Oleh : Ustadzah Yanti Tanjung

“ Ini mainanku, abang gak boleh ambil, aku sedang pakai…” Teriak adik. “ Pinjam, sebentar saja kok, jangan pelit, orang pelit dibenci Allah, nanti gak ada temannya lho,” Abang menimpali sambil memaksa. Seketika mainan berpindah tangan. “ Umiiiiiii hu hu huk….mainanku direbut abang, abang gak izin dulu…” Adikpun menangis menghampiri umi yang sedang menyusui.

Fenomena ini pastinya seringkali dialami dalam keluarga yang memiliki banyak anak. Anak-anak suka rebutan itu tandanya mereka adalah anak-anak, orang dewasa sebenarnya juga begitu bahkan yang diperebutkan tidak hanya benda tapi juga kekuasaan.

Manusia itu memang dinamis karena diberi potensi kehidupan termasuk ingin memiliki dan ingin berkuasa dan saling rebut diantara mereka, kalau tidak ada fenomena seperti itu serasa hidup ini stagnan atau bisajadi tidak ada kehidupan. Karenanya akal kita senantiasa dibuatnya hidup dan emosi kita senantiasa dibuat warna warni, sehingga kehidupan ini memang penuh warna. Hadapi, hayati dan nikmati, kemudian syukuri.

Ketika anak saling berebut benda itu artinya anak perlu dididik tentang kepemilikan dan bagaimana meminta izin bila menggunakan milik orang lain. Ajarilah tentang ini berulang-ulang hingga anak memiliki kesadaran rasional tentang itu dalam artian dia dapat memahami mana yang miliknya dan mana milik orang lain, dan mana yang harus dia pertahankan dari rebutan orang lain.

Seiring terbentuknya pemahaman dengan memberikannya banyak informasi berupa tsaqafah islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah insya Allah anak akan berubah prilakunya sesuai syariah, sesuai standar halal dan haram.

Anak suka berebut itu artinya anak perlu dididik menahan diri, bersabar jika tidak diizinkan, merebut milik orang lain adalah sebuah kesalahan, terlarang dalam Islam. Ajarilah ini berulang-ulang hingga anak paham. Bagi yang direbut barangnya, belajar memaafkan dan tidak meniru prilaku yang sama.

Anak saling berebutan itu artinya anak harus diajarkan tentang berbagi dan mengikhlaskan hati. Mendahulukan saudara adalah kebaikan dan Allah akan membalas kebaikan itu dan bahkan bisa berlimpah-limpah kebaikan. Mengikhlaskan hati terhadap kepemilikan kita untuk dipinjam oleh orang lain juga sebuah kebaikan.

Anak saling berebut juga sedang belajar mengatasi konflik, belajar mengungkapkan masalah lalu menceritakan kronologinya kemudian dicari akar persoalannya. Anak juga akan belajar mencari solusi yang benar. Disinilah berpikir benar itu harus terus istiqomah, kalau tidak, anak-anak bisa mengambil solusi yang salah, bukan kebenaran tapi pembenaran. Maka konsistenlah dengan menjadikan Islam sebagai solusi agar anak senantiasa mengambil petunjuk dari Islam.

Satu hal yang harus kita pahami bahwa kita harus bersabar dalam proses yang benar, teliti, deteil dan cermat ketika berhadapan dengan anak-anak yang saling berebutan, jangan salah mengambil keberpihakan sebelum jelas duduk persoalannya. Maka buatkanlah pola berpikir islami dan pola prilaku islam pada diri anak.

Beberapa tips ini bisa dilakukan jika kita menyaksikan anak sedang berebut :

1. Berusahalah tetap tenang karena hal itu perkara biasa, lalu duduklah jika sedang berdiri, lipat tangan ke dada agar telunjuk tidak bergerak mengacungkan pada anak atau tangan tidak melayang ke fisik anak karena kemarahan. Perbanyak istighfar dan kalimah thoyyibah lainnya.

2. Biarkan mereka menyelesaikan konfliknya, jika yang merebut yang menang padahal bukan miliknya sesaat biarkan dulu, hadapi anak yang sedang menagis karena mainannya direbut lalu tenangkan. Sambil menenangkan bisikkan padanya bahwa Allah bersama orang yang bersabar, dan setiap perbuatan dicatat malaikat dan adek tidak boleh menirunya. Lalu cari mainan pengganti untuk meredam kekecewaan hatinya dan mengatasi sakit hati dan upaya balas dendam.

3. Bagi anak yang sudah merebut, memarahinya biasanya akan membuat dia membela diri, sesaat diamkanlah dulu, biarkan dia menimbang-nimbang maina yang direbutnya sampai keadaan dan suasana kondusif.

4. Saat keadaan sudah tenang ajaklah sang perebut berdiskusi tentang apa yang dia lakukan tadi. Tanya apa penilaiannya terhadap perbuatannya tadi. Jika anggapannya bahwa yang dia lakukan adalah benar benar, kita harus luruskan dan ingatkan dia tentang ayat-ayat Allah swt atau hadist Rasulullah saw tentang prilaku yang dia lakukan. Jika dia menyadari salah, suruhlah ia meminta maaf dan mengembalikan mainan yang sdh dia rebut kepada pemiliknya. Jika dia mau minta maaf, ayah bunda harus mengapresiasi bahwa dia berani mengakui kesalahan dan mau jujur mengaku salah, Allah suka sama anak yang meminta maaf dan berlaku jujur.

Fenomena pembelajaran seperti ini sungguh akan berkesan di benak anak hingga ia dewasa dan kata-kata lembut ibu dengan bahasa-bahasa yang menyentuh pikir dan rasa aqidah akan menjadi fondasi yang kokoh baginya kelak bagaimana memiliki suatu benda dan tidak sembarangan merebut milik yang bukan miliknya. Jika dia menjadi seorang penguasa, kelak dia tidak akan rakus mengambil milik rakyatnya dan ia akan pertahankan kepemilikan negara dan umat dari rebutan negara lain[]
====