Bag. 9

Oleh: Ida Rohida

[2[28/4 12.43] Ida Rosida: akhinya kupecahkan demi kelancaran proses pemakaman Ibu, sedikitpun tak ada uang hasil maling seperti yang di tuduhkan Juragan Katma terhadapku, semuanya hasil dari kerja keras aku dan Ibu selama ini, kami mempuntayi mimpi untuk memperbaiki rumah kecil kami, sehingga sebisa mungkin aku ingin mewujudkan keinginan Ibu.
“Tunggu saja pembalasanku Katma,” kecamku dalam hati. Terlihat beberapa pelayat saling berbisik, entah apa yang mereka bicarakan? aku tak peduli, yang terpenting pengurusan Ibu harus cepat di selesaikan.
Lalu mobil Juragan Katma berlalu begitu saja setelah menancapkan banyak duri di hati ini, entah sebesar apa dosa Ayah? hingga Juragan Katma begitu membenci keluarga kami, hingga sampai Ayah dan Ibu telah tiada, Juragan Katma masih terus membenci keluargs kami.
Kini … untuk pertama kalinya, aku tau apa itu sepi yang sebenarnya. Dulu … suasana rumah ini begitu hangat oleh kasih dan sayang, canda tawa selalu menghiasi rumah kami, semuanya terasa begitu indah, sebelum mimpi buruk itu menghampiri kami, dan menghancurkan segalanya, hingga aku membenci Tuhanku sendiri, yang tak pernah adil dalam mengatur sebuah takdir hambanya.
Memerlukan waktu satu bulan untuk bisa mengembalikan semangt hidup, meski waktu tak mungkin bisa menghilangkan goresan luka hati yang kian menganga, setelah kepergian orang tuaku, aku kecewa pada keadaan, mengapa tak ada satupun yang peduli pada keluarga kami? bahkan Allah pun tak pernah adil terhadap hidupku … dan aku sangat kecewa kepada diriku sendiri, selalu tak berdaya menghadapi dunia, hingga aku harus kehilangan dua orang yang sangat berharga dalam hidupku, semua ini tak adil, aku tak percaya lagi dengan adanya Allah, Tuhan yang selalu kupercaya semenjak kecil.
Namun, apapun yang terjadi, keluh kesah takan bisa menyelesaikan masalah, yang terpenting aku harus bisa merubah takdirku, menjadi kaya raya adalah tujuanku sekarang, bagaimanapun caranya, yang penting bisa kaya.
Mematut tubuh di cermin, inilah aku, dengan tubuh yang kian kurus, tak terurus, aku tersenyum kecut, akan kubuktikan bahwa aku layak untuk di puja, dengan harta, semua takan ada lagi yang berani menghinaku, “semangaaat … ” keheningan terpecah oleh teriakanku sendiri, mencoba menyemangati diri. lalu aku kembali termenung, apa yang harus pertama kali kulakukan untuk mengisi waktu? akhirnya setelah berpikir beberapa detik, terlintas sesuatu di benak, teringat dengan sebuah janji, gerobak itu … pasti Kakek pemilik gerobak yang pernah kupinjam sebulan yang lalu, Kakek itu pasti sangat membutuhkan alat tersebut untuk mengangkut rumput yang di dapatnya. Akhirnya kuputuskan untuk membawa gerobak yang tersimpan di belakang rumah, hati ini begitu sakit saat tangan ini memegang benda tersebut, masih terbayang di saat tubuh Ibu meringkuk lemah dalam gerobak ini, namun apalah daya? waktu terus berjalan, akan kubuktikan bahwa diri ini bisa lebih baik dan bisa jauh lebih kaya dari Juragan Katma, akan kusumpalkan uang hasil keringatku ke dalam mulut-mulut yang dulu pernah menghinaku, tunggu saja waktunya, aku akan berubah, bagaimanapun caranya.
Aku berjalan bersama gerobak yang pernah kipinjam dulu, menyusiri setiap jalan, berharap bertemu dengan si Kakek pemilik gerobak ini. Akhirnya usahaku membuahkan hasil, terlihat sesosok pria paruh baya terlihat sedang mencari rumput di tengah pesawahan, segera menepi, dan begegas menghampiri, berharap sosok tersebut orang yang kucari.
