Oleh : NS. Rahayu

Covid19 (Corona Virus Disease 2019) yang dikenal dengan nama corona berawal dari terdeteksinya 1 orang di pasar wuhan di bulan Desember 2019. Virus ini cepat sekali menyebar di china dan persebarannya meluas hingga hampir di 200 Negara, tak terkecuali Indonesia.

Data terbaru Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 per 1 Mei total orang terpapar Covid-19 mencapai 10.551 kasus di Indonesia. Ada kenaikan 443 kasus positif Covid-19 di Tanah Air. Jumlah pasien sembuh Covid-19 juga terus meningkat hingga mencapai 1.591 orang. Sedangkan total pasien meninggal berjumlah 800 orang. Merdeka.com (1/5/20)

Serangan corona ini membuat Negara kebingungan menghadapinya, nampak sekali kalau Indonesia tidak siap dan tidak memiliki persiapan yang mumpuni (dibanding negara2 lain). Mengingat jumlah kematian itu sangat besar dan cepat, hanya dalam kurun waktu 4 bulan (Januari, Pebruari, Maret,April).

Kapitalisme Ditengah Bantuan
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) adalah kebijakan yang di pilih rezim sebagai solusi mencegah dan memutus rantai covid19. Alih-alih menjadi solusi, kebijakan setengah hati ini justru mengesankan Negara lepas tangan dari tanggungjawab periayahan (pengurusan) terhadap rakyat. Rakyat dibiarkan melakukan lockdown mandiri ditengah ancaman wabah tanpa ada jaminan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Akibatnya kebijakan PSBB gagal total memutus persebaran corona karena masyarakat perlu memenuhi kebutuhan hidup mereka dan nekad menerjang bahaya bukan karena tidak tahu bahayanya tapi ada ancaman lain yang lebih mematikan yaitu kelaparan.

Sementara pelaku usaha sudah merumahkan dan mem PHK para karyawannya karena tidak ada kemampuan lagi untuk membayar. Hal ini menambah jumlah pengangguran dan berkorelasi dengan bertambahnya jumlah kemiskinan ditengah masyarakat.

Negara memang memberi bantuan-bantuan kepada rakyatnya namun bantuan itu justru membuat kegaduhan dan tidak bisa digunakan langsung menangkal kelaparan akibat kebijakan PSBB yang diberlakukan, antara lain dengan kartu pra Kerja bagi terdampak PHK dan pengangguran tapi bantuan hanya solusi akal-akalan yang menguntungkan para kapitalis. Karena hanya berupa pelatihan online berbiaya trilyunan yang bisa di dapat gratis di youtube.

Di tengah sulitnya ekonomi rakyat akibat corona Negara justru membuka pintu lebar2 dan memberi kesempatan bagi 500 tenaga kerja asing (TKA) China sementara tenaga lokal kehilangan pekerjaan dan tidak mampu menafkahi keluarga dan diri sendiri. CNN Indonesia (4/5/20)
Hal itu makin memperlihatkan bahwa negara abai dengan kesulitan rakyat dan justru lebih mementingkan para kapitalis. Sangat melukai hati rakyat.

Krisis Ekonomi di Depan Mata
Covid 19 memang telah melumpuhkan ekonomi Indonesia. Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) menyatakan akan ada peningkatan jumlah orang miskin dan pengangguran di tengah perebakan virus corona.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi jumlah pengangguran dan angka kemiskinan di Indonesia akan naik dengan jumlah warga miskin akan bertambah 3,78 juta orang dan pengangguran bertambah 5,23 juta orang. (VOAIndonesia.com 24/4/20)

Jika corona tidak segera berakhir dapat melumpuhkan perekonomian dan warning telah disampaikan secara umum. Dan rakyat menunggu uluran tangan dari Negara agar krisis ini tidak terjadi.

Bukan rahasia umum jika ketahanan dan kedaulatan pangan di negeri ini sangat lemah akibat lalainya negara mewujudkannya. Jika saat tidak terjadi wabah saja problematik pangan tidak terselesaikan, apalagi pada saat menghadapi pandemi, ketidaksiapan pemerintah makin terlihat.

Namun Negara justru memberikan ragam kebijakan sebagai solusi tambal sulam yang tidak sampai pada akar permasalahan sesungguhnya.

Solusi Islam Mengatasi Krisis di Tengah Wabah
Akar permasalahan sesungguhnya adalah tidak diterapkannya hukum Islam dalam mengatur tata kehidupan manusia. Islam adalah agama rahmatan lilalamin yang memiliki aturan sempurna sebagai solusi permasalahan yang ada. Termasuk cara-cara menghadapi wabah maupun krisis ekonomi.

Ketika terjadi thaun (wabah) khilafah melakukan metode karantina (lockdown). Rasullah, SAW bersabda : Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasukinya. Jika wabah terjadi di tempat kalian berada, jangan kalian tinggalkan tempat itu. (HR. Bukhari)

Hal ini karena penguncian total wilayah yang terkena wabah dengan segera, akan meminimalisasi penularan ke wilayah lain. Sehingga masyarakat yang berada di luar wilayah wabah tetap menjalankan aktifitasnya secara normal. Tentu ini akan mengurangi terjadinya krisis ekonomi, pangan, dsb.

Juga adanya konsep APBN Khilafah dimana pemasukan dan pengeluaran diatur berdasarkan syariah. Di antara sumber pemasukan adalah dari harta milik umum yang berlimpah seperti tambang, kekayaan laut, hutan, dsb yang dikelola secara mandiridan hasilnya untuk kesejahteraan warganegaranya. Kemudian harta-harta lain dari pungutan jizyah, kharaj, ghanimah, fai, dst.

Dengan kekayaan yang besar sangat memungkinkan Khilafah mengurusi hajat rakyatnya termasuk dalam kondisi pandemi secara menyeluruh.

Adapun ketika baitul maal kosong maka Kholifah selaku pemimpin global akan melakukan mobilsasi kepada para penguasa wilayah lainnya yang kaya untuk memberikan bantuannya.

Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Kholifah Umar bin Kharab, ra. Ketika wilayahnya mengalami krisis ekonomi yang membuat penduduknya terancam kematian, maka blio menyurati pemimpin wilayah lain dibawahnya (seperti surat kepada Amru bin al Ash gubernur Mesir) untuk mengirimkan bantuannya.

Dan dengan segera bantuan terkirim, semua itu terjadi karena ikatan ukhuwah Islam sehingga wilayahnya saling menopang dan kondisi krisispun segera tertangani dibawah ketaatan satu komando yaitu imam (kholifah). Wallahu’alam bi shawab