Oleh: Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London)

Tak terasa Ramadan sudah masuk ke-19. Ramadan kali ini lebih banyak aku habiskan untuk membantu mengorganisir kajian online seminggu dua kali. Ditambah beberapa kajian tambahan yang mengharuskanku menjadi hostnya. Aktivitas menulis harian selama bulan Ramadan-pun masih berjalan meski aku hutang 3 tulisan. Terseok seok karena sudah kehabisan bahan. Semakin butuh waktu lama untuk menguntai sebuah tulisan. Tak apalah. Semakin keras suatu usaha semakin besar pahalanya.

Meski asyik asyik saja tinggal di rumah selama lockdown, namun efek sampingnya mulai terasa. Rasa jenuh mulai melanda. Butuh suasana baru yang memantik inspirasi. Kabar terakhir sepertinya lockdown akan segera berakhir. Semalam, perdana menteri Inggris Borris Johnson mengumumkan kalau lockdown akan dibuka pelan-pelan. Langkah pertama adalah meminta para pekerja pabrik dan konstruksi untuk kembali keluar rumah dan bekerja. Sedang yang bisa bekerja dari rumah, sebisa mungkin dirumah. Kalaulah harus keluar bekerja sebisa mungkin hindari pemakaian transportasi publik. Saran BoJo (Borris Johnson) adalah naik mobil atau sepeda. Hari Rabu akan mulai dibolehkan olahraga diluar rumah lebih dari sejam (selama ini hanya boleh maksimal 1 jam). Mulai hari Rabu juga dibolehkan bersosialisasi dengan 1 orang selain keluarga serumah. Itupun kalau bisa masih harus jaga jarak. Banyak keluarga yang tak bisa menengok kakek neneknya selama
lockdown. Mulai hari Rabu, hal ini dibolehkan, tapi harus satu orang, neneknya dulu atau kakeknya dulu. Entah bagaimana tehnisnya.

Di banyak media sudah muncul berbagai berita betapa membingungkan instruksi ini. pemerintah dinilai ‘play safe’. Tak mau disalahkan jika angka infeksi malah bertambah jika lockdown benar-benar dibuka. Disinyalir,awal bulan Juni, Sekolah SD akan dibuka untuk kelas tertentu saja. Sedang SMP dan SMA masih tetap harus belajar dirumah. Kapan dan bagaimana kedepannya. Masih banyak tanda tanya. Dan waktu terasa berjalan lambat ketika kita harus menunggu tanpa kepastian.

Ini mengingatkanku betapa tabiat manusia selalu meminta kejelasan. Tak ada yang senang dan sabar menunggu. Kadang kita lebih memilih kepastian yang menyakitkan daripada menunggu dan berharap tanpa kejelasan. Anehnya banyak hal didunia ini terutama masa depan yang tak pasti. Bahkan kapan kita mati-pun tak ada kepastian. Yang kita tahu: kita PASTI akan mati. Salah satu hikmahnya adalah supaya kita selalu siap sedia. Alert and aware. Hanya dengan modal itu kita bisa mengurangi resiko keburukan. Seperti halnya lockdown di Inggris, masyarakat menunggu-nunggu apakah sudah aman kembali bersosialisasi. Mereka bertanya tanya apakah virus corona sudah terkalahkan? Tapi nyatanya PM Inggris juga tidak tahu. Karenanya pesan yang ada hanya: Stay Alert.

Pedihnya menunggu, harap harap cemas sangat tertangkap dalam hadis panjang tentang hari penghisaban. Meskipun manusia tidak yakin kemana akhir dari nasib mereka, namun menunggu hari penghisaban lebih menyeramkan. Dikisahkan, mereka memohon beberapa Nabi untuk meminta Allah memulainya. Semua Nabi menolak karena mereka sendiri tidak yakin bagaimana nasib mereka. Hanya Rasulullah ﷺ yang setuju untuk memohonkan Allah سبحانه و تعالى menyegerakan hari penghisaban.
——-
Silahkan pelan pelan membacanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Saya adalah pemimpin semua orang pada hari kiamat. Tahukah kalian sebabnya apa? Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang akhir di suatu dataran tinggi. Mereka dapat dilihat oleh orang yang melihat dan dapat mendengar orang yang memanggil. Matahari dekat sekali dari mereka. Semua orang mengalami kesusahan dan penderitaan yang mereka tidak mampu memikulnya. Lantas orang-orang berkata, ‘Apakah kalian tidak tahu sampai sejauh mana yang kalian alami ini? Apakah kalian tidak memikirkan siapa yang dapat memohonkan syafaat kepada Rabb untuk kalian?’ Lantas sebagian orang berkata kepada sebagian lain, ‘Ayah kalian semua, Nabi Adam ‘alaihissalam’.

