Karya: Nurul Izzah

     “Wahai dikau yang menjadi sosok kerinduan dihati. Izinkanlah sejenak kusapa kau dalam hening nyan malam Lewat sekelumit doa.” suara kecil dari lubuk hati ini. Merebahkan diri diatas sajadah yang masih terbentang dengan dekapan Al-Qur’an dan tasbih. Langkah yang ku lalui dalam hari hari penuh keceriaan. Dibalik penatnya suasana kota, riuhnya klakson. Dan padat nya suasana komplek perumahan. Berjejer rapi,. Namun, pandangan ku tertuju kesebuah deretan rumah disudut sana, bagaimana tidak, jam menunjukkan pukul 02:30 tapi, lampu yang menerangi bilik kamar gadis ini masih terpancar terang, laksana cahaya rembulan yang Tarang benderang dibalik awan didepan wajahku.
Humaira, gadis kota yang terlihat berbeda dengan kebanyakan anak seusianya. Dari busana yang dikenakannya terlihat jelas perbedaan. Jika yang lain kebanyakan menggunakan jeans, dia menghiasi busananya dengan pakaian yang tertutup dan santun. Setiap usai shalat terdengar lantunan Kalam suci dari bilik kamar nya. Begitulah dia, gadis yang membuat pandangan ku perlahan mengaguminya. Sepoi-sepoi hembusan angin membuat sendi tubuhku terasa sejuk. Di sini di bawah indahnya pancar sinar rembulan kuukir nan indah kesejukan dan ketenangan di balik lubuk kalbu. Detik berjalan semestinya dan Aku bergegas pulang kerumah. Pemandangan yang sekilas tadinya terlihat disaat Aku pulang dari pondok tempat dimana hari yang kulalui penuh dengan beragam aktivitas.

     Namaku Ahmad. Salah satu ustadz yang mengajar di sebuah pondok pesantren di kota ini. Sekarang langkahku tiba di rumah tempat aku berteduh di sebuah perumahan yang sudah beberapa waktu lalu aku diami. Bukan rumah keluarga, tetapi rumah kos – kosan tempat di mana sejenak aku melepaskan penat. Melangkah dan merebahkan diri di atas tempat tidur ku. Mata ku belum terpejam, entah mengapa hatiku dan pikiran perlahan masih mengingat sosok gadis yang aku kagumi. Iyaa, dia adalah Humaira. Gadis kota yang aku idamkan. Perlahan anganku mulai membayangkan seandainya aku bukan sekedar jadi tetangga komplek perumahan untuk dia. Namun, Aku ingin Humaira menjadi kekasih halalku. Entahlah, mungkin ini hanyalah sebatas khayalan. Bagaimana tidak, gadis yang bernama Humaira ini jangankan kuajak dia berbincang, saat berlawanan arah di jalan yang sama pun dia seolah tidak melihat, pandangan nya lurus namun bukan memandang ku. Pandangan seolah sengaja, sosok inilah yang semakin hari kekagumanku bertambah.
Langkah ku berjalan menelusuri gang kecil, bukan menggunakan kereta tapi berjalan kaki dan aku bertemu dengan Humaira gadis idaman yang aku kagumi. Kuberanikan diri untuk menyapanya,. Terlihat santun apabila kusapa ia dengan salam. Namun, kusapa dia Dengan ucapan yang berbeda.

     “Ukhty Humaira?” tanyaku tiba-tiba. Dengan wajah tersipu malu dia tersenyum. Tidak menjawab iya atau tidak. Hanya sebuah senyuman. Kemudian berlalu meninggalkanku. Di sini, namun aku yakin bahwa gadis ini bisa merasakan apa terbesit dipikiranku. Kalian tau kenapa? Wajah Humaira yang tersipu malu membuat pikiranku tiada hentinya mengaguminya. Wahai dikau yang menjadi sosok kerinduan di hati. Izinkanlah sejenak kusapa kau dalam hening nya malam, lewat sekelumit doa.  Ahmad mengambil Al-Qur’an dan perlahan dia membacakan kalam suci. Begitulah kebiasaan dia, disaat kerinduannya bertambah dia mencoba bertasbih, semakin lama hingga hati nya tenang. bagi Ahmad, cinta itu ibarat tasbih, apabila kita rindukan seseorang maka kecintaan itu kita agungkan kepada sang pemilik cinta yaitu Allah. Bukan Ahmad tak ingin bersenda gurau dengan Humaira. Hanya saja dia takut apabila kecintaan nya menghadirkan murka Allah. Apabila dia rindukan Humaira dia perbanyak tasbih… Setiap saat nya. Berharap apabila nantinya Allah satukan mereka akan Ahmad cerita kan pada Humaira bagaimana kekaguman dan kecintaannya . Cinta ibarat tasbih karena dia selaras dengan iman begitu lah Ahmad mengartikan cinta nya pada Humaira.

