Oleh : Umi Rizkyi (Komunitas Setajam Pena)

Dari hari ke hari semakin menjadi ulah perbuatan manusia. Lebih miris lagi ini dilakukan oleh umat muslim sendiri. Di tengah pandemi virus corona, semakin membuat orang”buta” menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan dan materi, kalau bisa sebanyak-banyaknya.

Seperti yang terkabarkan di media sosial yang lagi heboh dan cukup menggoncang dunia maya yaitu adanya penemuan 63 ton daging babi yang dijual ke pasar bak daging sapi terungkap media. Ada dua orang pengepul daging mengolah daging babi yang berwarna pucat menggunakan borak sehingga menjadi menyerupai daging sapi dengan warna merah dan dijual dengan harga daging sapi.

Dua oran pelaku yang berinisial Y dan M ini terungkap berpenduduk asli dari kota Solo yang mengontrak di Kota Bandung dan ternyata sudah satu tahun mereka melakukan aksi gilanya itu. Betapa tidak, berapa orang yang tertipu dan berapa banyak kaum muslimin yang memakan barang haram ini? Berapa banyak amal ibadah yang tertolak karena ketidaktahuannya mengonsumsi makanan yang haram ini.

Beginilah selama sekularisme masih bercongkol di negeri kita tercinta ini. Sudah wajar jika ada orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan dan materi. Di mana seperti kita ketahui bahwa sekulerisme adalah paham di mana pemisahan agama dengan kehidupan. Agama hanya dijadikan aturan dalam urusan ibadah saja seperti solat, zakat, puasa, haji dan lain-lain. Tidak diterapkan dalam kehidupan misal dalam pergaulan, jual beli, keluarga, bermasyarakat, bahkan bernegara. Diterapkannya aturan buatan manusia dalam kehidupan.

Di mana hal ini sesungguhnya hanya akan membawa kehancuran dan kebinasaan negeri ini sendiri. Tidak diherankan jika hal tersebut banyak dan menjamur terjadi di negara Pancasila Demokrasi ini.

Kemudian apakah ada kasus yang sama ketika negara diterapkan hukum Islam di bawah naungan khilafah ? Tidak dipungkiri bahwa hal itu akan terjadi di kala khilafah kembali tegak di atas bumi ini. Tetapi tidak akan liar dan menjamur seperti yang terjadi saat ini di negara kita tercinta ini yang menerapkan Pancasila Demokrasi yang terjadi bahkan dalam waktu yang lama sampai tahunan. Karena Khilafah setidaknya akan melakukan tiga hal yang harus ditegakkan oleh Khilafah.

Pertama, khilafah akan mendidik dan membina rakyat dengan berbagai tsaqofah Islam termasuk di bidang aqiqah dan makanan/minuman yang halal. Seperti firman Allah SWT yang artinya ” Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian ” TQS An-Nahl ayat 114.

Sehingga akan tercipta masyarakat yang bertaqwa dan sulit untuk mencari babi kecuali rumah-rumah non muslim yang menghalalkan babi dalam agamanya. Maka dengan keimanannya kepada Allah SWT seluruh rakyatnya tidak akan terpikirkan untuk melakukan hal tersebut walaupun kholifah atau orang utusan kholifah tidak mengetahuinya tapi mereka akan menyadari bahwa Allah mengetahui apa yang dia lakukan. Kholifah juga menjamin urusan rakyatnya baik pangan, sandang dan papan. Jadi buat apa melakukan pim pim pam, menyulap daging babi seakan daging sapi ?

Ke dua, Islam akan menerapkan subsistem Islam ( ekonomi Islam, yaitu khilafah akan menjamin kebutuhan dasar rakyatnya). Mulai dari sandang, pangan dan bahkan papan. Serta kebutuhan jasa dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Maka dari itu tidak akan ditemui kasus tersebut karena kebutuhan setiap rakyat dijamin oleh khilafah.

Ke tiga, menerapkan berbagai sanksi terhadap berbagai pelanggaran tersebut sesuai sistem Islam ( uqubah ). Di pasar-pasar akan ada qodhi ( hakin yang menangani hak-hak umum ) dengan kawalan polisi yang menyertainya. Melakukan sidak sesering mungkin. Misal, jika ada orang yang pim pom, menyulap daging babi seakan daging sapi bisa segera dideteksi dan ditindaklanjuti. Tidak akan terjadi lama bahkan tahunan seperti yang terjadi saat ini.

Qodhi akan segera menangkap dan menghukum pelaku kejahatan tersebut. Sehingga hak-hak umum akan kembali terlindungi. Hukumannya mulai dari dipermalukan, dicambuk bahkan sampai hukuman mati. Tergantung berat dan ringannya kejahatan yang dilakukan dan masing-masing peran orang yang terlihat dalam kejahatan tersebut. Semua penilaian dan keputusan hukuman diserahkan kepada ijtihad qodhi.

Dengan begitu maka orang yang melakukan kejahatan akan jera dan tidak mengulangi lagi serta memberikan pendidikan kepada yang menyaksikannya/ tidak melakukan agar tidak melakukan kejahatan yang serupa.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya yaitu jika pelakunya muslim dan dia bersedia dijatuhi hukuman sesuai hukum Islam dalam kasus kejahatan yang dilakukan maka Allah SWT akan dihapus dosa atas kejahatan yang dilakukan dan ia akan mendapatkan pahala atas kerelaannya di hukum dengan hukum Islam. Kalau hukum sekarang, apakah ada jaminan seperti ini?