Oleh: Devita Andriyani

Langit sore itu tampak cerah. Semilir angin berhembus pelan. Menggerakan daun-daun yang ada di pucuk-pucuk pohon. Menerbangkan helai-helai rambutku. Kunikmati sore itu beristirahat di alun–alun kota Salatiga. Setelah dua puluh tiga tahun bekerja sebagai buruh pabrik tekstil di Jakarta aku kembali kota Salatiga. Alun-alun kota Salatiga selalu menjadi tempat istirahat favoritku. Satu jam di alun-alun kota Salatiga memoriku terbawa pada kisah dua puluh tiga tahun lalu. Kisah perjumpaanku dengan gadis penjual mainan anak-anak.

Perjumpaan dengan gadis itu tak bisa kulupa hingga kini. Karena ada kisahku bersamanya meninggalkan goresan cerita terindah dalam hidupku. Kisah yang terangkai indah bagai rangkaian bunga.Jika diingat menimbulkan rasa rindu.Rindu untuk berjumpa meski hanya sebentar.

Gadis itu masih terlalu muda untuk bekerja.Usianya saat itu baru 13 tahun. Gadis seumurannya harusnya tak harus bekerja. Seharusnya lebih banyak waktu untuk belajar untuk menimba ilmu. Namun gadis itu memilih sekolah sambil kerja. Kondisi ekonomi keluarganya yang kurang mampu membuat ia memutuskan pilihan yang tidak mudah. Dengan tetap senang hati gadis itu melakukan pilihannya. Dan dari pilihan itu kedewasaan gadis itu mulai tumbuh.
Itu dua puluh tiga tahun yang lalu. Sekarang gadis itu tak lagi berjualan mainan anak di alun-alun kota Salatiga. Tak lagi kulihat senyumnya yang membuatku tergoda untuk selalu mendekatinya. Namun, jika suatu saat bertemu aku ingin berbicang-bincang lagi dengannya.

Tempat berjualan gadis itu sudah disinggahi oleh Bapak tua penjual kacang rebus. Bapak tua itu masih asing bagiku. Belum pernah aku melihatnya berjualan di alun-alun kota Salatiga. Dua puluh tiga tahun lalu Bapak itu belum berjualan di alun-alun kota Salatiga. Aku baru melihatnya saat pulang kembali ke kota Salatiga
Meski tempat berjualan gadis itu sudah disinggahi orang lain, tapi ingatanku masih lekat pada peristiwa dua puluh tiga tahun lalu. Saat aku bertemu dengannya. Seorang gadis yang menginspirasi hidupku
“Sudah ada berapa mainan yang terjual?” tanyaku pada gadis itu.
“Baru empat mainan Widi, kau sendiri berapa nasi kucing yang sudah terjual?” tanya gadis itu padaku.

Ia memanggilku Widi. Namun nama lengkapku Aryanto Sarwidityo Putro. Itulah nama pemberian kedua orang tuaku. Jika sudah akrab orang-orang memanggilku Widi.
Sementara gadis itu namanya Nania. Itu nama pemberian orang tuanya. Nama yang sederhana seperti karakternya. Berbeda pada gadis-gadis yang lain.

Setiap sore tepatnya jam 16.00 WIB aku berjualan di dekat tempat gadis itu menjual mainan anak. Aku merasa nyaman bisa berjualan dekatnya. Gadis itu ramah dan enak diajak berbincang-bincang.Aku merasa hari-hariku berjualan nasi kucing jadi terasa tidak membosankan.

Sejak hubunganku dekat dengan gadis itu ada keinginan untuk selalu berbagi cerita. Mulai dari cerita tentang keluarga, teman-teman sekolah dan impian.Senang rasanya aku bisa berbagi cerita dengannya. Rasanya bebanku jadi terasa ringan. Meski secara usia gadis itu lebih muda tiga tahun dibawahku, tapi ia tampak lebih dewasa dalam bersikap. Gadis itu tampak santun dan selalu bersemangat. Kata-katanya pun selalu positif.

Dari wajah gadis itu tak pernah terlihat sedih meski persolan hidup selalalu mewarnai hidupnya. Aku banyak belajar dari hidupnya.
“Nania, aku lahir dari keluarga broken home. Bapakku bercerai dengan ibu saat aku kelas 2 SD dan kini ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah pengusaha mebel terkenal di Salatiga. Sore hari aku bekerja paruh waktu berjualan nasi kucing di alun-alun kota Salatiga untuk meringankan beban orang tua menyekolahkan dua adikku. Pekerjaan itu aku tekuni sejak kelas 1 SMP.” ceritaku pada gadis itu.

     “Mas Widi memang kau lahir dari keluarga broken home tapi kau tak boleh sedih dan patah semangat. Kau harus tetap bersemangat. Lakukan pekerjaanmu dengan baik. Kau masih muda. Perjalanan hidupmu masih panjang.” kata gadis itu menepuk pundakku.

