Oleh: Novianti Yanti
(Pemerhati Pendidikan, Member of Revowriter)

Suatu ketika Abu Bakar makan bersama Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wassalam lalu turunlah ayat :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Abu Bakar seketika menangis, maka Rasululllah bertanya ,”Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab ,”Surah ini yang membuatku menangis.”

Dalam riwayat lain, Abu Sa’id bertanya pada Rasulullah terkait ayat ini ,”Wahai Rasulullah, apakah akan diperlihatkan kepadaku seluruh perbuatanku?” Beliau bersabda ,”Ya .” “Perbuatan-perbuatan besar?” Beliau bersabda ,”Ya.” Abu Sa’id berkata ,”Celakalah ibuku!”

Rasulullah bersabda ,”Bergembiralah Abu Sa’id, sesungguhnya perbuatan baik akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Sesungguhnya Allah akan melipatgandakan perbuatan orang yang Dia kehendaki, sedangkan keburukan akan dibalas dengan setimpal , bahkan Allah memaafkannya. Tidaklah seseorang akan selamat dengan perbuatannya.”

Sebagaimana kita tahu Abu Bakar adalah sahabat yang dijamin masuk surga. Termasuk orang pertama yang masuk Islam. Perjuangannya membela agama Allah demikian besar. Harta dan jiwa, beliau berikan.

Bilal saat disiksa oleh Umayyah dibebaskan Abu Bakar dengan 9 uqiyah emas. 1 uqiyah emas setara dengan 31,7475 gr emas. Dengan demikian, 9 uqiyah emas adalah sekitar 285,73 gr. Sekarang, harga emas berkisar Rp. 900.000/gram. Maka, jumlah yang dibayar Abu Bakar untuk membebaskan Bilal dalam kondisi sekarang adalah 285,73 x Rp. 900.000 = Rp 257,157,000.

Tatkala kebanyakan orang meragukan peristiwa Isra Mi’raj, Abu Bakar berkata ,”Jika Muhammad benar-benar berkata demikian, maka aku sangat percaya.” Padahal beliau belum mendengarnya langsung. Peristiwa yang sulit diterima secara akal, namun Abu Bakar selalu membenarkan setiap yang keluar dari mulut Rasulullah. “Wahai Abu Bakar ash Shiddiq.” Demikian gelar yang diberikan dari Rasulullah karena pembenarannya terhadap Isra Mi’raj.

Pantaslah Rasulullah memilih beliau untuk menemani dalam perjalanan hijrahnya. Berita yang disambut dengan bahagia ,”Akukah yang akan menemanimu wahai Rasulullah?” Padahal perjalanan yang akan ditempuh menghadapi bahaya dan melelahkan. Tapi siapakah yang tidak bahagia tatkala dipilih oleh orang yang sangat dicintai? Dalam membersamai, Abu Bakar berkhidmat untuk Rasulullah.

Amalan Abu Bakar membuat iri para sahabat yang lain salah satunya Umar. Mereka senantiasa berlomba dalam kebaikan. Suatu ketika Umar melihat Abu Bakar ketika menjadi khalifah, memasuki gubuk kecil di pinggiran kota Madinah. Hari-hari terus berjalan dan Abu Bakar terus melakukannya. Umar penasaran dan masuk dalam gubuk tersebut. Yang ia temui adalah seorang nenek tua buta, tak bisa bergerak. Umar bertanya ,” Apa yang dilakukan laki-laki itu disini?” Nenek tua menjawab ,”Demi Allah aku tidak tahu. Setiap pagi dia datang untuk menyapu dan membersihkan rumahku. Lalu menyiapkan makanan untukku. Setelah itu dia pergi tanpa berbicara padaku.”

Umar menekuk kedua lututnya dan kedua matanya basah oleh air mata. Dia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Sungguh, engkau telah membuat lelah khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar.”

Abu Bakar yang masa hidupnya dihabiskan untuk menegakkan agama Allah. Menyertai Rasulullah dalam banyak peristiwa penting. Kisahnya yang melegenda membuat kita bertanya-tanya adakah manusia semacam ini, apakah ini dalam khayalan. Pantaslah Rasulullah memberi pujian:

“Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan memilih kekasih selain Rabbku, pasti aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih, namun cukuplah persaudaraan se-Islam dan kecintaan karenanya.”

Namun keutamaan yang dimilikinya, jaminan surga yang dijanjikan untuknya, tidak membuat beliau merasa aman dari perbuatan dosa hingga menangis tergugu mendengar QS. Al Zalzalah ayat 6-7.

Wahai diri ini, yang bertumpuk dengan dosa, fakir dengan ilmu dan amal, surga masih sebatas cita-cita, tak mampukah mata ini menangis, malu pada Abu Bakar? Perbendaharaan kesedihan yang tak terkira seharusnya sudah membuat diri ini bertaubat, bersimpuh di hadapan Allah, memohon ampun atas segala kekhilafahan. Telah lama menghilang dari majlis ilmu, sholat sekedar menggugurkan kewajiban, Al Quran sudah lama sekedar pajangan, tangan terikat karena kebakhilan, panggilan dakwah tak dipedulikan, waktu habis untuk nafsu dunia yang tak berkesudahan.

Bagaimana kita masih menisbatkan diri sebagai muslim yang beriman, tetapi tidak pernah merasa takut kepada Allah, air mata lama mengering, seolah-olah merasa aman dengan maksiat dan dosa yang menggunung.

“Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.”

Masih mampukah kita menangis? Jika mata ini belum mampu menangis karena hati yang telah lama kering dari siraman cahaya ilahi, menangislah karena sudah tak mampu menangis.

Wallahu’alam bishawab.[]