Oleh: Maman El Hakiem

Allah SWT menciptakan manusia,hidup dan alam semesta ini adalah satu paket yang serba terkait. Salah satu kemuliaan manusia, diciptakan hidup di alam dunia untuk memberikan berbagai manfaat kebaikan. Karena itu sebaik-baiknya manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Karena adanya interaksi manusia dengan manusia lainnya, maka diperlukan aturan dari Allah SWT agar ada kesamaan standar manfaat atau maslahat yang dimaksud, sebagai lawan dari mafsadat atau mudharat, sesuatu yang merusak atau bahaya.

Kemaslahatan adalah berbagai kebaikan yang sudut padangnya bukan karena hawa nafsu, karena itu sifatnya harus tetap, maka harus berasal dari sya byriat atau aturan Allah SWT. Faktor hawa nafsu yang ada pada manusia berfungsi sebagai pendorong kecenderungan manusia dalam mengiringi perbuatan baik atau buruk, karenanya nafsu harus terkendali agar menjadi faktor yang dapat membangkitkan semangat beramal kebaikan. Nafsu yang ada pada manusia terdiri dari nafsu amarah, nafsu lawamah dan nafsu muthmainah(ketenangan).

Ibadah sebagai tujuan diciptakannya manusia dan jin di dunia ini, juga harus disertai nafsu agar selalu besemangat,itulah nafsu muthmainah yang memberi efek ketenangan hati. Sedangkan hawa nafsu yang harus ditahan pada saat berpuasa, yaitu nafsu amarah, yaitu dorongan emosional yang dapat merusak pahala ibadah puasa,seperti menebar kebencian terhadap sesama saudara muslim dan memfitnah mereka yang taat syariah dengan segala tuduhan makar. Mereka yang bisa mengendalikan nafsu amarah ini akan bisa menempatkan kemarahan sesuai tuntunan syariah, yaitu marah ketika agamanya dihina atau dilecehkan.

Selain itu, ada pendamping hidup manusia agar hidupnya penuh dengan kebaikan, yaitu diberikannya jatah usia dan rezeki. Ketetapan Allah SWT ini diberikan saat manusia masih dalam kandungan rahim seorang ibu. Yang dimaksud usia adalah ajal atau batas akhir kehidupan, sedangkan rezeki adalah segala pemberian Allah SWT untuk mencukupi kebutuhan makhluk-Nya.

Manusia sebagai salah satu makhluk Allah tentu jatah rezekinya telah ditetapkan sampai tutup usianya. Karena itu berkurangnya rezeki seiring dengan berkurangnya jatah usia. Mereka yang menghambur-hamburkan harta, bahkan sampai membelanjakan hartanya pada sesuatu yang haram, sejatinya telah kehilangan makna rezekinya agar menjadi kebaikan, berupa amal shalih sesuai tuntunan syariah.

Rezeki manusia terdiri dari segala hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan hidup (hajatul udhawiyah) dan naluri (al gharizah) yang ada pada dirinya, maka rezeki bisa bentuknya materi dan non materi. Diberikannya jodoh dan anak adalah bagian dari rezeki,kenikmatan terhadap fasilitas gratis dari alam semesta juga termasuk rezeki. Namun, rezeki itu ada yang habis dipakai selama hidup manusia, seperti harta yang usang karena dipakai, ditinggal menjadi warisan, dan ada pula yang dibawa pulang setelah berakhirnya kehidupan dunia, menjadi pahala kelak di akhirat. Itulah pendamping hidup sejati, ketika manusia telah sukses menjalani tugas mulianya di dunia semata-mata untuk beribadah pada-Nya, saat rezeki dan usianya menjadi umur yang berkah,penuh dengan kemaslahatan dalam mencari ridlo Allah SWT.

Wallahu’alam bish Shawwab.***