Mereka pun mendatangi beliau, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Adam! Engkau adalah ayah semua manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakanmu dengan kekuasaan-Nya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam tubuhmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan kepada malaikat untuk bersujud, sehingga mereka pun bersujud kepadamu. Di samping itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tempat tinggal kepadamu di surga. Sudilah kiranya engkau memohonkan syafaat kepada Rabbmu untuk kami? Bukankah engkau tahu apa yang kami alami dan sampai sejauh apa menimpa kami?’ Nabi Adam ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, Dia melarangku akan suatu pohon, tetapi saya berbuat maksiat. Diriku, diriku, diriku. Pergilah ke selain aku. Pergilah kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam’.
Lantas mereka mendatangi Nabi Nuh ‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nuh! Engkaulah Rasul pertama di muka bumi ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebut dirimu hamba yang banyak bersyukur. Bukankah engkau mengetahui apa yang sedang kita alami sekarang? Sudilah kiranya engkau memohonkan syafaat kepada Rabbmu untuk kami?’ Nabi Nuh ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, saya mempunyai suatu dosa mustajab yang telah saya gunakan untuk mendoakan kebinasaan pada kaumku. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam’.
Kemudian mereka pun mendatangi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, lalu mereka bertanya, ‘Wahai Ibrahim! Engkau adalah Nabi Allah dan kekasih Allah di antara penduduk bumi. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kami. Bukankah engkau telah mengetahui keadaan yang sedang kami alami?’ Lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sesungguhnya saya pernah berdusta sebanyak tiga kali. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Musa ‘alaihissalam’.
Selanjutnya mereka mendatangi Nabi Musa ‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Musa! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi keutamaan kepadamu dengan kerasulan dan kalam-Nya yang melebihi orang lain. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas Nabi Musa ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, saya pernah membunuh seorang manusia padahal saya tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Isa ‘alaihissalam’.

Setalah itu, mereka pun mendatangi Nabi Isa ‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Isa! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang diciptakan dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Engkau dapat berbicara dengan orang-orang ketika masih dalam buaian. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas Nabi Isa ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya.’ Nabi Isa tidak menyebutkan dosa yang diperbuatnya. ‘Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam’.

Lalu mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya mereka berkata, ‘Wahai Muhammad! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan penutup para nabi. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas saya berangkat hingga saya sampai di bawah Arsy. Kemudian saya bersujud kepada Rabbku. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala ajarkan padaku pujian-pujian kepada-Nya serta keindahan sanjungan terhadap-Nya yang belum pernah Dia ajarkan kepada selain diriku. Lalu dikatakan, ‘Wahai Muhammad! Angkatlah kepadamu. Ajukanlah permohonan, niscaya permohonanmu dikabulkan. Mohonlah syafaat, pastilah akan diterima syafaatmu.’ Selanjutnya aku mengangkat kepalaku, lalu saya berkata, ‘Ummatku, wahai Rabbku, umatku wahai Rabbku, ummatku wahai Rabbku!’ Lantas dikatakan, ‘Wahai Muhammad! Masukkanlah umatmu yang tidak peru dihisab dari pintu surga ke sebelah kanan. Mereka juga sama dengan orang-orang lain di selain pintu tersebut.’ Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Demi Dzat yang mengauasai diriku, sesungguhnya jarak anara dua daun pintu dari beberapa daun pintu surga sama dengan jarak antara Mekah dan Hajar atau antara Mekah dan Bushra’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Kisahmuslim.co.id

Ketidakpastian memang sulit. Menunggu memang susah. Tapi selama itu masih di dunia, tak masalah. Karena perjalanan belumlah final. Selepas ini masih ada perjalanan panjang. Sekarang, fokus saja dengan apa yang bisa kita lakukan. Wallahu’alam bishawab.[]

London, 12 Mei 2020
Ditulis di hari ke-19 Ramadan