Serial All About Juminten

Oleh: Lelly Hapsari

Seminggu yang lalu kondisi desa Toto Tentrem mendadak ribut terkait dengan bantuan pemerintah bagi yang terdampak Corona tidak merata serta tidak tepat sasaran membuat cenat cenut dan memicu aksi protes sebagian warga.

Tidak hanya sekedar tidak tegur sapa, bahkan ada yang lebih ekstrim lagi menutup jalan dengan alasan ikut-ikutan PSBB meskipun tanpa dalil dan undang-undang resmi dari perangkat desa terkait.

Perseteruan sengit pun terjadi antara Yu Romlah dan mak Krompyang, karena ada kesalahan data yang dibagikan. Alamatnya menunjukan alamat rumah Yu Romlah sedangkan nama dan nomer KK serta KTP milik mak Kromyang. Setelah diusut-usut ternyata kedua-duanya malah tidak jadi mendapatkan bantuan apa-apa karena masih dianggap warga yang mampu. Karena panas hati Yu Romlah membangun tembok di depan rumahnya, tujuannya biar Mak kromyang sekeluarga gak bisa lewat dan harus muter ke belakang jika harus ke mana-mana.

Gak mau kalah, mak Krompyang pun demikian. Ia membangun tembok yang lebih tinggi dari pada yang dibangun yu Romlah di depan rumahnya. Setiap warga yang mau lewat harus berputar arah karena menghindari keributan alias pecah perang dunia. Namun lain halnya dengan Juminten,

“Ya Allah, ini apa-apaan ya? Kok tiba-tiba ada bangunan tembok pas di tengah jalan. Yu Romlah! Mak Krompyang! Ini maksudnya apa?” Suara Juminten dengan nada tinggi

Merasa dipanggil namanya, Yu Romlah dan Mak krompyang pun keluar rumah masing-masing sambil angkat bicara. Perang mulut pun tak dapat dielakan

“Stop, berisik! Masalahnya apa sih, kalau jalan kanan dan kiri rumahku dihadang begini, bagaimana aku bisa lewat? Aku gak mau tahu pokoknya sebelum adzan magrib tembok-tembok ini harus diruntuhkan, kalau masih tetap ngeyel saya telepon polisi saja.”

“Eh, ya gak bisa gitu Jum, tuh Mak Krompang gadis usia 73 tahun yang mengaku di Tik tok makhluk Tuhan yang paling seksi. Dia duluan yang bikin gara-gara.” Cerocos Yu Romlah.

“Eh, kamu Rom, kalau punya bibir buat ngomong yang hati-hati bukan bibir buat jalan diaspal jadinya jontor. Bukannya kamu yang nyolot. Dengki terus sama aku? Sudah jelas-jelas pak RT bilang sebenarnya yang dapat bantuan uang tunai 600ribu itu aku, karena aku termasuk manula yang harus ditanggung negara. Hanya saja salah data, eh jadi kamu yang sewot!” Mak Krompyang menangkis serangan dengan reflek tepat sasaran

“Halah, orang kalau jadi bunglon ya seperti sampeyan itu, Mak! Kalau masalah bantuan saja ngakunya manusia purba tapi giliran kalau ngevlog di Tik tok, wuih horor ngakunya gadis tajir usia 20 tahunan, padahal tuh kulit sudah jelas-jelas ngelipat-ngelipat seperti kain yang belum disetrika. Harusnya yang dapat bantuan itu aku, karena aku ini janda dan penghasilan menurun karena warungku jadi sepi sebab ada aturan PSBB dari pemerintah!”

“Tidak bisa! Tetap harus aku yang dapat.” ujar mak Krompyang ketus.

“Ih, memang sudah putus urat malunya. Masak ngaku tasnya Hermes 30juta tapi bantuan pemerintah masih ngarep juga.” Sindir yu Romlah mencibir.

“Hey, itu hak lku kenapa kamu jadi sewot?”

“Aku gak sewot, Mak. Semuanya fakta. Katanya perawatan giginya aja marmer bayarnya jutaan rupiah, memangnya wajan model sekarang bahan marmer? kenapa gak pakai teflon aja sekalian, kalau goreng telur tinggal copot aja tuh gigi buat ngosreng!”

Kondisi semakin memanas di antara masing-masing tembok yang dibangunnya terjadi hingga, bak! Buk … perang sandal dan kain jemuran pun dimulai, mulai dari gobal-gombal pel, kutang sampai baju daleman bolong-bolong berterbangan. Hal itu membuat Juminten yang posisi rumahnya tepat di tengah-tengah keduanya jadi ikut terpancing emosinya.

“Sudah! Kalian ini apa-apaan, kenapa gak sekalian tembok cina diboyong kemari. Wong tembok Berlin saja sudah dirobohkan, kok kalian mau bikin bangunan seenaknya. Ini jalanan umum bukan milik pribadi. Aku mau jalan jadi susah, ke kiri ada tembokmu Yu, terus kalau kekanan ada tembokmu Mak! Aku ini bidadari yang tak bersayap, jadi gak bisa terbang. Pokoknya aku gak mau tahu. Bongkar tembok ini. Lagian ini bulan puasa, masak yang tua-tua pada bertengkar apalagi meributkan yang gak jelas. Ingat Yu Romlah dan mak krompyang kalian harusnya malu, kondisi kaya punya mobil tapi masih ngaku miskin. Sedangkan aku, biar miskin dari keturunan tapi tetap punya harga diri gak mau jadi parasit bagi orang lain. Asal tahu saja emakku yang sudah meninggal 10 tahun yang lalu saja datanya bisa muncul, sedangkan aku yang masih hidup, sehat dan ayu gini gak dapat bantuan juga gak protes, yang mau ambil bagianku silahkan malah kurelakan. Hitung-hitung ada orang miskin mau kasih makan orang kaya yang masih kelaparan. Mau dapat bantuan atau pun tidak toh kita tetap butuh makan. Biarin aja, percuma kita saling menuntut karena nanti pasti ada balasan sendiri dari Allah bagi orang-orang yang tega mengambil hak orang lain. Sudah gak usah ribut, sekarang bubar!”

Tanpa ada suara Yu Romlah dan Mak Krompyang pun bubar memanggil beberapa warga untuk merobohkan tembok yang sudah dibangunnya masing-masing.

Ikuti terus di serial selanjutnya.