara terang-terangan. Kita bisa duduk di sekitar Baitullah dengan tenang, kita melakukan thawaf tanpa rasa khawatir. Kita mampu menolak orang-orang yang mengganggu kita.”

Kehadiran sosok Umar bin Khattab dalam sejarah Islam tidak bisa diragukan lagi sebagai seorang lelaki, dalam arti pemimpin sejati. Blusukannya saat menjadi seorang khalifah bukan sebagai pencitraan, tetapi wujud ketakwaan hakiki akan amanahnya dalam mengurusi umat. Tanpa rekaman kamera mata manusia dan protokol keamanan. Berjalan sendiri di tengah malam, mencari aib sendiri jika masih ada rakyatnya yang kelaparan saat dirinya merasa kenyang.

Begitulah sejatinya, menjadi lelaki itu sebagai pelindung orang-orang lemah dan berani menjadi tameng dari segala gangguan yang akan mengancamnya. Itulah karakter pemimpin yang hakiki dalam islam, sebagai perisai, bukan yang selalu bersembunyi dibalik kelalaiannya dalam mengurusi rakyatnya. Jika ada yang merasa mengaku mencontoh Umar, tapi di belakangnya jutaan rakyat menderita kemiskinan karena kehilangan pekerjaan, banyaknya kaum muslim yang tidak tenteram dalam ibadah, bahkan ada kelompok dakwah yang giat menyeru untuk menerapkan hukum Allah SWT malah dilarang, Umar yang manakah?

Abu Usamah berkata:”Tahukah engkau, siapakah Abu Bakar dan Umar? Mereka adalah ayah dan bunda Islam.” Sungguh Islam tanpa mereka berdua, laksana anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Kemuliaan dan harga diri seorang muslim mungkin dihinakan, maka Rasulullah saw. selalu berdoa agar Islam ini dikuatkan dengan kehadiran sosok seorang Umar yang kelak menjadi pengganti baginda nabi dalam pengurusan agama dan kaum muslimin. Pengganti dalam etimologis Arab disebut khalifah.

Seorang khalifah itu bukanlah seorang presiden atau raja. Khalifah hadir sebagai pemimpin untuk seluruh kaum muslimin dengan penerapan syariat Islam secara kaffah, melaksanakan tugas dakwah ke seluruh dunia agar menjadi rahmat untuk semesta. Bukan pemimpin yang dibatasi sekat wilayah dan aturan manusia yang dipenuhi hawa nafsu belaka. Mereka yang bernaung dalam kepemimpinan seorang khalifah, terdiri dari masyarakat yang heterogen atau majemuk, namun merasakan hidup tenteram dan sejahtera dalam indahnya Islam. Kenapa? Karena kebaikan Islam berasal dari Allah SWT yang menciptakan dan mengatur seluruh makhluk di muka bumi ini.Wallahu’alam bish Shawwab.[]