Bag.8

Oleh: Ida Rohida

[28/4 12.38] Ida Rosida: kami memerlukan kendaraan untuk sampai ke tempat tujuan.
Kepada siapa aku meminta tolong? sedangkan di kampungku kendaraan masih terbilang barang langka, hanya Juragan Katma satu-satunya yang memiliki kendaraan di sini. haruskah aku meminta tolong padanya? orang yang telah menyebabkan Ayah meninggal dunia? namun dengan melihat keadaan Ibu yang semakin memburuk, akhirnya aku mengenyampingkan ego, dan memberanikan diri untuk meminta pertolongan ke pada Juragan Katma, meski kutau hasilnya akan mengecewakan, namun siapa tau hati Juragan Katma sedang baik hati saat kami meminta bantuannya, dan mau meminjamkan mobilnya untuk membawa Ibu ke kota untuk berobat.
Singkat cerita, akhirnya kami sampai ke rumah Juragan Katma, terlihat pemilik rumah sedang asik duduk di kursi kesayangannya.
“Asallamuallaikum! Juragan,” ucapku membuka percakapan.
Tak ada jawaban, hanya pandangan sinis yang kami dapatkan. “Ada apa kalian ke rumahku?” tanya Juragan Katma drngan nada membentak, terdengar menakutkan.
“Maaf! Juragan, kalau boleh, kami mau meminjam mobilnya Juragan, agar bisa membawa Ibu ke kota untuk berobat,” lirihku mengiba pada Juragan katna. Namun sayangnya Juragan Katma seketika menolak maksud kami dengan kata-katanya yang sangat kasar, menghardik dan mengusir kami, layaknya ke pada hewan, “heh! dengar ya … jangan pernah mimpi, kalau gue mau nolongin lu, kalian itu manusia gak berguna, bagus deh kalau Ibu lu sakit, biar mati sekalian, biar bisa nyusul si Basro, Bapak lu. Dulu bapak lo maling di tempat gue, padahal gue udah baik, mau memperkerjakan Bapak sama Ibu elu, tapi apa balasanya? Bapak lu colong barang-barang gue. Makanya orang licik kaya Bapak lu pantesnya mati aja, lebih bagus lu sekeluarga bisa ikutan mati, biar hati gue puaaasss …hahaha, dasar keluarga maling …” untuk kesekian kalinya suaraku tercekat, berganti tangis tak tertahan, masih terngiang saat kata-kata itu meluncur lepas dari mulut Juragan Katma, hati ini begitu sakit saat mengenang kembali perisriwa tersebut, terasa belaian lembut di punggung, Pak Warto mencoba menguatkan, untuk beberapa menit, hanya ku lewati dengan isak tangis yang kian tak terelakan, hingga akhirnya mencoba untuk menguatkan diri, dan melanjutkan kisah hidupku yang menyakitkan.
Kami pun terpaksa pergi dengan tangan yang hampa, langkah kian tak menentu, entah apa yang bisa ku lakukan agar bisa menolong Ibu … kini tubuhnya terlihat menggigil, Ibu berkata sudah tak kuat lagi untuk berjalan, hingga ku putuskan untuk menggendongnya.
Di tengah perjalanan pulang, hatiku merasa panik, mengapa tubuh Ibu begitu terasa dingin? apa yang telah terjadi pada Ibu? aku hanya bisa berjalan lebih cepat, tak peduli ada mobil atau tida, yang terpenting Ibu harus selamat, meski harus dengan jalan kaki, akan ku lakukan demi Ibu. Jarak yang cukup jauh, perlahan mulai terlewati, sesekali tubuhku terjatuh lemas karna lelah menahan tubuh Ibu yang sedari tadi ku gendong. Hingga di sebuah persimpangan jalan, terlihat sesosok Kakek tua sedang mencari rumput, bergegas kami menghampiri Kakek tersebut, terlintas di pikiran, sebuah ide yang mungkin bisa meringankan kesulitan kami.
“Kek! Maaf, saya Iman, dan ini Ibu saya, kami dari kampung ingin ke kota, berniat untuk membawa Ibu berobat di sana, Ibu saya sedang sakit keras, tapi sayangnya dari tadi saya tidak mendapatkan kendaraan, kalau boleh saya ingin meminjam gerobak Kakek ini, agar saya lebuih mudah untuk membawa Ibu saya, saya mohon, kami berasal dari pelosok perkampungan, tak ada kelinik di sana, bahkan kendaraanpun cukup sulit kami tumpangi, hanya segelintir orang kaya saja yang memilikinya, jadi sekali lagi, bolehkah saya meminjam gerobak rumput ini? Kek,” ucap ku dengan sedikit mengiba, berharap semoga Kakek tersebut mau meminjamkan gerobaknya.
“Kasihan sekali nasib kalian, jika benda ini bisa membantu, maka bawalah, maaf Kakek hanya bisa membantu dengan ini, semoga kalian selamat sampai tujuan,” jawab Kakek tersebut, dengan tatapan iba, mungkin Kakek tersebut merasa kasihan pada nasib kami yang malang, bahkan diri ku sendiri pun merasa bahwa