Tangan menepuk pundak sosok tersebut, sosok itu pun menoleh memalingkan padandannya ke arahku, dan kini kami saling bertatapan. Meski aku tak mengetahui namanya, namun aku sangat mengingat wajahnya, terlihat pria tersebut mengkrecitkan dahi, mungkin lupa siapa aku, “siapa, anak muda ini? dan ada keperluan apa pada Kakek?” ternyata benar, Kakek tersebut sudah lupa ke padaku, sehingga mengajukan pertanyaan untukku.
“Permisi, Kek! masih ingatkah dengan aku, aku adalah seorang remaja yang menggendong Ibunya untuk berobat ke kota, namun tak ada kendaraan yang bisa kami tumpangi, akhirnya Kakek menolong kami dengan sebuah gerobak untuk s
[28/4 12.45] Ida Rosida: akhirnya Kakek menolong kami dengan sebuah gerobak untuk sekedar meringankan kesulitan kami, dan kini aku ingun mengembalikan gerobak milik Kakek yang dulu sudah kami pinjam, maaf terlalu lama baru kukembalikan,” jelasku pada sosok Kakek tersebut.
Kini, guratan di dahinya terlihat mulai memudar, di barengi senyum dari bibirnya, “oh, ya … aku baru mengingatmu, kamu anak muda yang dulu nekat pergi ke kota, hanya untuk membawa Ibumu berobat, sungguh mulia baktimu pada Ibumu, Nak! bagaimana sekarang keadaan Ibumu? sudah sehat, kah?” ucap Kakek, terasa air mulai tergenang di pelupuk mata di saat mendengar sesuatu tentang Ibu, kutepiskan sedih ini, aku telah berjanji pada diri sendiri untuk bangkit dan untuk segera memulai impianku selama ini, impanku menjadi orang kaya, tak peduli bagaimanapun caranya.
“Maaf, Kek! Ibuku telah wapat,” hanya kalimat singkat itu yang bisa keluar dari mulut yang kelu menahan getirnya hidup. “Inalilkahi waina illaihi rajiunnn … yang sabar, Nak! Kakek turut berduka cita atas kepergian Ibumu,” terlihat ketulusan tergurat di wajahnya, begitu teduh hati ini, saat memandang wajahnya yang terlihat bersahaja, tak lupa tanganya mengusap-ngusap punggungku, mencoba memberi semangat.
“Husin adalah nama Kakek, Kalau boleh tau, nama kamu, siapa? dan kamu berasal dari mana?” Kek husen kembali mengajukan pertanyaan.
“Ibuku bernama Nirmala, dan Ayah bernama, Basro. Sedangkan namaku adalah … Iman, lebih tepatnya, Iman Kepada Allah, lucu sekali kan namaku,” terdengar tawa kecil dari arah Kek Husin saat mendengar namaku.
“Oh, jadi Ayahmu bernama Basro. Basro pegawai Juragan Katma, bukan?” tanyanya dengan penuh selidik.
“Dulu, Ayah memang lama bekerja kepada Juragan Katma, Kek Husin mengenal Ayahku?” jawabku, tak kalah selidiknya.
