Bag. 7

Oleh: Ida Rohida

Meski dengan bersusah payah, akhinya aku pun dapat menggendong tubuh Ayah, dan berhasil keluar dari area ladang tersebut, walau tubuh Ayah sedikit kuseret tapi tak apalah, asalkan Ayah selamat dan bisa berkumpul bersama kembali seperti semula. Terlihat sebuah kendaraan melintas menuju ke arah kami, tepat di saat kami mulai memasuki jalan raya, tangan mungil ini terus melambai-lambai, berharap seseorang bersedia menolong kami … syukurlah kendaraan itu berhenti, terlihat seseorang turun dari mobil bak terbuka, menghampiri dan terkejut melihat keadaan kami, tak ada kata yang keluar dari mulutnya, hanya tatapan iba terlihat dari sorot matanya. Tanpa membuang waktu, dia langsung menaikan tubub Ayah ke atas bak mobil, akupun langsung naik dan duduk tepat di samping Ayah, menjadikan kaki ini layaknya sebuah bantal, untuk mengganjal kepala Ayah agar tak terbentur di saat mobil mulai berjalan, maklum jalanan di kampung, hanya permukaan bebatuan yang disusun rapat, hasil gotong royong para penduduk desa, bukan aspal seperti jalan yang terlihat di perkotaan. Air mata terus mengalir tak tertahan, tangan kecil ini terus memeluk tubub Ayah yang terlihat mengenaskan, entah bagaimana keadaanku saat ini? aku tak perduli, yang terpenting Ayah bisa terselamatkan.

Sepuluh menit kami habiskan dalam menempuh perjalanan, akhirnya mobilpun berhenti, tepat setelah telunjukku mengarah pada sebuah rumah, terlihat Ibu sedang terduduk di depan pintu, wajahnya begitu pucat pasi. Pengendara mobil itu lalu membuka pintu mobil dan mulai menggendong tubuh Ayah, aku hanya bisa menatap dan mengikuti tubuh Ayah dari samping, mustahil jika tubuh mungil ini bisa ikut menggotong, tubuh ringkihku sudah tak bisa lagi menahan beban berat tubuh Ayah.
Terdengar suara histeris Ibu ketika melihat keadaan Ayah, Ibu langsung pergi ke dapur untuk mengambil air hangat, mencoba sedikit mengobati luka di tubuh Ayah, namun orang yang telah menolong Ayah, namun ada satu hal yang baru kusadri, orang yang tadi telah menolong kami, kini dia telah pergi tanpa berpamitan, setelah selesai membaringkan tubuh Ayah di kamar … ia pergi tanpa berucap sepatah katapun, bergegas kaki kecilku berlari ke luar ketika mendengar suara mesin mobil di nyalakan, kuketuk-ketuk kaca mobilnya, berusaha untuk mengucapkan sekedar ucapan terima kasih atas segala bantuannya, namun yang terlihat, orang tersebut hanya tersenyum.
Aku tertegun ketika tangannya mengusap kepalaku dan menyelipkan beberapa lembar uang kertas ketanganku, aku berlari kearahnya mengetuk kaca pintu mobilnya, dan berterima kasih atas segala pertolonganya, namun dia hanya menganggukan kepala, dan memberikan sebuah kartu nama, sekilas terlihat sebuah nama … Remon Sudrajat tertulis di sana,” ucapanku tercekat oleh sakit di tenggorokan karna menahan tangis, teringat betapa sadisnya Juragan Katma memperlakukan Ayah sehingga keadaannya begitu mengenaskan, sehingga menggoreskan rasa trauma di hidupku.

“Lalu! apa yang terjadi selanjutnya? kenapa Ayahmu di perlakukan seperti itu?” Bu Warto terlihat tak sabar ingin mendengar cerita hidupku, terlihat sekilas tangan Pak Warto menyikut tubuh istrinya, melihat hal tersebut sedikit membuat bibirku tersenyum.
“Hari-haripun berlalu, Ibu meminta maaf karna seragam sekolahku satu-satunya kini tak sebersih kemarin, noda darah terlihat jelas di kain seragam merah putih tersebut, itulah noda darah segar Ayah yang menempel di seragamku. Aku hanya bisa menganggukan kepala, lalu tangan mengulurkan lembaran uang merah bersama kartu nama yang diberikan orang yang telah menolong Ayah, kening Ibu terlihat mengkerut, lalu menerima uang tersebut, dibarengi ucapan tanda terimakasih, “allhamdulillah! akhirnya kita punya uang untuk membawa Ayah ke dokter,” hanya itu yang terlontar dari mulut Ibu, namun dapat kulihat kebahagiaan di matanya, sekilas senyum simpul terlukis indah di wajah tuanya. Kamipun membawa Ayah ke kota untuk mendapatkan perawatan, dengan menumpangi mobil angkut sayur, kami meminta ijin untuk ikut menumpang sampai ke kota, dan leganya Bang Sapto pemilik mobil tersebut pun mengijinkan, lumayan untuk mengirit biaya berobat.

