Oleh: Ummu Adam
(Member of Revowriter Riyadh)

Selebriti identik dengan sosok terkenal, berjuta follower, idola banyak orang, berkantong tebal dan bergelimang kemewahan. Itulah gambaran selebriti yang ada di bumi. Akan tetapi apakah demikian kondisinya jika dia adalah seorang selebriti langit? Apakah mereka yang terkenal di bumi juga terkenal di langit sana? Apakah orang yang terkenal diantara para malaikat-Nya selalu dikenal manusia di bumi?

Ketika Rasulluah SAW melakukan perjalanan Isra miraj, beliau SAW mencium bau wangi semerbak saat berada di surga. Beliau SAW bertanya kepada Jibril as., “Bau apa gerangan wahai Jibril?” Jibril as. menjawab, “Ini adalah bau penata rambut anaknya Firaun.” Ternyata bukan bau seorang Nabi atau Rasul!

Ketika wanita mulia ini menyisiri rambut anak Firaun, kemudian sisirnya jatuh maka dia berseru, “Bismillah!” Karena dia mengakui Allah sebagai Tuhannya maka dia disiksa oleh Firaun hingga syahid. Nama wanita itu pun tidak kita ketahui akan tetapi surga sudah menantinya! Allahu Akbar!

Ada kisah lain. Suatu hari saat Rasulullah SAW duduk bersama para sahabat. Ada dua orang laki laki berjalan melalui mereka. Ketika laki laki pertama melewati mereka, maka Rasulullah SAW bertanya, “Apa pendapatmu tentang laki laki itu?

Maka para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah, dia adalah seorang laki laki yang terhormat. Jika dia meminang seorang wanita maka pinangannya akan langsung diterima, jika dia memberi perlindungan kepada seseorang maka tak akan ada yang berani mengganggu orang itu dan jika dia berbicara maka dia akan didengar.

Kemudian laki laki kedua berjalan melalui mereka. “Bagaimana pendapat kalian tentang laki laki itu?”

Para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah, dia adalah seorang lelaki miskin. Jika dia meminang seorang wanita maka tidak akan diterima pinangannya, jika dia memberi perlindungan pada seseorang maka tidak bermakna sama sekali dan jika dia berbicara tidak layak untuk didengarkan.

Maka kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh lelaki miskin itu lebih berharga disisi Allah dari pada bumi yang berisi penuh dengan lelaki kaya seperti dia.”

Banyak orang di dunia ini yang berkedudukan tinggi disisi Allah akan tetapi tidak punya banyak follower di facebook, instagram ataupun twitter. Jangankan punya follower, account di social media saja mereka tidak punya. Entah karena tidak memiliki smart phone ataupun menghindar dalam diam.

Rasulullah SAW bersabda,

‎إن الله يحب العبد التقي الغني الخفي

Allah menyukai hamba-Nya yang bertakwa (takut kepada Allah yang membuat dia menghindari berbuat dosa), kaya hati (merasa cukup dengan kepunyaannya yang membuat dia tak pernah meminta orang lain), berada dalam “keterasingan” (under the radar) atau menghindar dari spotlight.

Nah bagaimana kita mendudukkan hadist diatas dengan hadist yang berisi pujian kepada orang kaya yang dermawan atau orang berilmu yang berbagi ilmunya?

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ

“Tidak ada (sifat) iri (yang terpuji) kecuali pada dua orang: seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang al-Qur-an kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari, lalu salah seorang tetangganya mendengarkan (bacaan al-Qur-an)nya dan berkata: “Duhai kiranya aku diberi (pemahaman al-Qur-an) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan seperti (membaca al-Qur-an) seperti yang diamalkannya. Dan seorang yang dilimpahkan oleh Allah baginya harta (yang berlimpah) kemudian dia membelanjakannya di (jalan) yang benar, lalu ada orang lain yang berkata: “Duhai kiranya aku diberi (kelebihan harta) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan (bersedekah di jalan Allah) seperti yang diamalkannya” (HR. Al-Bukhari)

Jawaban dari pertanyaan ini ada dua:

  1. Orang kaya, orang terkenal atau orang pandai bukanlah sebuah keunggulan dalam Islam.
  2. Kebaikan yang ia lakukan dengan menggunakan kekayaan, ilmu, posisi atau ketenarannya lah yang di hargai didalam Islam.

Kalo kita terkenal, punya banyak follower, berada di spotlight, maka jadikan hal itu kesempatan untuk berbagi kebaikan sebanyak- banyaknya.

Sama halnya dengan orang yang pendiam dan hanya fokus kepada dirinya sendiri. Bukanlah semata-mata sikap dia yang seperti itu yang dipuji didalam Islam tapi alasan apa yang membuat dia bersikap seperti itu yang dinilai Allah. Jika dia ingin fokus menjalani dunia ini layaknya traveler, konsentrasi pada tujuan akhir yakni surga, tidak ingin dunia melenakan dia dari visinya, ingin menghindar dari mencampuri urusan orang, maka itu hal yang terpuji.

Seperti dalam hadist Rasulullah SAW,

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ، تَرْكُهُ مَا لاَ
يَعْنِيْهِ.”
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ،

Dari Abū Hurairah ra. beliau berkata: Rasūlullāh SAW bersabda: “Diantara keelokan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang bukan urusannya.” (HR Tirmidzi)

Menjadi terkenal bisa membawa kepada penyakit hati yakni sombong. Menjadi orang biasa juga bisa membawa penyakit hati yakni iri.

Apapun kondisi kita, entah diposisi sebagai orang yang dikenal banyak orang ataupun hanya dikenal oleh sedikit orang, jadikan posisi itu untuk menuju tujuan kita yang sebenarnya yakni surga. Dan jadikan setiap perbuatan kita menginspirasi orang lain menuju surga. Sehingga para malaikat di langit sana mengenali kita karena ketaatan dan amal solih kita.

Semoga Allah memudahkan kita untuk menjadi orang yang terkenal dihadapan para malaikat-Nya!

Mumpung masih Ramadan, jaga semangat dan ayo beramal solih sebanyak-banyaknya!

امين يا ربّ العالمين

Riyadh, 7 Mei 2020