“Ya, dulu Kakek bersama Ayahmu adala teman seperjuangan, kami selalu bersama bekerja di tanah Juragan Katma, hingga tragedi itu terjadi. Ayahmu menagih upah kerjanya yang sudah tiga bulan tak kunjung Juragan Katma berikan, namun bukan uang yang di dapat, malah caci maki dan sebuah bogem mentah melukai mata kiri Ayahmu. Dua hari telah berlalu, Ayahmu bekekuh kesah dengan ekonominya yang kurang baik, ia bercerita, tak ada lagi beras tersisa di rumah, sedangkan upah kerjanya masih di tahan oleh Juragan Katma. Kakek tak bisa berbuat apa-apa, rasa hati ingin membantu, namun apa daya? bahkan untuk menghidupi anak istri sendiripun Kakek hanya mengandalkan upah dari Juragan Katma. Hingga sebuah kegaduhan terdengar dati arah gudang penyimpanan beras, terlihat beberapa anak buah Juragan Katma menyeret Ayahmu dari gudang, Ayahmu di tuduh telah mencuri beras milik Juragan Katma, namun Ayahmu menyangkalnya. Basro, Ayahmu beralasan bahwa dia hanya mengambil upah tiga bulannya yang di tahan oleh Juragan Katma, dia meminta maaf atas sikapnya yang telah mengambil beras milik Juragan Katma, Ayahmu terpaksa melakukannya, karna takut anak dan istrinya kelaparan karna sudah beberapa hari tak ada sedikitpun makanan yang bisa di hidangkan. Kakek tak menyangka jika Ayahmu akan senekat itu, namun hal ini rakan tetjadi jika Juragan Katma tak menahan upah Ayahmu yang telah lama di tahan. Akhirnya Ayahmu di pecat oleh Juragan KATMA, lalu Ayahmu pergi bersama upahnya yang selama ini belum di terimanya. Kakek kira semuanya telah selesai setelah pemecatan itu, hingga terdengar sebuah kabar bahwa Ayahmu telah wafat, tersiar pula bahwa sebelum wafat, Ayahmu terlihat di bawa oleh anak buah Juragan Katma, entah kemana? hingga di hari kematiannya, Kakek menemui Ibumu sekedar nengucap bela sungkawa, Kakek sangat ingin bertemu dengan Ayahmu untuk yang terakhir kalinya, namun Kakek begitu sedih, di saat melihat tubuh Ayahmu begitu memprihatinkan, Kakek hanya bisa termenung saat itu, mengapa Juragan Katma begitu tega memperlakukan Ayahmu sekeji ini? namun apalah dayaku yang tak bisa melakukan apa-apa, Kakek hanya bisa mengutuk terhadap tragedi yang telah menimpa Ayahmu, Kakek yakin Allah maha menyaksikan segalanya, semoga Allah membalas semua kezaliman yang telah Juragan Katma lakukan,” terlihat bulir8/4 12.43] Ida Rosida: akhinya kupecahkan demi kelancaran proses pemakaman Ibu, sedikitpun tak ada uang hasil maling seperti yang di tuduhkan Juragan Katma terhadapku, semuanya hasil dari kerja keras aku dan Ibu selama ini, kami mempuntayi mimpi untuk memperbaiki rumah kecil kami, sehingga sebisa mungkin aku ingin mewujudkan keinginan Ibu.
“Tunggu saja pembalasanku Katma,” kecamku dalam hati. Terlihat beberapa pelayat saling berbisik, entah apa yang mereka bicarakan? aku tak peduli, yang terpenting pengurusan Ibu harus cepat di selesaikan.
Lalu mobil Juragan Katma berlalu begitu saja setelah menancapkan banyak duri di hati ini, entah sebesar apa dosa Ayah? hingga Juragan Katma begitu membenci keluarga kami, hingga sampai Ayah dan Ibu telah tiada, Juragan Katma masih terus membenci keluargs kami.
Kini … untuk pertama kalinya, aku tau apa itu sepi yang sebenarnya. Dulu … suasana rumah ini begitu hangat oleh kasih dan sayang, canda tawa selalu menghiasi rumah kami, semuanya terasa begitu indah, sebelum mimpi buruk itu menghampiri kami, dan menghancurkan segalanya, hingga aku membenci Tuhanku sendiri, yang tak pernah adil dalam mengatur sebuah takdir hambanya.
Memerlukan waktu satu bulan untuk bisa mengembalikan semangt hidup, meski waktu tak mungkin bisa menghilangkan goresan luka hati yang kian menganga, setelah kepergian orang tuaku, aku kecewa pada keadaan, mengapa tak ada satupun yang peduli pada keluarga kami? bahkan Allah pun tak pernah adil terhadap hidupku … dan aku sangat kecewa kepada diriku sendiri, selalu tak berdaya menghadapi dunia, hingga aku harus kehilangan dua orang yang sangat berharga dalam hidupku, semua ini tak adil, aku tak percaya lagi dengan adanya Allah, Tuhan yang selalu kupercaya semenjak kecil.