     Perlahan mata Ahmad terpejam. Hening, dan terlelap sambil membawa sejuta kerinduan kepada gadis kota yang menyejukkan hati.. diufuk timur sang mentari kembali menyapa hidup mereka. Membangun kan setiap jiwa dari tidur, memberikan semangat baru.

     Suasana diperkotaan jauh berbeda dengan perkampungan. Bagaimana tidak, disini tidak terdengar indah nya kicauan burung-burung yang kegirangan menyambut hari. Dan udara segar yang dirindukan tanpa tercemar polusi. Namun, disini dikota tempat Ahmad tinggal dia harus memulai hari nya dengan derap langkah penuh kebisingan dan keramaian suasana kota. Subuh ini, Ahmad menjadi salah satu ustadz yang mengisi pengajian disalah satu rumah tahfiz. Disaat dia baru melangkah kan kaki dan perlahan seolah dia melihat bayangan sosok Humaira. Namun dia mencoba menepis sejenak pikiran nya. “Tidak mungkin Humaira berada disini” ucap Ahmad dalam hati. Dan dia pun menempati tempat duduk yang sudah dipersilahkan untuk nya. Disaat Ahmad sedang menjelaskan pelajaran Subuh ini, tiba-tiba sosok wanita mengenakan pakaian syar’i menghampiri Dan Duduk dalam majelis tersebut. Kalian tau siapa gadis tersebut?? Humaira?? Akankah benar Humaira?? Iyaaa ini dia gadis anggun yang setiap saat aku kagumi.. dia adalah Humaira.

     Hampir saja Aku salah tingkah. Sekarang Aku baru teringat memang lah pantas Humaira berada di majelis ini dia adalah putri dari pimpinan tahfiz ini. Hati ku mulai yakin untuk bisa mengenal dekat gadis ini..iyaaa caranya Aku harus berani mengatakan niat ku untuk mengenal Humaira kepada orang tua nya. Waktu berjalan semestinya, Dan sekarang adalah hari yang menjadi hal terindah dalam hidupku, kalian tau kenapa?? Ini adalah hari dimana aku mendapatkan Restu dari kedua orang tua Humaira untuk kujadikan putri nya menjadi kekasih halalku. Tanpa memperlambat waktu ku bicarakan Waktu yang tepat untuk menikah dengan gadis ini. Dengan tangan bergetar, jantung yang tak bisa kulukiskan. Aku menjabat tangan wali dari Humaira. Seiring berjalannya detik sayup-sayup terdengar suara ” Sah ” dari mulut orang di sekelilingku. Detik inilah Allah satukan niat suciku, menghalalkan Humaira adalah impian terbesar yang dulunya hanya sebatas harapan. Dan,, saat ini, detik ini ditempat ini, dihadapan banyak nya saksi Humaira menjabat tangan ku sebagai imamnya, kekasih halalnya.

     Hatiku terasa haru. Gadis kota yang menjadi penyejuk kalbu kini nyata sebagai bidadari dunia dan insyaallah akan menjadi ratu di antara para bidadari surga insyaallah. Senyuman diiringi derap langkah kebersamaan menjadi indah dan syahdunya suasana hati ini. Wahai dikau yang menjadi sosok kerinduan dihati. Izinkanlah kubimbing kau disetiap saat nya menuju dan mengetuk pintu kasih sayang Allah.. jadilah kekasih halal ku, bersama mendidik calon-calon penghuni surga yang kita idamkan. Hari yang kami lewati menjadi sirat langkah yang meninggalkan derap yang syahdu. Bersama Humaira yang pandangan nya sebening tetesan embun dan senyuman nya yang memukau laksana syahdunya kedipan bintang diantara sinar rembulan yang aku kagumi.

                                                                            *****

Nama lengkap: Nurul Izzah
Tempat, tanggal lahir : Awe Geutah, 02 Januari 1999
Domisili kota : Aceh, Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen.
Profesi : Mahasiswi Institut Agama Islam Almuslim Aceh. Paya Iipah, Fakultas tarbiyah, prodi pendidikan Agama Islam.
Motivasi Menulis : Ingin Mengembangkan potensi, melalui karya tulis. Seperti ditukilkan sebuah ungkapan bijak dari kalangan ulama terdahulu yaitu ” Jikalau engkau bukan anak ulama, atau bukan dari kalangan keluarga terpandang, maka jadilah penulis. Dan namamu akan dikenal dari hasil karya mu”.