Oleh: Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London)

Beberapa hari yang lalu aku membaca status seorang teman. Dia menyampaikan sejak hari ketiga Ramadan, dia lebih memilih membeli makanan dari luar daripada masak sendiri di rumah. Bisa dibayangkan komentar yang muncul di lapaknya. Ada yang mendukung. Ada yang ingin ikut jejaknya tapi kondisi uang yang tak mengizinkan. Ada pula yang menasihati supaya tidak membeli dari luar karena tak terjamin higienisnya. Nggak ekonomis lah. Mungkin ada yang menyimpan dalam hati tapi nggak dituliskan. Bisa jadi dia dianggap pemalas karena nggak mau masak. Atau sok nggaya pake’ diumumkan di FB segala. Wis tah lah … kalau dituruti bisa puyeng kepala.

Setelah beberapa menit aku ikut komen (aku termasuk yang mendukung), Si penulis status nyamperin. Dia menjelaskan kepadaku niat sebenarnya dia beli buka puasa dari luar. Dia jelaskan bahwa teman-temannya sedang mengalami kesulitan ekonomi. Suami temannya kehilangan pekerjaan karena lockdown. Akhirnya isteri membantu dengan jualan makanan. Jadi si temanku ini berniat hanya ingin membantu mereka, meringankan beban mereka yang kesulitan tapi menjauhi sikap meminta minta. Karenanya dia membeli makanan mereka. Jika mau jujur, temanku ini pun merasa lebih irit memasak sendiri. Namun demi membantu saudara, dia rela merogoh kocek lebih dalam. SubhanAllah. Kadang apa yang terlihat kasat mata tidak seperti yang kita duga. Betapa banyak orang ‘merasa’ tahu kehidupan pribadi seseorang. Merasa tahu latar belakang yang mendasari pilihan seseorang. Merasa berhak menghakimi pilihan orang yang jelas-jelas halal. Kalau perkara haram mah memang jelas harus diluruskan. Namun kalau sebuah pilihan yang dibolehkan, kenapa juga diperdebatkan.

Bagi kaum ibu, banyak materi diskusi yang masuk ranah pilihan. Misalkan ‘cara’ praktis membentuk karakter anak. Memang ada aturan dasar baku yang semua orang tahu. Namun praktik keseharian misalkan, cara memuji, bentuk pendisiplinan, bagaimana menanamkan keistiqomahan dan kepedulian terhadap lingkungan. Bagaimana menanamkan kecintaan kepada ilmu dan Al Quran. Jenis makanan yang harus dihidangkan, membuat anak mampu berdikari, membuat mereka percaya diri, membuat mereka tegap berdiri diatas kebenaran, berani tampil beda selama memegang Islam. Hal-hal di atas adalah end product dimana ada bermacam cara untuk meraihnya. Yang membedakan adalah ilmu dasar yang dipakai untuk meraihnya. Ada yang memakai ilmu ‘perasaan’. Ada yang memakai pengalaman diri sendiri dan ada yang memakai pengalaman orang dalam bentuk tulisan. Bisa juga dengan dasar psikologi yang disajikan oleh ilmuwan.

Disini pentingnya kita sedikit ‘legowo’ jika ada orang yang melakukannya dengan cara yang berbeda. Kalaulah cara mereka tidak membuahkan hasil, tunggulah hingga mereka menyadarinya. Tak perlu memberikan nasehat tanpa diminta. Apalagi memakai dengan cara menyindir dan merendahkan kemampuan mereka. Bukannya mengarah kepada perubahan, yang ada malah sakit hati dan resistensi.

Lah kalau semuanya dikembalikan ke pribadi masing-masing, berarti tak ada amar ma’ruf nahi munkar dong? Lah yang kita bicarakan kan hal-hal yang masuk dalam ranah kebolehan. Jadi semua pilihan adalah kebaikan. Level kebaikannya saja yang bisa jadi berbeda. Ada yang baik, sangat baik, dan super sangat baik. Namun semuanya baik dan bukan kemungkaran. Dan untuk mengajak orang baik menjadi lebih baik, tidak perlu membuat mereka merasa buruk terlebih dahulu. Hal ini justru tak membawa kebaikan. (Mbulet nggak sih?)