Namun, apapun yang terjadi, keluh kesah takan bisa menyelesaikan masalah, yang terpenting aku harus bisa merubah takdirku, menjadi kaya raya adalah tujuanku sekarang, bagaimanapun caranya, yang penting bisa kaya.
Mematut tubuh di cermin, inilah aku, dengan tubuh yang kian kurus, tak terurus, aku tersenyum kecut, akan kubuktikan bahwa aku layak untuk di puja, dengan harta, semua takan ada lagi yang berani menghinaku, “semangaaat … ” keheningan terpecah oleh teriakanku sendiri, mencoba menyemangati diri. lalu aku kembali termenung, apa yang harus pertama kali kulakukan untuk mengisi waktu? akhirnya setelah berpikir beberapa detik, terlintas sesuatu di benak, teringat dengan sebuah janji, gerobak itu … pasti Kakek pemilik gerobak yang pernah kupinjam sebulan yang lalu, Kakek itu pasti sangat membutuhkan alat tersebut untuk mengangkut rumput yang di dapatnya. Akhirnya kuputuskan untuk membawa gerobak yang tersimpan di belakang rumah, hati ini begitu sakit saat tangan ini memegang benda tersebut, masih terbayang di saat tubuh Ibu meringkuk lemah dalam gerobak ini, namun apalah daya? waktu terus berjalan, akan kubuktikan bahwa diri ini bisa lebih baik dan bisa jauh lebih kaya dari Juragan Katma, akan kusumpalkan uang hasil keringatku ke dalam mulut-mulut yang dulu pernah menghinaku, tunggu saja waktunya, aku akan berubah, bagaimanapun caranya.
Aku berjalan bersama gerobak yang pernah kipinjam dulu, menyusiri setiap jalan, berharap bertemu dengan si Kakek pemilik gerobak ini. Akhirnya usahaku membuahkan hasil, terlihat sesosok pria paruh baya terlihat sedang mencari rumput di tengah pesawahan, segera menepi, dan begegas menghampiri, berharap sosok tersebut orang yang kucari.
Tangan menepuk pundak sosok tersebut, sosok itu pun menoleh memalingkan padandannya ke arahku, dan kini kami saling bertatapan. Meski aku tak mengetahui namanya, namun aku sangat mengingat wajahnya, terlihat pria tersebut mengkrecitkan dahi, mungkin lupa siapa aku, “siapa, anak muda ini? dan ada keperluan apa pada Kakek?” ternyata benar, Kakek tersebut sudah lupa ke padaku, sehingga mengajukan pertanyaan untukku.
“Permisi, Kek! masih ingatkah dengan aku, aku adalah seorang remaja yang menggendong Ibunya untuk berobat ke kota, namun tak ada kendaraan yang bisa kami tumpangi, akhirnya Kakek menolong kami dengan sebuah gerobak untuk s
[28/4 12.45] Ida Rosida: akhirnya Kakek menolong kami dengan sebuah gerobak untuk sekedar meringankan kesulitan kami, dan kini aku ingun mengembalikan gerobak milik Kakek yang dulu sudah kami pinjam, maaf terlalu lama baru kukembalikan,” jelasku pada sosok Kakek tersebut.
Kini, guratan di dahinya terlihat mulai memudar, di barengi senyum dari bibirnya, “oh, ya … aku baru mengingatmu, kamu anak muda yang dulu nekat pergi ke kota, hanya untuk membawa Ibumu berobat, sungguh mulia baktimu pada Ibumu, Nak! bagaimana sekarang keadaan Ibumu? sudah sehat, kah?” ucap Kakek, terasa air mulai tergenang di pelupuk mata di saat mendengar sesuatu tentang Ibu, kutepiskan sedih ini, aku telah berjanji pada diri sendiri untuk bangkit dan untuk segera memulai impianku selama ini, impanku menjadi orang kaya, tak peduli bagaimanapun caranya.