Namun sayangnya nasib baik tak berpihak kepada kami. Dari awal peristiwa itu, sampai saat ini, tak ada perubahan dengan keadaan Ayah, yang terlihat malah semakin menghawatirkan … hingga musibah itu pun menimpa kami, tak terasa dua minggu berlalu, jam menunjukan pukul sembilan pagi, dengan tergopoh-gopoh seseorang memanggil namaku, dia menyampaikan sebuah berita mengejutkan, “Ayahmu telah meninggal dunia,” hanya itu yang bisa kudengar, dengan menggendong tas sekolah, aku langsung berlari sekencang-kencangnya, pandangan menjadi sedikit tak jelas, terhalang air mata yang mulai tergenang, “itu pasti berita bohong, tak mungkin Ayah meninggalkanku, jikapun benar, pasti itu hanya sebuah mimpi belaka,” sepanjang jalan mulut ini meracau tak karuan. Sesampainya aku di depan rumah, terlihat bendera kuning melambai-lambai tertiup angin, rumah kecil kami begitu sesak di penuhi para tetangga yang mulai berdatangan, sekedar untuk mengucap bela sungkawa. Begitu tenang saat ku pandangi wajah Ayah, aku pun bergegas memeluk Ayah yang telah terbungkus kain kafan, pelukan terakhir kalinya. Terdengar isak tangis Ibu menggema dalam ruangan, membuat hati ini semakin perih tak terkira.

Lima belas hari sudah kami lalui hidup tanpa Ayah, rasanya separuh jiwaku telah hilang, tak ada lagi semangat yang dulu selalu hadir dalam setiap hariku, kini hanya Ibu alasanku untuk tetap bertahan menjalani hidup. Melihat Ibu bersusah payah mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, rasanya begitu tak tega, seringkali bolos sekolah hanya karna ingin meringankan sedikit beban Ibu, niat hati ingin terus melanjutkan sekolah, namun apa daya, keadaan tak mengijinkan, aku tak tega melihat Ibu bersusah payah sendirian, maafkan aku Ayah karna tak bisa memenuhi harapanmu untuk menjadi anak pintar seperti yang Ayah harapkan, bagaimana bisa pintar, bahkan SD pun aku tak tamat, tapi biarlah, yang terpenting bisa membahagiakan Ibu selagi masih ada. Hanya sesederhana itu cita-citaku saat itu, hanya ingin membahagiaakan Ibu, meski harus mengorbankan masa depanku. Linangan air mata membasahi pipi Ibu, tangannya mengusap dan mengecup kepalaku, terdengar bisikan, “maafkan Ibu yang tak berdaya ini Nak, karna Ibu tak bisa mewujudkan semua anganmu, untuk menjadikanmu manusia berpendidikan seperti orang lain,” ucap Ibu, air matanya menetes membasahi keningku.
“Tak apalah Bu, yang terpenting kita selalu bersama, cukuplah aku menerima perihnya di tinggalkan Ayah, aku tak mau untuk yang ke dua kalinya, jadi … kumohon jangan tinggalkan anakmu ini Ibu, karna aku sangat membutuhkanmu,” lirihku memohon, ku kecup tangannya yang mulai terlihat menua dan keriput.

Hari demi haripun berlalu, dan kini umurku sudah menginjak tiga belas tahun, tak terasa tiga tahun sudah aku bersama Ibu melewati waktu tanpa adanya sosok Ayah … sempat ada tamu yang mendatangi Ibu untuk meminangnya, namun Ibu hanya menggeleng tanda tak menerimanya, “maaf! bukan ingin menolak, namun hati ini sudah tertutup rapat hanya untuk Kang Basro, Ayahnya Iman,” behitulah potongan kalimat yang berhasil kudengar, aku sangat terharu dengan kesetiaan yang Ibu miliki untuk Ayah.
Semenjak berhenti sekolah, semua waktu kuhabiskan untuk bekerja semampuku, sekedar untuk sedikit membantu memenuhi kebutuhan hidup, tak ada lagi kumpul-kumpul dan bermain untukku, setiap hari kuisi dengan mencari kayu bakar untuk di jual kembali, dan mencari rumput untuk pakan ternak kambing milik orang lain, apapun kulakukan demi untuk sesuap nasi. Ya … meskipun hidup kami jauh dari kata layak, namun selagi masih ada Ibu di samping, kebahagiaan itu selalu terpancar di hati.
Hingga suatu hari, di malam yang gelap, kulihat tubuh Ibu menggigil, tubuhnya panas, dan demam. Seketika aku panik, dan lagi-lagi menjadi kebingungan, karna tak ada klinik di desaku, memang ada klinik terdekat dari tempat kami, namun itupun berada di kota, yang harus menempuh jarak yang terbilang jauh, tak mungkin jika harus di tempuh dengan kaki, kami memerlukan kendaraan….

 

Bersambung

 

Bersambung