Oleh: Desi Wulan Sari
(Revowriter Bogor)

Kemarin sore dengan suasana sedikit mendung, tiba-tiba dikejutkan oleh suara motor yang berhenti di depan rumah. Terdengar suara “Assalamualaikum” bergegas aku keluar melihat siapakah gerangan yang datang. Ternyata saudara jaun nih … Masyaallah, Nabila dan jagoan ciliknya yang datang, Aa Key (3 tahun). Waah senangnya kami didatangi sahabat rasa saudara nih.

Walaupun ada PSBB, silaturahmi tetap jalan, tapi tetap ingat dengan prosedur keamanan covid-19 lho. Pakai masker dan jaga jarak. Awalnya kami kira Bila, gegitu kami menyapa dirinya, akan stay sampai buka puasa tiba. Tapi ternyata setelah mengantar antarannya bila dan dan key lagsung mau pamit. MasyaAllah tabarakallah rizki memang tidak kemana, Allah atur sesuai dengan hak nya masing-masing. Sore itu Bila dan Key ternyata mengantar sekantong cabe merah buat kami, Alhamdulillah.

Sungguh Indah sebuah ukuwah jika didasari oleh keikhlasan dan kasih sayang, terlebih karena ikatan ukuwah Islam. Tak ada yang mampu menandingi rasa bahagia ikatan ukuwah Islam itu.


Rasul saw pun mengingatkan kita dengan keutamaan hadis-hadis dalam berukuwah, diantarnya:

  1. Mereka merasakan buah dari lezatnya iman. Sedangkan selain mereka, tidak merasakannya. Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:
    “ثلاثة من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا الله، وأن يكره أن يعود إلى الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يُقذف في النار”

“Ada tiga golongan yang dapat merasakan manisnya iman: orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari mencintai dirinya sendiri, mencintai seseorang karena Allah, dan ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci jika ia dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari)

  1. Mereka berada dalam naungan cinta Allah, Di akhirat Allah SWT berfirman,
    “أين المُتحابُّون بجلالي، اليومُ أُظِلُّهم في ظلي يوم لا ظلَّ إلا ظِلي”

“Di mana orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, maka hari ini aku akan menaungi mereka dengan naungan yang tidak ada naungan kecuali naunganku.” (HR. Muslim).

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam. bersabda,

“إن رجلاً زار أخًا له في قرية أخرى، فأرصد الله تعالى على مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فلما أتى عليه، قال: أين تريد؟ قال: أريد أخًا لي في هذه القرية، قال: هل لك من نعمة تَرُبُّها عليه؟ قال: لا، غير أنني أحببته في الله تعالى، قال: فإني رسول الله إليك أخبرك بأن الله قد أحبَّك كما أحببْتَه فيه”

“Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di sebuah desa. Di tengah perjalanan, Allah mengutus malaikat-Nya. Ketika berjumpa, malaikat bertanya, “Mau kemana?” Orang tersebut menjawab, “Saya mau mengunjungi saudara di desa ini.” Malaikat bertanya, “Apakah kau ingin mendapatkan sesuatu keuntungan darinya?” Ia menjawab, “Tidak. Aku mengunjunginya hanya karena aku mencintainya karena Allah.” Malaikat pun berkata, “Sungguh utusan Allah yang diutus padamu memberi kabar untukmu, bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana kau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim)

  1. Mereka adalah ahli Syurga di akhirat kelak. Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda,
    “من عاد مريضًا، أو زار أخًا له في الله؛ ناداه منادٍ بأنْ طِبْتَ وطاب مَمْشاكَ، وتبوَّأتَ من الجنةِ مَنْزِلاً”

“Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru, ‘Berbahagialah kamu, berbahagialah dengan perjalananmu, dan kamu telah mendapatkan salah satu tempat di surga.” (HR. At-Tirmidzi)

  1. Bersaudara karena Allah adalah amal mulia dan mendekatkan diri kepada Allah.

وقد سُئل النبي صلى الله عليه وسلم عن أفضل الإيمان، فقال: “أن تحب لله وتبغض لله…”. قيل: وماذا يا رسول الله؟ فقال: “وأن تحب للناس ما تحب لنفسك، وتكره لهم ما تكره لنفسك”

Rasul pernah ditanya tentang derajat iman yang paling tinggi, beliau bersabda, “…Hendaklah kamu mencinta dan membenci karena Allah…” Kemudian Rasul ditanya lagi, “Selain itu apa wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Hendaklah kamu mencintai orang lain sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri, dan hendaklah kamu membenci bagi orang lain sebagaimana kamu membenci bagi dirimu sendiri.” (HR. Imam Al-Munziri)

  1. Diampuni dosanya oleh Allah. Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda,
    “إذا التقى المسلمان فتصافحا، غابت ذنوبهم من بين أيديهما كما تَسَاقَطُ عن الشجرة

“Jika dua orang Muslim bertemu dan kemudian mereka saling berjabat tangan, maka dosa-dosa mereka hilang dari kedua tangan mereka, bagai berjatuhan dari pohon.”

Lihatlah sungguh indah ikatan ukuwah Islam itu, dimulai dari skala individu, masyarakat bahkan sampai negara. MasyaAllah.

Tak lupa saat Nabila dan Aa Key hendak pamit, akupun langsung melihat key yang sedang asyik melihat kotak mainan di rumah, langsung aku katakan, “Aa key karena sudah menjadi anak solih, boleh pilih satu mainan yang Aa mau yah.” Langsung dijawab Key “gak mau” hmmm… Tumben nih bilang gak mau. Ternyata key langsung tunjuk mau ini dan itu. Oooh ternyata key sudah pilih mainan favoritnya he he .. Masyaallah. Langsung aku bilang “ayo kita minta ijin dulu sama abang Fatih, kalo key mau dua mainan ini”. Setelah abang fatih ijinkan, akhirnya mainan nya boleh dibawa pulang.

Walau sedikit gerimis saat pamit, aku langsung berikan jas hujan untuk key supaya bisa terlindungi dari gerimis.

Tak mampu aku membayangkan betapa nikmat yang Allah telah berikan memiliki keluarga, sahabat, teman yang selalu ada untuk kita. Kasih sayang tidak harus ditunjukkan dengan sesuatu yang berlebihan. Ternyata dengan sekantong cabe merah kiriman sahabat ini saja, rasanya sudah bahagia luar biasa. Senyuman selalu melebar sore itu karena kedatangannya. Jazakillah khairan katsiiran pak Diki, Nabila dan Aa Key.

Akhirnya azan maghrib tiba, kami berbuka puasa dengan rasa bahagia menyambut ramadan penuh berkah. “Selamat Berbuka Puasa, Sahabat”.

Bogor, 11 Mei 2020