[28/4 12.40] Ida Rosida: mungkin Kakek tersebut merasa kasihan pada nasib kami yang malang, bahkan diri ku sendiri pun merasa bahwa Allah tak pernah adil pada hidup kami.
Singkat cerita, akhirnya kupinjam gerobak Kakek tersebut, merebahkan tubuh Ibu yang kian lemas, ke dalam gerobak tersebut, meski hanya gerobak, namun alat ini sedikit meringankan beban ku. Singkat cerita, akhirnya kami sampai ke sebuah rumah sakit, cukup besar terlihat dari gerbang. Segera ku gendong tubuh Ibu ke dalam rumah sakit, tak lama suster terlihat membawa Ibu ke salahsatu ruangan setelah aku mengurus administrasi terlebih dahulu, ku pandangi tubuh Ibu yang tak berdaya, bibirnya terlihat pucat pasi, beberapa alat Dokter menempel di tubuh Ibu, dan pemandangan mengerikan itu kini terulang kembali, dulu aku sangat ketakutan saat melihat tubuh Ayah di aniaya tanpa belas kasihan, dan hal itu cukup menggoreskan trauma di hati, dan kini goresan trauma itu semakin bertambah, di saat melihat Ibu tergolek lemas, tanpa ada sedikit pun yang peduli menolong, hanya Kakek tua itu yang bersedia menolong kami, “semoga Kakek selalu sehat,” harap ku dalam hati.
Suara dengungan membuyarkan lamunan, terlihat beberapa petugas kesehatan masuk ke dalam ruangan, terlihat tangan seorang Dokter memeriksa mata Ibu, mereka terlihat sibuk, hingga sebuah suara berdengung lambat terdengar, nit … nit … nittttt … terlihat beberapa Suster ke luar, hingga air mata ini tak dapat lagi terbendung, saat sebuah kain menutupi tubuh Ibu.
Sebuah usapan lembut di pundak, Dokter menghampiri dan mengucapkan bela sungkawa atad meninggalnya Ibu, seketika tubuh begitu terasa lemas, aku menepuk-nepuk pipi, berharap ini semua hanya mimpi, namun sayangnya ini bukanlah mimpi, kini Ibu terbujur kaku tak bergerak.
“Ibuuu! aku mohon bertahanlah demi aku, anakmu ini tak punya siapa-siapa lagi, selain Ibu, satu-satunya yang menyayangi aku dengan penuh kasih sayang … jika ibu pun pergi, aku harus bersama siapa lagi menjalani hidup? aku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain Ayah dan Ibu, Ibu tolong jangan pergi, ku mohon bertahanlah untuk anakmu ini, ku mohon,” ratapku, setelah mendobrak pintu yang memisahkan kami, tak ada lagi yang bisa di lakukan, hanya dapat memeluk, dan mencium Ibu untuk yang terakhir kalinya.
Setelah semua pengurusan jenazah telah selesai, akhirnya aku membawa Jasad Ibu dengan menggunakan ambulan, dan setibanya di rumah, terlihat beberapa warga sudah menunggu kedatangan kami, sebelumnya aku sudah memberitahukan atas meninggalnya Ubu ke pada Wa Sodik, saudara sepupu Ibu, aku meminta di buatkan sebuah kuburan terletak di pekarangan rumah yang kosong, tepat di sebelah pusara Bapa, agar aku dapat melihat pusara mereka, di kala hati ini sedang di landa rindu.
“Tuh kan! apa kata gue, keluarga lu tuh, keluarga sial, sampe Tuhan juga benci liat kalian hidup, makannya di matiin satu-persatu, syukur deh, biar gue gak usah lagi liat muka-muka miskin kaya lo berkeliaran di kampung ini, hanya mengganggu pemandangan saja, dasar gak berguna. Sabar! ya Iman, percuma, ngapain nangis-nangis,sebentar lagi lo juga bakal nyusul mereka ke neraka, hahaha …” teriakan demi teriakan meluncur deras dari mulut Juragan Katma, kata-katanya membuat hati ini meradang, ingin rasanya ku tonjok mulut kotornya itu, namun apalah daya? lagi-lagi kemiskinanku gak akan bisa menandingi harta yang di milikinya, bisa-bisa aku akan di jebloskan ke jeruji penjara jika berani menyerangnya.
“Itu biaya bekas nguburin jasad Ibu lo, jangan sampe minjem ke gue, ya! karna percuma, gue gak sudi nolongin keluarga maling kaya kalian, eh, pasti lu gak perlu duit gue, kan? Karna lo udah megang duit hasil nyolong, hahaha … kalau Bapaknya maling, pasti anaknya juga bakalan jadi maling juga, hahaha …,” Juragan Katma yang terus berbicara dengan lantangnya, suara tawanya semakin membuat emosi memuncak. Sedangkan aku yang sedari tadi menahan diri, hanya bisa memalingkan muka, sedikitpun aku takan meminjam uang pada Juragan Katma, celengan yang selama ini kugunakan untuk menyimpan uang hasil jerih payahku, akhinya kupecahkan demi ke

Bersambung