     “Sejujurnya aku malu Nania dengan teman-teman sekolahku di SMA dengan kondisi saat ini.Teman-temanku tak seperti aku. Orang tua mereka masih utuh. Mereka lahir dari keluarga ekonomi cukup. Sementara aku tidak.Tapi aku belajar untuk menerima kenyataan hidup.“ dengan terus terang aku ungkapkan perasaanku .

     “Dalam hidup tentu selalu ada badai persoalan datang. Itu ujian bagi kita. Kita hanya perlu sabar untuk menghadapinya.Tak usah berkeluh kesah. Karena hanya akan menambah derita yang kita alami. Syukurilah hidup yang Tuhan beri. Hari ini kita masih bisa menikmati sesuap nasi. Sementara masih banyak orang-orang yang hidupnya mengharap belas kasih dari orang lain.Belajar berpikir positif saat ada persoalan dalam hidupmu.”kata gadis itu menguatkan.

Semangat semakin membara saat ada hadirnya gadis itu. Kala persoalan hidup tak hentinya membuatku semakin putus asa gadis itu memberi semangat. Gadis itu bagai oase di padang gurun. Hadirnya dalam hidupku selalu menjadi berkat. Aku bersyukur Tuhan memberikan orang-orang terbaik dalam hidupku. Tuhan memakai gadis itu sebagai alat-Nya. Untuk memberikan inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya.

Tiap aku berjualan selalu kunantikan hadirnya. Aku rindu bisa melihatnya setiap saat. Gadis itu tak hanya cantik secara fisik. Tapi kecantikkan dari pribadinya juga selalu terlihat. Senang bisa selalu ada di sampingnya. Menikmati sore hari yang cerah bersamanya.

Suatu sore pernah gadis itu berbagi cerita denganku tentang keluarganya. Sejak aku mendekatinya ia mulai banyak berbagi cerita denganku.

     “Mas Widi, aku lahir dari keluarga broken home. Saat aku kelas 3 SD Bapakku bercerai dengan ibu karena ia tak mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Kini ibu bekerja sebagai tukang pijat panggilan. Penghasilan dari pekerjaan tukang pijat tak tentu. Sejak kelas 5 SD aku mulai berjualan mainan anak di alun-alun Salatiga. Kulakukan ini dengan sepenuh hati untuk meringankan beban orang tua. Aku masih SD sementara adikku masih Taman Kanak-Kanak.“ cerita gadis itu padaku

“Nania, memang kau wanita yang luar biasa.Meski kau harus hadapi kenyataan kedua orang tuamu bercerai. Kau memang selalu tampak ceria.”kataku pada gadis itu

“Makasih Mas Wid kau juga harus luar biasa. Kau harus kuat hadapi persoalan. Persoalan kita sama. Tapi kita tetap harus semangat.”katanya menguatkanku

Bagiku Nania memang sosok yang tak hanya pekerja keras. Tapi dalam segala hal ia mampu untuk berpikir jernih. Tidak menyalahkan Tuhan atas kondisinya. Karena persoalan yang dihadapi gadis itu diijinkan Tuhan ada untuk menjadikan seseorang semakin kuat. Banyak hal positif selalu kudapat darinya. Saat jualannya sepi Nania mengisi waktu untuk membaca buku-buku yang inspiratif. Bagi Nania membaca buku yang positif bisa memberi semangat hidup bagi seseorang.

Tak ada salahnya jika ia menikmati sore dengan ditemani satu buku yang menginspirasi hidupnya.
“Mas Wid, hanya buku inpiratif inilah yang mampu bangkitkan semangatku. Cobalah diwaktumu yang luang membaca buku–buku yang dapat menginspirasimu. Selain menambah wawasanmu buku bisa menjadi api yang menyalakan semangat hidupmu.” kata gadis itu sambil menunjuk buku yang dibacanya

     “Nania, kalau boleh tau apa impianmu suatu saat nanti?” tanyaku pada gadis itu.

   “Impianku ingin menjadi seorang guru di desa yang masih tertinggal. Aku ingin memajukan pendidikan di desa–desa tertinggal. Aku rindu pendidikan di desa semakin maju tapi aku harus kuliah. Aku ingin mencari beasiswa untuk biaya pendidikanku di universitas.” jawabnya dengan penuh semangat

    “Impian yang bagus Nania. Kalau aku ingin jadi seorang Pengusaha kuliner. Jika sukses aku ingin bantu anak dari keluarga kurang mampu agar bisa sekolah.”kataku pada gadis itu dengan penuh harap

Kini gadis itu hanyalah menjadi sebuah kenangan. Sejak kembali ke kota Salatiga aku tak pernah kutemukan gadis itu. Keberadaan tak pernah aku tau. Aku berharap suatu ketika Tuhan mempertemukanku dengannya.