Oleh: Sri Wahyuni

Memilukan! Rezim tengah bermain-main dengan jutaan nyawa rakyat Indonesia. Pasalnya, bantuan sembako dari Pemerintah tak kunjung dibagikan karena pembungkus paket yang bertuliskan ‘Bantuan Presiden RI Bersama Lawan Covid-19’ belum selesai diproduksi. Padahal rakyat tengah dilanda krisis akibat gelombang PHK oleh sejumlah perusahaan. Banyak dari mereka yang tak sanggup penuhi kebutuhan makan akhirnya terpaksa mencuri, bahkan nekad mengakhiri hidup (suarabanten.id).
Kemana nurani penguasa? Disaat sulitpun, rakyat tetap dijadikan sebagai alat untuk mewujudkan kepentingan mereka. Peristiwa ini tentu makin menguatkan dugaan publik atas ketidaktulusan rezim dalam mengurus rakyat. Bisa dibayangkan, jika dalam urusan darurat saja kepentingan rakyat masih dipolitisasi, lantas bagaimana dengan persoalan lain.
Watak penguasa dalam sistem Sekuler Demokrasi memang selalu lekat dengan asas manfaat dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Wajar saja jika dalam melayani rakyat selalu ada misi politik yang hendak diwujudkan. Pencitraan merupakan aktivitas yang paling sering dipertontokan kepada rakyat. Seolah-olah nampak peduli dan benar-benar bekerja untuk rakyat, namun sungguh faktanya jauh dari menyejahterakan rakyat. Kasus bansos ini bukan satu-satunya wujud pencitraan oleh penguasa. Kasus tambang freeport yang konon katanya telah menjadi milik negeri seutuhnya, nyatanya masih dikangkangi asing. Janji sediakan lapangan kerja untuk rakyat, nyatanya jumlah pengangguran masih tinggi dan justru TKA dipermudah bekerja di dalam negeri. Janji tak akan impor kebutuhan pokok, nyatanya kran impor dibuka lebar yang mengakibatkan sejumlah petani merugi.
Melihat kerja rezim yang demikian, teringat sosok-sosok pemimpin mulia di masa keemasan Islam yang justru totalitas mengabdikan masa jabatannya untuk menjadi pelayan rakyat. Pemimpin yang menyadari betul akan tugas dan tanggung jawabnya bahkan konsekuensi atas abainya dalam mengurusi rakyat. Pemimpin yang memiliki ketakwaan luar biasa kepada Al-khalik sehingga muncul rasa takut tatkala berbuat dholim terhadap rakyatnya. Dan diantara sosok pemimpin terbaik saat itu adalah al-faru Umar bin Al-Khattab r.a yang rela bersusah payah memikul sekarung gandum untuk diberikan kepada satu keluarga yang sedang kelaparan. Tak ada pencitraan maupun kepentingan yang hendak diwujudkan. Jika demikian, tentulah rakyat yang mendapat bantuan tersebut mengetahui bahwa beliau adalah pemimpin di masa itu. Nyatanya Khalifah Umar bin Al-Khattab menyembunyikan identitasnya, dan jika bukan karena pengawal yang menemani perjalanan beliau saat itu mengisahkan cerita ini, tentulah kisah tersebut tak akan sampai di telinga kita.
Demikianlah harusnya sikap bijak seorang pemimpin. Tanpa perlu sibuk mengobral janji dan memoles diri agar terlihat merakyat. Tidak, bukan itu yang dibutuhkan rakyat. Bahkan tak perlu mengikuti style Khalifah Umar bin Al-Khattab dengan blusukan di malam hari dan mengurus sendiri bantuan untuk rakyat. Selama kebijakan yang diberlakukan benar-benar untuk kepentingan seluruh rakyat, seorang penguasa akan memiliki tempat tersendiri di hati rakyat. Namun mungkinkah itu akan terwujud? Sangat mungkin asal Islam menjadi asas berpijak bagi negeri. Islam akan membekali para khalifahnya dengan iman dan takwa sebagai pondasi dalam menjalankan amanahnya. Pondasi inilah yang membuat para khalifah sangat amanah terhadap jabatannya. Bahkan dalam suatu riwayat mengatakan bahwa di masa itu, jabatan sebagai pemimpin tidak banyak diminati. Ini tak lain karena pahamnya umat akan beratnya amanah tersebut dan pertanggungjawabannya kelak dihadapan Allah.