Karenanya, hal yang perlu diributkan bukanlah perbedaan cara menyajikan makanan, beli dirumah atau beli diluar. Bukan pula cara memuji anak, dengan kata-kata saja atau memakai chart. Tapi energi kita perlu diarahkan untuk hal yang memang benar benar munkar.

Disinilah kita perlu melihat prioritas masalah. Ibarat sebuah rumah, jika rumah sedang kebakaran, lalu si pemiliknya malah ribut mempermasalahkan warna cat yang akan dipakai untuk ruang tamunya. Atau ribut dengan jumlah pintu dan jendela. Maka kita yang bisa melihat kebakaran itu akan mengelus dada. Mbokya diselamatkan dulu rumahnya, dimatikan dulu apinya, di selesaikan dulu kebakarannya, karena itulah masalah terbesar mereka. Baru nanti berfikir tentang design interior rumahnya.

Ketika kita melihat rumah tangga, diri kita, masyarakat Indonesia dan ummat muslim di dunia, di masing-masing lapisan akan ada masalah yang urgen untuk diselesaikan. Ada ‘kebakaran’ yang harus dipadamkan dan dikendalikan. Yang pertama kali dibutuhkan adalah mengidentifikasi apa masalah urgen itu? Adakah dalam lingkup keluarga? Kekurangan diri? Masyarakat disekitar kita dan ummat Islam? Setelah mendapatkan jawabannya, langkah selanjutnya adalah mencari solusinya lalu memulai action plan. Masalah di semua lapisan harus diselesaikan secara simultan dan berkesinambungan. Hingga bisa diperolah hasil yang memuaskan.

Jika kita menginginkan sebuah perubahan. Menginginkan orang lain mengikuti cara kita bertindak, berfikir dan melihat masalah, maka mengajukan argumen yang kuat dan meyakinkan mereka adalah KOENTJINYA. Tidak dengan bahasa yang merendahkan. Tidak dengan tulisan yang terkesan menghakimi. Tidak dengan jargon dan pengulangan kata saja.

Kesimpulan

Semakin tua semakin aku sadar, bahwa tidak semua yang berbeda dari pendirian kita adalah hal yang patut dipermasalahkan. Tidak semua hal yang tak sesuai dengan standar kita berarti harus diselesaikan. Tidak semua hal yang tak senada dengan idealisme kita berarti salah jalan. Karena tak semua hal yang tak senada dengan kemauan kita adalah kemungkaran. Jika kita ingin orang selalu setuju dan mengelu-elukan cara kita, jangan jangan semangat merubah itu datang hanya untuk memuaskan ego semata. Jangan-jangan kita hanya ingin menyalurkan gharizah baqa’ dimana kitalah subyek dan pusatnya.

Siapapun yang menginginkan perubahan, harus mempertanyakan dahulu why people do what they do (kenapa seseorang berbuat sesuatu/ apa yang mendasarinya). Jika hal ini jelas maka apa yang harus diperbuat ke depannya pun akan jelas. Penampakan action boleh sama tapi apa yang melandasinya bisa berbeda. Memang kita menghukumi dhahir perbuatan saja, namun bertanya lebih jauh akan niat awal seseorang memilih sebuah perbuatan, sangat penting supaya kita bisa mengubah persepsi seseorang.

Jika ingin membawa perubahan maka harus diawali dengan perubahan diri. Memilih dan memilah mana hal yang perlu dicermati dan ditawari solusi. Memberi ruang orang untuk berfikir dan mempertimbangkan.
Karena tugas kita hanya menawarkan!
Allah سبحانه و تعالى lah yang mengkaruniakan perubahan.
Semua upaya menawarkan kebaikan berakar dari keinginan kita mengumpulkan amal baik.
Itulah mata uang yang akan bisa kita tukar di hari penghisaban dengan kasih sayang Allah سبحانه و تعالى yang diwujudkan dengan SurgaNya. Itu saja! Tidak kurang tidak lebih.

‎وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17)

Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.” (QS. Yasin: 17)

London, 5 Mei 2020
Ditulis di hari ke-12 Ramadan