“Maaf, Kek! Ibuku telah wapat,” hanya kalimat singkat itu yang bisa keluar dari mulut yang kelu menahan getirnya hidup. “Inalilkahi waina illaihi rajiunnn … yang sabar, Nak! Kakek turut berduka cita atas kepergian Ibumu,” terlihat ketulusan tergurat di wajahnya, begitu teduh hati ini, saat memandang wajahnya yang terlihat bersahaja, tak lupa tanganya mengusap-ngusap punggungku, mencoba memberi semangat.
“Husin adalah nama Kakek, Kalau boleh tau, nama kamu, siapa? dan kamu berasal dari mana?” Kek husen kembali mengajukan pertanyaan.
“Ibuku bernama Nirmala, dan Ayah bernama, Basro. Sedangkan namaku adalah … Iman, lebih tepatnya, Iman Kepada Allah, lucu sekali kan namaku,” terdengar tawa kecil dari arah Kek Husin saat mendengar namaku.
“Oh, jadi Ayahmu bernama Basro. Basro pegawai Juragan Katma, bukan?” tanyanya dengan penuh selidik.
“Dulu, Ayah memang lama bekerja kepada Juragan Katma, Kek Husin mengenal Ayahku?” jawabku, tak kalah selidiknya.
“Ya, dulu Kakek bersama Ayahmu adala teman seperjuangan, kami selalu bersama bekerja di tanah Juragan Katma, hingga tragedi itu terjadi. Ayahmu menagih upah kerjanya yang sudah tiga bulan tak kunjung Juragan Katma berikan, namun bukan uang yang di dapat, malah caci maki dan sebuah bogem mentah melukai mata kiri Ayahmu. Dua hari telah berlalu, Ayahmu bekekuh kesah dengan ekonominya yang kurang baik, ia bercerita, tak ada lagi beras tersisa di rumah, sedangkan upah kerjanya masih di tahan oleh Juragan Katma. Kakek tak bisa berbuat apa-apa, rasa hati ingin membantu, namun apa daya? bahkan untuk menghidupi anak istri sendiripun Kakek hanya mengandalkan upah dari Juragan Katma. Hingga sebuah kegaduhan terdengar dati arah gudang penyimpanan beras, terlihat beberapa anak buah Juragan Katma menyeret Ayahmu dari gudang, Ayahmu di tuduh telah mencuri beras milik Juragan Katma, namun Ayahmu menyangkalnya. Basro, Ayahmu beralasan bahwa dia hanya mengambil upah tiga bulannya yang di tahan oleh Juragan Katma, dia meminta maaf atas sikapnya yang telah mengambil beras milik Juragan Katma, Ayahmu terpaksa melakukannya, karna takut anak dan istrinya kelaparan karna sudah beberapa hari tak ada sedikitpun makanan yang bisa di hidangkan. Kakek tak menyangka jika Ayahmu akan senekat itu, namun hal ini rakan tetjadi jika Juragan Katma tak menahan upah Ayahmu yang telah lama di tahan. Akhirnya Ayahmu di pecat oleh Juragan KATMA, lalu Ayahmu pergi bersama upahnya yang selama ini belum di terimanya. Kakek kira semuanya telah selesai setelah pemecatan itu, hingga terdengar sebuah kabar bahwa Ayahmu telah wafat, tersiar pula bahwa sebelum wafat, Ayahmu terlihat di bawa oleh anak buah Juragan Katma, entah kemana? hingga di hari kematiannya, Kakek menemui Ibumu sekedar nengucap bela sungkawa, Kakek sangat ingin bertemu dengan Ayahmu untuk yang terakhir kalinya, namun Kakek begitu sedih, di saat melihat tubuh Ayahmu begitu memprihatinkan, Kakek hanya bisa termenung saat itu, mengapa Juragan Katma begitu tega memperlakukan Ayahmu sekeji ini? namun apalah dayaku yang tak bisa melakukan apa-apa, Kakek hanya bisa mengutuk terhadap tragedi yang telah menimpa Ayahmu, Kakek yakin Allah maha menyaksikan segalanya, semoga Allah membalas semua kezaliman yang telah Juragan Katma lakukan,” terlihat bulir

Bersambung