Oleh : Vivin Indriani
(Member of Revowriter)

Bulan Ramadhan sudah menyapa. Bagi pikiran dan jiwa yang dipenuhi kenangan baik akan Ramadhan dan ritual ibadah di dalamnya, pasti akan menyisakan setitik noktah dalam hati. Ramadhan tahun ini memang terasa berbeda, wabah menjadikan manusia dipaksa menerima bahwa tahun ini tak lagi sama.

Wabah memaklumkan aktivitas-aktivitas yang biasanya rutin dilakukan saat Ramadhan tidak bisa lagi terlaksana. Tarawih berjamaah di masjid, tadarrus Quran bersama, berbagi takjil di tempat-tempat keramaian, menjamu keluarga dan rekan kerja buka puasa di salah satu tempat makan atau restoran, atau bahkan mendatangi tempat-tempat kajian dilaksanakan. Semuanya seolah diputar posisinya 180 derajat. Seluruh dunia melewati semua kondisi itu dari dalam rumah saja.

Ada hikmah yang selalu bisa diambil oleh orang beriman di manapun dan dalam kondisi apapun. Termasuk menjalani ritual Ramadhan tahun ini di tengah pandemi. Setidaknya ada beberapa himah yang bisa diambil.

Pertama, perjuangan untuk memberikan sajian terbaik, pelayanan terbaik bagi keluarga sekaligus memenuhi sisi spiritual diri merupakan gemblengan luar biasa bagi para ibu. Mereka justru dituntut mengeluarkan segenap sisi superhero yang dimiliki semaksimal mungkin. Mungkin inilah sesungguhnya sisi yang paling mendapat perhatian cukup besar diantara sekian lamanya tugas-tugas kerumahtanggaan yang para ibu jalani.

Kedua, setiap perjuangan pasti meniscayakan hasil. Semakin keras dan berat upaya yang dilakukan dalam konteks ritual ibadah, tentu saja pahalanya akan lebih besar. Jauh lebih besar dibanding saat melakukannya di luar Ramadhan di masa tidak ada pandemi.

Ketiga, yakinlah bahwa sesudah masa kesulitan senantiasa akan ada kemudahan mengikutinya. Sebagaimana telah Allah sampaikan dalam surat An-Nashr, sesugguhnya sesudah kesulitan akan ada kemudahan. Begitu juga beratnya ibadah bulan Ramadhan di tengah pandemi hari ini. Ada kemudahan yang pasti telah Allah siapkan bagi kita. Sebuah kebaikan yang sangat besar.

Berbicara konteks kebaikan yang sangat besar ini, maka seluruh dunia pasti akan memperoleh sebagaimana yang telah Allah janjikan. Maka apakah sesungguhnya yang disebut baik bagi dunia dan sekian milyar penduduk yang bernaung di atas bumi ini?

Jawaban sesungguhnya bisa kita lihat dari kondisi dunia sebelum wabah ini hadir. Kesulitan apa yang dihadapi bumi kita hari-hari terakhir jelang wabah. Kita melihat dengan jelas bagaimana nampak kerusakan dan kehancuran dari berbagai sisi kehidupan.

Allah Ta’ala berfirman,

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat)[1] manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Tidak hanya secara fisik penampakan bumi, seperti kerusakan lingkungan, kebakaran hutan, pencemaran sungai dan air tanah, polusi udara yang ugal-ugalan. Bumi bahkan terasa berat bernafas di antara semua cobaan yang diberikan manusia kepadanya, klaim Khalifah fil Ardh sepertinya diubah dengan seenaknya menjadi Mandor yang berbuat semaunya.

Dari sisi lainnya, kita bisa lihat pada tampilan makhluk bernyawa yang bernaung di bawah langit dunia. Hewan-hewan sebagian besar bergerak menuju kepunahan. Makin banyak manusia-manusia bejat yang memanfaatkan hewan sebagai obyek siksaan. Adapun manusianya, kita bisa lihat ada kehancuran yang rapuh dalam tata keluarga hari ini.

Keluarga ideal di mana ayah bekerja mencari nafkah, ibu mengasuh anak dan mengatur rumah tangga sepertinya menjadi barang langka yang susah ditemui. Kriminalitas, penjajahan fisik dan kebijakan, darah tertumpah tanpa hak, kerusakan moral dan aneka ragam kejahatan mendominasi kultur atmosfer bumi. Stabilitas bumi betul-betul diuji sampai titik darah penghabisan.

Walau kadang sesuatu itu jika telah mencapai klimaks maka akan bertemu dengan titik balik. Mungkin masa inilah titik balik bumi. Masa di mana bumi berbalik memaksa manusia dengan aturan sunnatullah alam. Mengirim manusia ke sudut-sudut perenungan. Membuatnya bermuhasabah atas ulah tangan dan buah karyanya yang merusak.

Maka di momen Ramadhan inilah masanya. Tidak hanya ini adalah masa berkontemplasi dan menjernihkan pikiran. Namun juga masa di mana kita menetralkan semua efek samping yang telah kita berikan sepanjang separuh usia bumi ini.

Bumi mungkin membantu kita, tidak hanya membersihkan area sekitar kita, namun juga dari dalam diri kita pun tak luput dari proses pembersihan. Detoksifikasi, pembuangan racun-racun dalam diri manusia dan dari luar diri manusia. Wallahu ‘alam.

revowriter

ramadhanbersamarevowriter

ramadhan2020