Oleh: Indah Yuliatik

Sudah dua bulan lamanya virus Covid 19 menjangkiti kota-kota di Jawa Timur. Hal ini mengakibatkan hampir seluruh kota di Jawa Timur berstatus zona merah. Zona merah ini menandakan bahw suatu kota memiliki pasien positif covid 19. Pembatasan wilayah pun terus diberlakukan. Social distancing salah satu cara yang ditempuh oleh pemerintah daerah dalam memberlakukan permbatasan wilayah. Termasuk kota Ngawi, yang sampai sekarang masih berstatus kuning dari wabah covid 19.

Dilansir dari laman berita faktual.com (22/4/2020). Hingga saat ini wilayah Ngawi memang bertahan dalam kondisi zero dari terpaparnya virus Covid 19. Hal tersebut tidak terlepas dari upaya yang telah dilakukan oleh Pemkab Ngawi dalam mencegah dan menangkal masuknya virus asal Cina itu.

Namun dari upaya yang dilakukan Pemkab Ngawi guna mencegah penyebaran virus Corona, ini berimbas kepada perekonomian masyarakat kecil. Dengan diterapkannya pembatasan berjualan hingga dilarangnya membuka usaha kecil telah dirasakan pada ekonomi warga tingkat bawah tersebut.

Memang setelah sekitar dua bulan diterapkan pembatasan atau social distancing, para pedagang tingkat bawah banyak mengeluh karena hidupnya penghasilan berkurang drastis, bahkan merugi. Padahal mereka hanya mengandalkan ekonomi keluarga dari hasil berjualan makanan dan minuman. Selain warung-warung mmakanan dan minuman, pertokoan yang tersebar di wilayah dalam kota Ngawi juga merasakan menurunnya omzet dari usaha retailnya tersebut.

Disisi lain pemerintah terus menerus mencoba meningkatkan perekonomian. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan, akibat virus ini, sepertiga dari 189 negara anggota IMF akan terimbas. Georgieva mengatakan IMF saat ini memprediksi pertumbuhan ekonomi global 2020 akan berada di bawah level 2,9% dan perkiraan revisi akan dikeluarkan dalam beberapa minggu mendatang.

Perubahan pandangan ini akan merepresentasikan lebih dari penurunan 0,4 poin persentase dari tingkat pertumbuhan 3,3% 2020 yang IMF perkirakan pada Januari berdasarkan meredanya ketegangan perdagangan AS-China.Georgieva dan Presiden Bank Dunia David Malpass menggarisbawahi pentingnya tindakan terkoordinasi untuk membatasi dampak ekonomi dan manusia dari virus. Reuters menyebut, IMF menyediakan dana senilai US$ 50 miliar dalam dana darurat untuk anggota yang mencakup pinjaman berbunga sangat rendah, sehingga dapat membantu negara-negara miskin dalam menghadapi pandemi corona. (kontan.co.id, 29/3/20)

Covid 19 berdampak mengerikan terhadap perekonomian hampir di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Pemerintah kalang kabut karena bayang-bayang resesi didepan mata. Nasib rakyat diujung tanduk antara hidup dan mati. Masyarakat kehilangan pekerjaannya, otomatis kehilangan penghasilan. Sektor riil inilah yang paling besar merasakan dampaknya. Jumlah masyarakat miskin melonjak tajam dalam kurun waktu 2 bulan ini. Bisa diprediksi, jika kasus kematian bisa berasal dari kelaparan, tidak hanya berasal dari covid 19.

Disituasi seperti ini, masyarakat terus dituntut untuk memenuhu kebutuhan hidupnya. Mereka terus bekerja dan berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Keluarga butuh makan sementara tidak ada jaminan bagi mereka. Hal ini bukam karena ketidak taatan masyarakat terhadap pemerintah. Namun karena tidak adanya tumpuan dari pemerintah.

Salah satu larangan yang diberlakukan pemerintah adalah tidak keluar rumah. Namung, sayangnya tidak dibarengin dengan pemberian solusi baginmasyarakat dalam masalah pangan. Program pemerintah untuk menolong sektor riil belum nyata adanya. Dana dari APBN tidak kuncung mengalir ke masyarakat. Sektor riil merupakan sektor yang paling jitu untuk mengatasi krisis. Sayangnya, pemerintah tidak peduli sama sekali.
Pemerintah lebih sibuk mengurusi sektor ekonomi nom riil seperti bursa saham, dengan menyuntikkan dana ke bursa efek yang diisi oleh para investor dari seluruh dunia. Mirisnya, pemerintah menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) demi mengucurkan dana bagi para cukong. Penanggung SUN ini jelas rakyat yang menanggung.

Pemerintah jelas-jelas memihak pada investor, bukan pada masyarakat. Pemerintah nampak mati rasa terhadap penderitaan masyarakat. Mereka sudah tidak bisa lagi menjalankan tugas mereka yaitu melayani masyarakat dengan memenuhi kebutuhan mereka. Inilah, efek oenerapan kapitalisme di negeri ini. Jabatan hanya digunakan sebagai jalan untuk mencari manfaat untuk diri mereka dan cukong mereka.

Harapan kosong jika disistem kapitalisme ini kita mendambakan pemerintah yang amanah. Hal ini akan terus berlangsung jika sistem kapitalisme masih mencengkeran Indonesia. Pemerintah yang amanah merupakan Pemerintah yang dicintai masyarakat dan masyarakat mencintai mereka seperti sabda Rasulullah SAW:
“Sebaik-baiknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun mencintamu, kamu menghormati mereka dan merekapun menghormati kamu. Pun sejelek-jeleknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun benci kepada kamu. Kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknatmu”(HR Muslim).

Dan Rasulullah SAW telah memberikan contoh terbaik kepemimpinan. Kemudian diikuti oleh Khulafaur Rasyidin. Salah satunya Umar Bin Khattab, dikisahkan Muawiyah bin Hudaij radhiallahu ‘anhu datang menemui Umar setelah penaklukkan Iskandariyah. Lalu ia menderumkan hewan tunggannya. Kemudian keluarlah seorang budak wanita. Budak itu melihat penat Umar setelah bersafar. Ia mengajaknya masuk. Kemudian berkata kepada Muawiyah, “Wahai Muawiyah, apa yang engkau katakan tadi ketika engkau mampir di masjid?” “Aku katakan bahwa Amirul Mukminin sedang tidur siang”, jawab Muawiyah. Umar berkata, “Buruk sekali apa yang engkau ucapkan dan alangkah jeleknya apa yang engkau sangkakan. Kalau aku tidur di siang hari, maka aku menelantarkan rakyatku. Dan jika aku tidur di malam hari, aku menyia-nyiakan diriku sendiri (tidak shalat malam). Bagaimana bisa tertidur pada dua keadaan ini wahai Muawiyah?”

Rakyat pun akan memaklumi keadaan itu dan juga kasihan kepada pemimpinnya, sehingga mereka rela jika Umar beristirahat. Tetapi Umar sendiri malah khawatir kalau hal itu termasuk menghalangi rakyatnya untuk mengadukan keinginannya mereka kepadanya. Umar berkata, “Jika ada seekor onta mati karena disia-siakan tidak terurus. Aku takut Allah memintai pertangung-jawaban kepadaku karena hal itu2.

Kepemimpinan seperti ini, tidak akan terwujud jika dalam diri pemimpin tersebut tidak menjadi Allah SWT sebagai penentu hukum dalam dirinya. Hukum pemerintahan yang diterapkannya pun, pasti bersumber dari hukum-hukum pencipta, Rabb seluruh alam.